Tampilkan postingan dengan label HAMPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAMPA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2016

HAMPA part 4

Terakhir kali aku tertawa, saat aku bersamamu. Usiaku sekitar 7 tahun.  Menertawakan segala sesuatu yang berhubungan denganmu yang aku anggap aneh. Bahkan aku juga sering menertawakan gaya rambutmu yang terkesan unik tidak biasanya. Tapi itulah yang membuatmu berbeda. Apa kau ingat?
jam menunjukkan pukul 20.00, terlihat seorang kasir minimarket tengah sibuk menghitung belanjaan pembeli.
“255.000”. Ucapnya.
Si pembeli bergegas menyerahkan kartu kredit. Selang beberapa saat kemudian berlalu pergi.
“Anda sangat mirp dengan ibuku..”. Ucap kasir tadi yang tak lain adalah Nazwa berbicara pada dirinya sendiri sembari memandang lekat punggung si pembeli.
Sudah tiga tahun Nazwa bekerja disini. Karena kedua orang tuanya sudah tak ada, Ia pontang-panting untuk menghidupi diri sendiri. Orang tuanya meninggal tepat di ulang tahunnya yang ke tujuh. Perihal tentang kematian orang tua nya, tak ada seorangpun yang tahu. Sepeninggalan mereka, Nazwa sempat tinggal bersama pamannya di Medan selama setahun. Berhubung kondisi perekonomian pamannya memburuk, ia lalu dikirim ke Surabaya, tinggal bersama Om Seno sahabat akrab ayahnya semasa hidup dulu. Beliau sangat lah baik, Ia bahkan menganggap Nazwa seperti anaknya sendiri. Lalu setelah 6 tahun tinggal disana, Nazwa sendiri yang memutuskan untuk dikembalikan ke rumahnya yang dulu di Banjarmasin. Saat itu ia sudah berumur 14 tahun, mungkin pada saat itulah ia mulai sadar tidak ingin memberati Om Seno lagu. Om Seno terus membujuknya untuk tetap tinggal, tapi apalah daya keputusan anak sahabatnya itu sudah bulat. Tak bisa diganggu gugat. Dengan berat hati beliau melepas Nazwa dan mengantarkannya ke rumah tinggal Nazwa yang dulu. Rumah yang juga menjadi rumah Nazwa bersama kedua orang tuanya. Saat hidup sendiri inilah, Nazwa  memutuskan untuk bekerja, tak terpikir lagi dalam benaknya untuk melanjutkan sekolah. Toh, kalau Ia memaksa untuk bersekolah, siapa yang akan membayarsemua biayanya, tak usah jauh-jauh biaya sekolah, siapa juga yang akan membiayai makannya.
‘’Mba, Mba…’’
Nazwa tersadar dari lamunan. Sejurus memandang ke sumber suara.
“Dari tadi saya panggil, diem aja..” Pelangggan tampak kesal.
“Maaf” Jawabnya singkat, menunduk tak berani menatap mata pembeli sembari menghitung barang belanjaan pembeli itu.
‘’Semuanya 130.000.’’.
Wanita paruh baya itu mengeluarkan 2 lembar harga ratusan.
“Ini kembalianya.”
“Lain kali kalo kerja jangan banyak melamun, kesambet baru tau rasa, heah.’’ ucapnya sembari memasang ekspresi sangar.
‘’Terimakasih.” Nazwa masih menunduk.
Waktu terus berlalu, meniggalkan bayangan yang akan membuatmu takut untuk menengok kebelakang. Bahkan lebih dari itu, kau akan takut maju ke depan. Keraguan.
Andai waktu bisa diulang, aku akan lebih menghabiskan setiap detik dalam hidupku untuk bersamamu. Terus menempel seperti permen karet. Berapa kalipun kau mencoba menyingkirkannya. Aku akan tetap bertahan. Sebentar saja.
Berjemur dibawah bintang, sembari bernanung di bawah pohon Palm tidak buruk juga menurutnya. Berapa kali ia menengadah kelahit. Mencari bintang yang tampak terlihat terang.
---Apa sekarang kalian menjadi bintang----
Nazwa mengarahkan telunjuknya kelahit. Dan kadang melambai pelan. Membayangkan aka nada orang di atas sana sedang memperhatikannya. Ia berharap suatu saat nanti, ia pun akan menjadi bintang. Taka pa walau sinarnya redup, atau tak bersinar sekalipun. Akan selalu ada tempat untuknya di sana.
Tepat dibawah bukit yang sedang ia tapaki, seluruh kota Banjarmasin tampak gemerlapan dihiasi cahaya lampu. Gedung-gedung pencakar langit membiarkan dirinya terus dipandangi setiap orang yang lewat. Nazwa sama sekali tak tertarik untuk melihat itu. Ia lebih memilih menancapkan pandangannya ke atas langit. Membayangkan seberapa luasnya itu tanpa ada batas. Nazwa ingin menumpahkan seluruh rasa sakitnya di sana. Ganjalan yang terus manambat hatinya. Atau sampah yang menghalangi sinar hatinya.
---Tunggu aku disana---
Andre berbaring sembari menatap lukisan yang waktu itu Ia selesaikan. Tampak jelas tergambar seorang wanita dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai sedang berjemur di bawah sinar bulan. Dengan gaun berwarna putih seperempat. Disekeliling gadis itu background hitam ke biruan dengan paduan bunga tulip yang sedang Ia duduki. Ia terlihat jelas tersenyum, bersinar, mengalahkan kegelapan. –Nazwa.
‘’Tak peduli, kau yang asli atau hanya lukisan, saat melihatmu jantungku terus bergetar. Aku terus menahannya namun perasaan itu begitu kuat.”
Pria dengan mata onyx itu memejamkan matanya. Mencoba mencari suau jawaban. Atau lebih tepat, lari dari pertanyaan kuat yang terus menggelayuti fikiran.
---Tak tau pasti kapan perasaan ini dimulai, dan terus berlanjut----

Kamis, 04 Februari 2016

HAMPA part 3

Ruangan kelas terdengar riuh oleh suara siswa/i. Ada juga yang menyembunyikan wajah dibalik sebuah buku—tidur. Dan yang paling menyebalkan tentang sebuah kelas, ada beberapa orang yang jail terhadap temannya, yang pada akhirnya menimbulkan perang mulut. Saling beradu kata-kata, tak jarang juga berujung pada adu tinju. Andre menatap keluar jendela dari lantai 3 itu. Kebetulan tempat duduknya bersebelahan dengan jendela.
----Apa kau membenci keramaian, sehingga selalu berada di tempat itu?-----
Ia kemudian menoleh pada teman sebangkunya yang terlihat malas-malasan dengan membenamkan wajah pada kedua lengan.
“Tio” Ucap Andre pelan.
Orang yang dipanggil Tio tadi mendongak.
“Kenapa Ndre?’’
“Apa kau tau….” Andre terdiam tak meneruskan ucapannya.
“Tau apaan?..” Tio mengkerutkan alisnya.
Sementara Andre terlihat bimbang, ingin melanjutkan kata-katanya atau tidak. Terlihat jelas ada keraguan dimatanya.
“A..Anu..Apa….’’ ucapannya terhenti lagi. Lalu dengan cepat ia melontarkan sebuah pertanyaan.
“Apa disekolahan kita ada hantu?’’
Tio melongo mendengar penuturan Andre.
“Kamu ngigau ya, ah ganggu tidur orang aja..” Ia kembali melanjutkan aktifitasnya tadi.
Merasa telah gagal menanyakan hal yang sebenarnya, Andre hanya mendengus.
Ia menatap keluar jendela lagi, kali ini menatap langit.
---Tak peduli seberapa keras aku berfikir, aku semakin tak mengerti dirimu----
Bel berdering, siswa-siswi yang lain tampak mengangkat tas kepunggung mereka. Lalu satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan kelas. Andre ikut merapikan buku, sejurus berlalu pergi dengan sebuah buku besar yang Ia biarkan tetap di genggamannya.
-----Kenapa kau tidak ingin bersekolah?-----
Sebelum pulang kerumah, Andre sengaja singgah di sebuah kedai koffe dekat sebuah hutan lindung. Ia memesan coffie Amerikanu, setelah itu membaca buku yang sedari tadi ia tenteng.
----Apa itu memang keputusanmu atau ada yang lain?------
Andre tak benar-benar focus terhadap buku yang dia baja. Ia larit kedalam fikirannya sendiri. Lebih tepatnya buku itu hanya sebagai pengalih perhatian. Akan terlihat mencolok nantinya, apabila ada orang yang melihatnya melamun.
Fikiran Andre tersadar kembali setelah mendengar dering ponselnya, sebuah pesan.
From; Haris
Lo dimana Ndre?
Andre menekan ponselnya membiarkan setiap tombol yang ia tekan bersuara.
Di tempat nongkrong biasa, kalau mau kesini aja
Ponselnya bordering lagi.
Oke gue kesana ya, kebetulan gue lagi bawa pasukan nih.
‘’Heh, pasukan”. Andre mendesah pelan menanggapi pesan yang yang dikirim Haris. Ia kemudian membalasnya dengan satu kata singkat.
Sip
Tangannya menggapai coffe yang tadi Ia pesan, tak basa-basi lagi langsung meneguknya. Tiba-tiba Andre tersedak ketika melihat rombongan orang yang sekarang memadati kedai itu.
‘’Rombongan”. Bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
“Weis, sendiri aja kamu Ndre, gue kirain sama cewek lo tadi.” Ucap seorang wanita tingginya sekitar bahu Andre, dengan ranbut dikucir kuda.
“Udah jadi rahasia umum kale si Andre gak pernah punya pacar”. Sahut seorang lagi, kali ini Haris yang berbicara.
“Ndre, Ndre lo tampan iya, tajir iya juga, jago main basket lagi. Masa kaga ada yang kecantol ama elo..” Clara ikut meramaikan suasana.
Andre hanya terkekeh mendengar penuturannya.
“Gue jadi curiga, ajin-ajin lo punya kelainan”. Ucap Tio dengan polosnya.
Kali ini Andre tak bisa diam lagi.
“Enak aja, Kalau aku punya kelainan sudah dari dulu kali kamu aku peluk-peluk..”
Marissa, Candra, Akbar, dan Aji hanya ikut tertawa meski tak ikut andil dalam berdialog. Sekilas suasana kedai menjadi ramai, banyak hal yang mereka jadikan bahan perbincangan lebihnya lagi bahan tertawaan.
-----Apa kau punya teman?------
Kedai tak henti-hentinya ramai oleh canda tawa mereka, bahkan sesekali pemilik kedai ikut tertawa. Tampaknya beliau faham betul kalau sampai mereka—para pelanggan setia terkumpul maka akan menimbulkan berisik yang luar biasa.
------Pernahkah kau merasa seperti ini? Pernah kau kau tertawa lepas bersama temanmu. Pernahkah kau tertawa, Nazwa?------

Rabu, 03 Februari 2016

HAMPA part 2

Kau masih sama seperti dulu. Begitupun aku masih sama seperti dulu. Menatapmu dibalik bayang-bayang. Tanpa kau sadari. Aku selalu mengawasimu.
“Eh, kamu jadi ikut nggak?’’
“Aku nggak bisa ikut Al, masih ada yang harus aku kerjain”
“Yah, kirain bisa ikut. Oke deh kami pergi ya. Awas jangan nyesal lo”.
Ada sedikit kekecewaan di wajah Aldi karena tidak bisa mengajak Andre ikut main bowling. Padahal ia ingin sekali bertanding dengannya. Tapi apa boleh buat.
Andre hanya memberikan sesimpul senyum untuk melepas kepergian teman-temannya. Selain ada hal yang harus ia kerjakan, sebenarnya ia malas juga main bowling hari ini.
Andre memasang helm yang selaras dengan motornya –merah. Ia memutar gas, membiarkan ban motornya bergulat dengan jalanan beraspal.
Setelah memarkirkan motor du garasi, Andre langsung masuk rumah, menuju ke ruang pribadinya untuk melakukan hal yang harus ia lakukan tadi. Ia menyalakan lampu, membiarkan benda- benda yang ada diruangan itu terekpos dengan jelas. Ada banyak papan berukuran sekirar 1 x 1 m atau 1 x 2 m yang ditutupi kain putih. Andre mengambil senjata dan beberapa amunisinya untuk berperang-----kuas dan spidol warna---. Ia membuka sebuah papan yang tertutup oleh kain putih tadI yang ternyata sebuah lukisan yang belum jadi. Andre kembali merapalkan senyum pada lukisan itu, seolah tengah tersenyum kepada seseorang. Ya, seseorang.
Ia kemudian mengambil bangku kecil tak bersandaran, sama seperti bangku para pelukis umumnya. Dan yang lebih lagi, ia memiliki tangan seorang pelukis, dan hati seorang pelukis.Tangannya meluncur gemulai diatas kanvas. Ia tampak serius, dan lagi sorot mata itu, bukan sorot mata yang dimiliiki seorang Andre. Ia menjadi orang lain saat ini.
------Bisakah kau mengenalku?---------------

“Kau tau kenapa angin tak bisa dilihat tapi kau bisa merasakannya?”
“Kalau angin berbentuk , ya namanya bukan angin”
“Lebih dari itu, apa kau tahu alasannya?’’
“Tidak tahu, kenapa juga aku harus tahu?”
“Ia menjadi sebuah lambang. Untuk menjadi berguna kau tidak harus menampakkan diri. Biarkan orang lain terbantu olehmu, tapi mereka tak pernah tau siapa dirimu”
“Itu konyol, siapa juga yang mau melakukan hal semacam itu”
“Akan selalu ada orang seperti itu”

Saat aku ingat semua kenangan itu, aku semakin kehilangan diriku, aku menjadi orang lain, dan bahkan pada waktu-waktu tertentu, aku tidak tahu aku ini siapa. Seperti yang pernah kau bilang. Hampa.
Hari berlalu seperti biasa, tak ada yang spesial, suasana begitu sunyi hanyaterdengar burung layang-layang berkicau. Meski kicauannya tak semerdu burung Jalak. Dibawah jendela lantai dua itu, terlihat hamparan rumput duri yang berjejer rapi, membuat orang yang melihatnya tak tahan untuk merebahkan diri disana. Mesti hanya sejenak.
Lain halnya dengan Nazwa, ia sudah terbiasa memandang rumput yang menghijau bak permadani itu, jadi tak menimbulkan kesan yang berarti. Ia lebih memilih menyibukkan dirinya memetik senar getar. Sesekali ia bersenandung, menumpahkan segala perasaannya bersama dengan lagu yang Ia yanyikan. Begitu menyayat.
-----Aku memang tak membenci manusia, tapi sebagai gantinya, aku malas berhubungan dengan mereka-------
Wanita berusia tak lebih dari 17 tahun itu memang tak banyak bicara. Nazwa menghabiskan hampir seluruh usianya sampai pada saat ini berdiam di rumah, atau paling tidak keluar sebentar untuk mencari udara segar. Mengunjungi danau untuk menulis hal yang biasa ia tulis, atau kepuncak bukit untuk menyatu dengan alam. Setidaknya dengan begitu Nazwa tidak merasa kesepian. Ada kupu-kupu yang mengudara atau kumbang yang tengah sibuk menggoda bunga.
Itulah sebabnya Ia tak punya teman. Kenangan masa lalu sudah cukup membuatnya trauma tentang arti pertemanan.

Aku tidak mengerti siapa dirimu, atau karena memang aku tidak ingin mengerti kamu. Oleh sebab itu mulai sekarang aku akan mencari tahu
Andre memutar kepalannya menimbulkan suara patahan. Sudah lima jam sejak pertama ia menggoreskan kuas, sekarang jelaslah bentuk dari objek yang ia lukis. Sangat indah, denga tidak terlalu banyak bermain warna tapi tetap terkesan berani. Ini bukan hanya tentang objek yang Ia lukis, tapi ia melukis perasaannya. Perasaan yang terus tersembunyi, tertutup rapat dari khalayak setidaknya untuk sekarang. Sebagaimana tentang kelihaiannya dalam melukis ini, tak ada seorang pun yang tahu.
Pria dengan tubuh sekitar 174 cm itu menempatkan lukisan yang baru ia selesaikan di kamarnya, menandakan bahwa lukisan itu berbeda dari yang lain.
Setelah meletakkan lukisan itu, Andre menancapkan gas sepeda motornya, menuju ketempat yang biasa ia datangi untuk melihat seseorang. Ya, hanya melihat, bukan menemui.
Ia menelisik dari balik semak, mengawasi apakah orang yang ingin ia lihat telah ada disana, seperti hari-hari biasa. Seseorang itu ada disana. Melemparkan kerikil-kerikil ke dalam danau, bersamaan dengan melemparkan perasaannya. Andre terus mengawasi, sesekali Ia seperti tertular perasaan itu. Menyesakkan dan perih.
------Tak peduli siapa kau bagiku, tapi aku dapat merasakannya-----
Tak jarang juga Andre memalingkan wajahnya, tak kuasa melihat air mata yang menetes dari orang itu. Tapi Ia hanya berdiam, mengepalkan genggamannya pada ranting pohon.
-----Haruskah aku selalu disini untuk melihat tangismu? Tak bisakah aku kesana dan meminjamkan telingaku untuk kau curahkan semua perasaanmu, dan untuk meminjamkan bahu ku untuk mu bersandar?-----

Selasa, 02 Februari 2016

HAMPA part 1

“Lihat disana , itu hampa”
‘Ah, mana?’
“Coba lihat yang betul!’’
“Sudah, nih mataku sudah kubuka lebar-lebar”
“Dasar idiot, siapa yang menyuruhmu membuka mata, sekarang tutup matamu!’’
“Kau yang idiot, kalau menutup mata apa yang bisa dilihat”
‘’Sudah tutup saja!’’
“Dasar menyebalkan, iya nih aku tutup mata”
“Sekarang kau melihatnya?”
“Gelap, aku tidak melihat apa-apa, bahkan diriku sendiri’’
“Kau menemukannya. Saat kau tidak bisa mengetahui siapa dirimu, itulah hampa”
Aku terdiam mendengar tutur katanya. Dia aneh. Selalu saja menjadi orang aneh.


Sebuah bola pimpong menggelinding lembut, di sebidang tanah yang agak berlumpur. Pada akhirnya bola itu menyentuh tumit kaki seorang gadis. Ia tersenyum, lalu membungkuk untuk mengambil bola kemudian melemparkannya kepada pemilik bola tersebut.
“Terimakasih’’ Ucap orang yang diberi lemparan, ia juga tersenyum menampakkan gigi-gigi putihnya.
Gadis tadi hanya mengangguk, sejurus kembali melangkahkan kakinya, sebelumnya ia sempat melontarkan senyum lagi pada pria pemilik bola pimpong itu.
Si pria masih mematung, memandangi punggung gadis yang meninggalkannya.
‘’Kesambet kamu Ndre?’’
Pria yang dipanggil Andre tadi menoleh kea rah sumber suara.
‘’Ah, ngga..” Balasnya. “Ayo, kita main lagi’’
Andre merangkul punggung kawannya tadi, kembali ke pertandingan pimpong yang mereka mainkan.
­-----Kau masih sama seperti dulu, Nazwa----------


Dia, orang itu… Ia menghilang, menyisakan kenangan manis di dalam benakku. Aku selalu ingat setiap kata-kata aneh yang dia ucapkan. Bahkan aku juga ingat bagaimana caranya berjalan, bagaimana ia tersenyum malu, atau caranya memandang langit. Aku ingat semuanya. Tapi ada satu hal yang tidak aku ingat, bagaimana cara kau menghilang?
Nazwa menutup notebooknya, bolpoint hitam masih menempel di tangan, yang kemudian ia lemparkan sebagai perwakilan perasaan yang tengah berkecamuk di dadanya. Terlihat setelah itu mata beningnya sembab, ia menangis sebagai seorang wanita.
Nazwa mengangkat tubuh, sejurus mengambil kembali bolpoint yang ia lemparkan, kemudian menggoreskannya di secarik kertas.
Wherever you are, I believe you still here
Kertas yang berisi sebuah kalimat tadi dilipatnya. Dibentuknya menjadi sebuah Perahu kecil. Kakinya bergerak mendekati danau, lalu membiarkan kapal itu dicumbu air. Matanya menatap lekat keperahu itu, sebelum akhirnya karam, tak ada lagi dipandangan matanya, sama seperti seseorang yang dikiriminya surat itu, tak ada lagi di pandangan matanya. Lenyap.
Tak sadar, sedari tadi Nazwa diawasi oleh seseorang bermantel hitam sengaja tutip mantelnya menutupi kepala bagian atas, ada satu hal yang mencolok, matanya setajam elang.
Nazwa menarik diri dari danau itu. Ia melangkah sangat tenang, membiarkan angin membelai rambutnya yang dibiarkan terurai itu. Panjangnya sepinggang tak berfoni seperti ia masih kecil dulu. Sekarang  Ia sudah berubah menjadi wanita dewasa. Meski tak benar paham arti kedewasaan.
Sekitar setengah jam berjalan, Nazwa sampai di sebuah bangunan gaya minimalis bercatkan putih polos, dengan ornament abu-abu disudut-sudutnya. Besarnya sekitar 20 x 30 m, dengan dua lantai yang dibiarkan semirip mungkin. Nazwa merogoh kunci di kantong jaketnya kemudian masuk ke rumah itu.
Sepi
Tak ada siapa pun dirumah, selain lukisan besar yang terpajang di ruang tamu, gambar sepasang paruh baya tengah berfoto formal seorangnya lagi adalah anak gadis berumur sekitar 7 tahun dengan sebuah senyuman yang mengambang di wajahnya.
Nazwa menerawang jauh, ia lupa kapan tepatnya ia bersama kedua orang tuanya itu, minta dilukis. Yang ia ingat hanya, orang yang melukis lukisan itu. Fauzan.


Ia tak banyak bicara. Kalaupun ia bicara, ia hanya akan mengatakan hal yang tak bisa aku fahami. Setidaknya saat itu. Sekarang aku mulai mengerti setiap kata yang Ia ucapkan. Hal yang membuatku semakin merindukannnya. Aku ingin menemuinya dan mengatakan bahwa aku sudah mengerti.. Tapi semuanya terlambat. Kalau tahu kau akan menghilang, aku akan mendengarkan semua ucapanmu, bukannya menutup telinga, atau pura-pura tak mendengar seperti dulu. Atau yang lebih jauh lagi aku merekamnya, agar bisa kuputar disaat seperti ini.
Nazwa larut dalam pikirannya, sembari menatap langit-langit yang berwarna coklat muda itu.
----Nazwa, apa benar aku Nazwa?-------

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...