Ruangan kelas terdengar riuh oleh suara siswa/i. Ada juga
yang menyembunyikan wajah dibalik sebuah buku—tidur. Dan yang paling
menyebalkan tentang sebuah kelas, ada beberapa orang yang jail terhadap
temannya, yang pada akhirnya menimbulkan perang mulut. Saling beradu kata-kata,
tak jarang juga berujung pada adu tinju. Andre menatap keluar jendela dari
lantai 3 itu. Kebetulan tempat duduknya bersebelahan dengan jendela.
----Apa kau membenci keramaian, sehingga selalu berada di
tempat itu?-----
Ia kemudian menoleh pada teman sebangkunya yang terlihat
malas-malasan dengan membenamkan wajah pada kedua lengan.
“Tio” Ucap Andre pelan.
Orang yang dipanggil Tio tadi mendongak.
“Kenapa Ndre?’’
“Apa kau tau….” Andre terdiam tak meneruskan ucapannya.
“Tau apaan?..” Tio mengkerutkan alisnya.
Sementara Andre terlihat bimbang, ingin melanjutkan
kata-katanya atau tidak. Terlihat jelas ada keraguan dimatanya.
“A..Anu..Apa….’’ ucapannya terhenti lagi. Lalu dengan cepat
ia melontarkan sebuah pertanyaan.
“Apa disekolahan kita ada hantu?’’
Tio melongo mendengar penuturan Andre.
“Kamu ngigau ya, ah ganggu tidur orang aja..” Ia kembali
melanjutkan aktifitasnya tadi.
Merasa telah gagal menanyakan hal yang sebenarnya, Andre
hanya mendengus.
Ia menatap keluar jendela lagi, kali ini menatap langit.
---Tak peduli seberapa keras aku berfikir, aku semakin tak
mengerti dirimu----
Bel berdering, siswa-siswi yang lain tampak mengangkat tas
kepunggung mereka. Lalu satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan kelas.
Andre ikut merapikan buku, sejurus berlalu pergi dengan sebuah buku besar yang
Ia biarkan tetap di genggamannya.
-----Kenapa kau tidak ingin bersekolah?-----
Sebelum pulang kerumah, Andre sengaja singgah di sebuah
kedai koffe dekat sebuah hutan lindung. Ia memesan coffie Amerikanu, setelah
itu membaca buku yang sedari tadi ia tenteng.
----Apa itu memang keputusanmu atau ada yang lain?------
Andre tak benar-benar focus terhadap buku yang dia baja. Ia
larit kedalam fikirannya sendiri. Lebih tepatnya buku itu hanya sebagai
pengalih perhatian. Akan terlihat mencolok nantinya, apabila ada orang yang
melihatnya melamun.
Fikiran Andre tersadar kembali setelah mendengar dering
ponselnya, sebuah pesan.
From; Haris
Lo dimana Ndre?
Andre menekan ponselnya membiarkan setiap tombol yang ia tekan
bersuara.
Di tempat nongkrong
biasa, kalau mau kesini aja
Ponselnya bordering lagi.
Oke gue kesana ya,
kebetulan gue lagi bawa pasukan nih.
‘’Heh, pasukan”. Andre mendesah pelan menanggapi pesan yang
yang dikirim Haris. Ia kemudian membalasnya dengan satu kata singkat.
Sip
Tangannya menggapai coffe yang tadi Ia pesan, tak basa-basi
lagi langsung meneguknya. Tiba-tiba Andre tersedak ketika melihat rombongan
orang yang sekarang memadati kedai itu.
‘’Rombongan”. Bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
“Weis, sendiri aja kamu Ndre, gue kirain sama cewek lo
tadi.” Ucap seorang wanita tingginya sekitar bahu Andre, dengan ranbut dikucir
kuda.
“Udah jadi rahasia umum kale si Andre gak pernah punya
pacar”. Sahut seorang lagi, kali ini Haris yang berbicara.
“Ndre, Ndre lo tampan iya, tajir iya juga, jago main basket
lagi. Masa kaga ada yang kecantol ama elo..” Clara ikut meramaikan suasana.
Andre hanya terkekeh mendengar penuturannya.
“Gue jadi curiga, ajin-ajin lo punya kelainan”. Ucap Tio
dengan polosnya.
Kali ini Andre tak bisa diam lagi.
“Enak aja, Kalau aku punya kelainan sudah dari dulu kali
kamu aku peluk-peluk..”
Marissa, Candra, Akbar, dan Aji hanya ikut tertawa meski tak
ikut andil dalam berdialog. Sekilas suasana kedai menjadi ramai, banyak hal
yang mereka jadikan bahan perbincangan lebihnya lagi bahan tertawaan.
-----Apa kau punya teman?------
Kedai tak henti-hentinya ramai oleh canda tawa mereka,
bahkan sesekali pemilik kedai ikut tertawa. Tampaknya beliau faham betul kalau
sampai mereka—para pelanggan setia terkumpul maka akan menimbulkan berisik yang
luar biasa.
------Pernahkah kau merasa
seperti ini? Pernah kau kau tertawa lepas bersama temanmu. Pernahkah kau
tertawa, Nazwa?------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar