Sabtu, 06 Februari 2016

A Gentle Woman Pearl


A Gentle Woman Pearl

Desember 2010
                Aku selalu melihatnya, membawa pentungan siap menghajar anak gang seberang. Dengan mata yang berkilat tajam, aku yakin tidak ada keraguan disana. Ia menyunggingkan senyum kecut yang menurutku itu sangat keren. Perlahan ia mengangkat tangan kiri yang terpampang kokoh sebuah pentungan. Kuku-kuku panjangnya terlihat mengkilat dibias sinar mentari yang saat ini tepat berada di atas kepala. Ia melangkah.
Selangkah
Dua langkah
Semakin cepat menghantam kawanan berandal kecil di lapangan golf. Tidak ada perlawanan, lebih tepatnya mereka tidak bisa melawan singa betina yang sedang meraung itu. Sesekali terdengar raungan mereka.
“Auw…”
“Sakit…”
Mataku semakin liar mengamati mereka. kulihat wajah gadis itu tetap datar. Sementara tepat di hadapannya terpampang suatu pemandangan yang mengerikan. Para berandal itu tumbang oleh seorang gadis. Ya gadis.
                Hanya perlu waktu setengah jam untuk membuat 7 anak lelaki berusia sekitar 13 tahun rata-rata itu tumbang. Seorang gadis yang mendapat julukan The Monstral and Red Devil itu kembali menunggingkan senyum sinisnya.  Ia sukses.
                Tanganku serasa bergerak sendiri ingin tepuk tangan, tapi segera kutahan. Jika mereka menyadari kehadirinku disini, bisa-bisa aku jadi opor ayam. Mengerikan.
                Gadis itu kembali ketempat semula, bermukim ke pepohonan pinus. Hampir saja ia menabrakku yang tengah menenggelamkan wajah dibalik semak belukar. Peluh keringat sedikit mengucur di pelipisnya. Sejenak gadis itu berhenti, matanya terlihat sedang menelisik sela-sela rumput.
                “Aaaa….”
                Tangannya secepat kilat mencengkeram kerah bajuku.
                “Apa yang kau lakukan?!” ucapnya dengan penuh penekanan.
                “A..aku..tidak..aku sedang mencari ranting pohon untuk dibuat ketapel..”
                Gadis bertopi katun itu menghempasku ke tanah lembek yang tertutup lumput kering, sejurus langsung berbalik menjauh. Meskipun dilihat dari tekstur wajah kami tampak seumuran, tetapi ia lebih tinggi dariku. Ya dariku, yang hanya seorang anak lemah berkepribadian penakut bin pengecut.
                Sejak saat itu aku selalu memperhatikannya.
“ Aku, Andre Bigantara umur 12 tahun selalu memperhatikanmu.”
***
Februari 2015
                Dari balik dinding gang pertigaan, mataku menyimpit melihatnya menahan rasa sakit. Sekujur tubuhnya berdarah dan semburat biru dijidatnya.Sesekali ia meringis sembari mendongak menatap hamburan bintang.
                Untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihatnya tersenyum. Tersenyum tulus. Sinar bulan menyelami wajahnya.
                Sial
              Semakin aku mengenalnya semakin aku tidak mengerti dirinya. “Kenapa? Kenapa kau tersenyum sekarang, saat ini? Bahkan saat kau menumbangkan pria-pria brengsek itu, kau hanya menunggingkan bibir sinis. Tapi ini, tubuhmu terluka, kau malah tersenyum begitu murni?
                Seberapa banyak pun aku berfikir yang ada hanya kebuntuan. Aku tidak pernah hadir lagi di iris kelam mu itu. Kau bahkan tidak menyadari bahwa aku ‘ada’.
                Aku selalu memperhatikanmu.
                Seorang pria yang selalu memperhatikanmu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...