Aku
selalu melihatnya, membawa pentungan siap menghajar anak gang seberang. Dengan
mata yang berkilat tajam, aku yakin tidak ada keraguan disana. Ia
menyunggingkan senyum kecut yang menurutku itu sangat keren. Perlahan ia
mengangkat tangan kiri yang terpampang kokoh sebuah pentungan. Kuku-kuku
panjangnya terlihat mengkilat dibias sinar mentari yang saat ini tepat berada
di atas kepala. Ia melangkah.
Selangkah
Dua langkah
Semakin cepat menghantam kawanan
berandal kecil di lapangan golf. Tidak ada perlawanan, lebih tepatnya mereka
tidak bisa melawan singa betina yang sedang meraung itu. Sesekali terdengar
raungan mereka.
“Auw…”
“Sakit…”
Mataku semakin liar mengamati
mereka. kulihat wajah gadis itu tetap datar. Sementara tepat di hadapannya
terpampang suatu pemandangan yang mengerikan. Para berandal itu tumbang oleh
seorang gadis. Ya gadis.
Hanya
perlu waktu setengah jam untuk membuat 7 anak lelaki berusia sekitar 13 tahun
rata-rata itu tumbang. Seorang gadis yang mendapat julukan The Monstral and Red
Devil itu kembali menunggingkan senyum sinisnya. Ia sukses.
Tanganku
serasa bergerak sendiri ingin tepuk tangan, tapi segera kutahan. Jika mereka
menyadari kehadirinku disini, bisa-bisa aku jadi opor ayam. Mengerikan.
Gadis itu
kembali ketempat semula, bermukim ke pepohonan pinus. Hampir saja ia menabrakku
yang tengah menenggelamkan wajah dibalik semak belukar. Peluh keringat sedikit
mengucur di pelipisnya. Sejenak gadis itu berhenti, matanya terlihat sedang
menelisik sela-sela rumput.
“Aaaa….”
Tangannya
secepat kilat mencengkeram kerah bajuku.
“Apa
yang kau lakukan?!” ucapnya dengan penuh penekanan.
“A..aku..tidak..aku
sedang mencari ranting pohon untuk dibuat ketapel..”
Gadis
bertopi katun itu menghempasku ke tanah lembek yang tertutup lumput kering,
sejurus langsung berbalik menjauh. Meskipun dilihat dari tekstur wajah kami
tampak seumuran, tetapi ia lebih tinggi dariku. Ya dariku, yang hanya seorang
anak lemah berkepribadian penakut bin pengecut.
Sejak
saat itu aku selalu memperhatikannya.
“ Aku, Andre Bigantara umur 12 tahun selalu
memperhatikanmu.”
***
Februari 2015
Dari
balik dinding gang pertigaan, mataku menyimpit melihatnya menahan rasa sakit.
Sekujur tubuhnya berdarah dan semburat biru dijidatnya.Sesekali ia meringis
sembari mendongak menatap hamburan bintang.
Untuk
pertama kali dalam hidupku, aku melihatnya tersenyum. Tersenyum tulus. Sinar
bulan menyelami wajahnya.
Sial
Semakin
aku mengenalnya semakin aku tidak mengerti dirinya. “Kenapa? Kenapa kau tersenyum
sekarang, saat ini? Bahkan saat kau menumbangkan pria-pria brengsek itu, kau
hanya menunggingkan bibir sinis. Tapi ini, tubuhmu terluka, kau malah tersenyum
begitu murni?
Seberapa
banyak pun aku berfikir yang ada hanya kebuntuan. Aku tidak pernah hadir lagi
di iris kelam mu itu. Kau bahkan tidak menyadari bahwa aku ‘ada’.
Aku
selalu memperhatikanmu.
Seorang
pria yang selalu memperhatikanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar