Tampilkan postingan dengan label Around the Land. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Around the Land. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2016

Around the Land chapter 3

                Suzi dan Kara telah sampai di kota. Mereka duduk di pohon Akasia besar berdiameter sekitar 1 meter, letaknya tepat di tengah-tengah keramaian. Suzi menyandarkan tubuhnya ke pohon  itu, ia kemudian mengambil bungkusan kain hitam dari balik baju oranye nya.
                “Kau selalu membawanya..’’ Kara yang duduk tak jauh dari Suzi menatap lekat bungkusan di tangan Suzi. “Ya, karena ini satu-satunya yang bisa mengingatkan aku padanya..” matanya menerawang jauh. Kara kemudian mendekat kea rah Suzi lalu ikut menyandarkan tubuh ke pohon itu. “Orang yang kau tunggu itu?”
“Ehm…” ia menyimpan bungkusan di tangannya kembali ke tempat semula. Rambutnya yang dibiarkan tergerai di belai angin. Sinar bulan merembes mengenai wajah mulusnya, dengan hidung mancung, mata hitam indah dan bibir merah merekah. Tak heran jika pria yang kebetulan lewat sana tak bisa melepas pandang dari Suzi. Namun orang yang dipandang asik dengan pikirannya sendiri. Bukan hanya tentang itu, tapi ada seorang lagi yang terus melekat dalam fikiran Suzi. Seseorang yang lebih dulu ia khawatirkan, ia rindukan, bahkan sebelum ia mengenal Kara dan Ibu Kara yang sekarang menjadi ibu angkat Suzi.
                Kara tak bertanya lagi. Ia juga tak pernah tahu siapa orang yang selalu di tunggu Suzi. Entau wanita atau pria, jika telah sampai waktunya, mungkin ia akan bertemu sendiri dengan orang itu. Tak lama, pikiran Kara kembali terpusat ke pada Ibunya. Sejenak ia berpikir, kenapa harus mencari ke kota? Diantara berpuluh-puluh kampung, kenapa memilih kota sebagai tempat yang diyakini tempat ibunya menyelamatkan diri.
                Suzi membuka mata dan langsung bangkit berdiri.
                “Jangan buang waktu lagi, kita harus segera menemukan ibu.” Kara menyusul bangkit. Langkah pertama yang mereka ambil adalah bertanya pada orang-orang disana perihal ibu mereka. tak tanggung-tanggung mereka juga memperlihatkan lukisan wajah wanita yang dicari itu. Mulai dari jalanan merembet ke rumah-rumah dan penginapan.
                Banyak diantara orang yang Kara dan Suzi temui tidak tahu menahu, atau lebih tepatnya tidak ada yang tahu. Entah karena tidak pernah bertemu dengan ibu mereka atau karena terlalu sulit membedakan wajah seseorang diantara banyak orang saat ini.
               Suasana kian sepi karena pestiva kembang apil sudah usai. Orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Lilin di jalanan pun dimatikan sehingga membuat suasana semakin mencekam.  Kunag –kunang juga tak terlihat berkeliaran seperti malam-malam biasanya. Untungnya bulan bersinar terang menunjukan sebagian tubuhnya pada dunia.
                Tepat dibawah sinar bulan terlihat muda-mudi dengan tatapan putus asa menyusuri rerumputan ilalang setinggi lutut mereka. “Aku anaknya seharusnya aku bisa merasakan kehadirannya.” Kara melepaskan tinjunya pada sebatang pohon pinus tepat di sebelah kanan pemuda itu. Suzi menggeming, membisu dalam diam, membiarkan dirinya seolah angin yang tak melihat ulah saudara angkatnya itu. Ia jelas tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga, terlebih seorang Ibu. Ibu Suzi meninggal saat melahirkan adik perempuannya. Sempat ia marah pada adiknya itu, tapi seiring berjalannya waktu ia sadar. Perasaan sebagai seorang kakak yang membuatnya bisa untuk memaafkannya.
                Kara masih memukulkan tangannya, ia terluka sebagai seorang pria, sebagai seorang anak yang tidak bisa melindungi ibunya sendiri. Apa katan ayahnya di sana jika ia melihat anaknya sebegitu tidak berguna seperti ini. Air mata mulai mengalir dari sudut mata pria itu, bukan hanya air mata, darah di mata tangannya juga mengalir.
                “Hentikan!” Suzi menatap sinis pada Kara, namun Kara tak menggubrisnya. ‘’Aku bilang hentikan!” Ia meninggikan suara bersamaan dengan pria disebelahnya yang menjatuhkan diri menyatu dengan tanah. Tangan Kara masih di genggamkan, tak peduli dengan darah merah yang menyelimuti tangan itu.
                “Apa dengan membuat tangan mu berdarah ibu akan kembali?” Suzi tak mengalihkan pandangannya dari mata kelam Kara. Orang yang di pandang hanya menunduk lesu setelah sempat membalas tatapan Suzi.Tentu pertanyaan itu hanya berupa pernyataan, sesuatu yang tak perlu di jawab sehingga Kara tak susah-susah membuka mulutnya –berbicara. Ia mengangkat tubuhnya, membuat Suzi sedikit terkejut, ‘’Kita cari Ibu ke istana.” Wanita di sampingnya itu hanya mengangguk, ia dapat melihat kesungguhan terpampang jelas pada ekspresi Kara.
                Dengan satu lompatan tinggi mereka berdua dapat menerobos dinding istana yang terbuat dari beton arania itu. Penjagaan istana tak begitu ketak tampaknya, sehingga Kara dan Suzi dapat leluasa menarikan langkahnya di halaman Istana. Ada sebuah kolam, lebih tepatnya menyerupai danau tepat berada di tengah-tengah istana dengan warna dasar merah tua. Ada beberapa pohon persik di sekitar danau, tentu menjadi ciri khas sebauh istana. Karena konon persik adalah symbol kemakmuran dan ketentraman. Dari pintu gerbang sampai seluruh bagian istana di hiasi lampion oranye, membuat istana mencolok dari luar dengan cahaya terang yang menyelimutinya. Begitu indah dipandang dari kejauhan namun tetap saja, tempat ini tak terbuka untuk umum, membuat rakyat biasa hanya meneguk liur untuk menyentuh ornament-ornamen di tempat ini.
                “Cih..jadi ini yang namanya istana. Suatu tempat kotor yang dibangun atas penderitaan rakyat.” Kara menyapukan pandangannya menatap tempat yang begitu luas ini. Suzi meletakan telunjuk pada bibirnya, mengisaratkan pada Kara untuk tak bersuara karena tepat dua meter dari mereka ada beberapa pengawal istana ya ng tengah berpatroli. Spontan kedua orang itu bersembunyi di balik sebuah patung singa tak jauh dari danau.Mereka mulai mengendap-endap untuk melaksanakan tujuan awalnya. Memasuki bilik demi bilik, mulai terlihat suasana istana yang begitu ramai. Di dapur tersedia berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan pokok sampai kue yang tingginya dua depa. Para pelayan istana kebanyakan berasal dari kaum hawa yang rata-rata memiliki faras yang menawan bak bidadari bumi. Mereka bertebaran sesuai tugasnya masing-masing.
                Langkah Kara dan Suzi terhenti pada sebuah aula besar di sebelah barat. Di dalamnya terlihat beberapa orang yang berumur rata-rata di atas setengah abad tengah memperbincangkan sesautu. Hal itu menarik minat kedua pemuda-pemudi itu. Topik awalnya tidak begitu menarik, sehingga hampir saja Suzi beserta Kara beranjak dari aula seluas setengah hektar itu, namun niat itu di urungkan. Mereka mulai memasang kuping kembali saat salah satu orang di dalam menyebut kata Kudo. Suzi terkejut mendengarnya, tak sengaja ia mengeluarkan suara dan membuat orang dalam ruangan menyedari ada yang menguping pembicaraan mereka. dengan cepat mereka keluar, untungnya Kara dan Suzi sudah bersembunyi di tempat lain.
               “Brengsek, jadi pihak istana bersekongkol dengan Raikudo?” seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi, Kara melontarkan pertanyaan pada Suzi. Ekpresi Suzi kali ini tegang, namun tak sampai menutupi kecantikannya. Ia juga tak percaya, “Kita harus member tahu Paman Chu.’’ Suzi tampak menggigit bibirnya.
                “Besok kita kirimkan surat padanya...” Kara sedikit berfikir, “…malam ni kita cari Ibu dulu.”
Mereka bertatapan sesaat sebelum akhirnya berpencar.
***
                “Belum tidur Yoon?” ibu Yui menghampiri Yoon yang sedang duduk di balkon rumah. Yoon sedikit terkejut dalam salah tingkah saat mengetahui wanita itu mendekat ke arahnya.
                “Aku tidak bisa tidur” ia tersenyum sebentar sejurus melemparkan pandangannya lagi ke langit menatap susunan rasi bintang. Ibu Yui memperhatikan lekat wajah anak muda di depannya ini. Hal ini di sadari oleh Yoon, ia kemudian menoleh ke arahnya. Dalam tatapan mata itu Yoon seakan bertanya ‘ada apa’.
                “Jika dilihat dari wajahmu, kau akan sangat cantik, jika kau seorang wanita.” Mata teduhnya menelisik tiap rincian wajah Yoon. Yoon jadi sedikit gugup. Ia kemudian mencairkan suasana dengan tawa kecilnya, “Ya, jika aku seorang wanita..” ia mengkerutkan bibirnya, lalu mengambil nafas dalam. “Ayahku bilang aku mirip dengan ibuku. Tapi sayangnya, aku tidak sempat melihat wajah ibu. Apa dia cantik? Seperti apa kecantikannya?” Yoon seperti hanyut dalam kata-katanya sendiri. “Tapi, aku tampan kan?” Ia melepas tawa yang ia lontarkan biasanya. “Tentu saja, kau sangat tampan.” Ibu Yui membalas dengan kehangatan kata-katanya,
                “Ya, Yoon, kau sangat tampan.” Yui bersandar di bibir pintu, tersenyum aneh membuat mata sipitnya menjadi hilang.
                “Dasar anak ini, sejak kapan kau ada di sana?”
                “Ba..baru saja, bu.” Semburur merah mulai mewarna pria setinggi 174 cm itu, rambutnya yang acak-acakan di biarkan seadanya, ujung kepalanya hampir saja menyentuh ujung pintu.
                “Hei, kau, seharusnya kau bilang bahwa kau lebih tampan daripada aku.” Yoon ikut menatap Yui. Kali ini Yui yang di buat salah tingkah. Lalu dengan kalimat yang belum selesai dan terbata-bata ia kembali masuk rumah. Menhindari hujaman tatapan yang di arahkan padanya. Ibu Yui bangkit berdiri untuk masuk rumah, sebelumnya ia menyarankan Yoon agar tidak terlalu lama di luar. Yoon mengiyakan, selang lima belas menit saat ibu Yui masuk rumah, ia pun menyusul.
Selamat malam ayah. Tidur yang nyenyak, jangan khawatirkan aku.
***
                Suzi memeriksa di sebelah kiri bagunan istana, membuatnya tak sengaja menemui Tsui dan anak buahnya yang mayoritas wanita. Kontan saja, Suzi disergap, ia membalas dengan tatapan sinis.
                “Apa yang menerbangkan bunga mawar sampai kesini..” Suzi menatap tajam kearah Tsu, ‘’Itu bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Tsu yang sedari tadi bersandar pada dinding bangunan, kemudian menegakkan tubuhnya. Dengan ekspresi tenang dan seakan tak ada beban ia semakin mendekati Suzi. “Semenjak kau melangkahkan kaki ke sini, kau menjadi urusanku.” Tatapan yang tak bisa terbaca kembali Tsu lontarkan oada lawan bicaranya. Sementara yang lain hanya diam tak bersuara.
                “Aku tak punya waktu untuk bermain-main.” Suzi mencoba  kabur, namun langkahnya di tahan oleh anak buah Tsu, lima orang wanita dengan baju serempak berwarna hijau. Pertarungan kecilpun sempat terjadi. Tsu hanay menonton, tak ambil adil dalam pertempuran. Kungfu Suzi cukup hebat juga sehingga bisa menghadapi jumlah lawan yang tak seimbang.  Pada serangan penutup, ia menggunakan tenaga dalam yang terkenal dengan sebutan tapak perak bayangan, membuat lawannya terpontang-panting, kesempatan itu ia gunakan untuk kabur.
                Tsu tak juga beranjak dari tempat duduknya ketika melihat Suzi yang semakin menjauh. Dari awal sepertinya pria itu ingin menguji kemampuan Suzi saja.
                Dilain tempat, kara juga sedang berhadapan dengan Bwe Tiau, salah satu dari lima pelindung istana. Tentu kungfunya tidak perlu di ragukan lagi, sejauh ini Kara hanya bisa menghindar dari serangan Bwe tanpa bisa melancarkan serangan balasan. Sempat beberapa kali serangan Bwe kentara mengenai dirinya, membuat tubuhnya berbenturan dengan kerasnya tembok.
                Untung saja tak lama setelah itu Suzi datang, denga  satu kali gerakan ia melemparkan jarum api—tenaga dalam, kepada Bwe. Serangan itu cukup telak juga, Bwe terpaksa menahan jurus Suzi dengan perisai sukma, di saat itu lah Kara kabur dengan jurus peringan tubuh, dan di susul oleh Suzi. Mereka akhirnya keluar dari istana.
                “Kau menemukan ibu? Ucap Kara, nafasnya sedikit tercekat bukan hanya pelarian tadi, tapi juga karena jurus peringan tubuh yang ia gunakan. Tak biasanya Kara menggunakan jurus ini, karena akan berakibat pada penurunan tenaganya. Kalau bukan karena kondisi mendesak, tentu ia akan lebih memilih untuk berlari.
                Suzi menggeleng menanggapi pertanyaan Kara, ‘’Bagaimana denganmu?” kali ini ia yang balas bertanya. Sama seperti Suzi, Kara juga menggeleng, kata terasa sulit keluar dari mulutnya sekarang ini. Lalu dengan suara yang di paksakan ia kembali bertanya, “Lalu, kita harus mencari kemana lagi?” sejurus ia merebahkan dirinya di rerumputan. Posisi mereka saat itu telah jauh dari istana, dan dekat dengan rumah pendudul lebih tepatnya di tanah lapang.
“Entahlah.”
“Jangan-jangan ibu sudah…” ia sedikit pasrah kali ini dengan perkataannya, namun sebelum ia menyambung, Suzi  memotong, “Tidak. Ibu masih hidup, aku yakin itu.”
                Angin malam serasa menyayat persendian, terlebih lagi bagi orang yang tak memiliki rumah seperti mereka.





               
               

Senin, 08 Februari 2016

Around the Land chapter 2

Kara menatap serpihan terakhir rumahnya yang dilalap api. Tempatnya bernaung, semua kenangan yang ada di dalamnya lenyap seketika. Kembali, mata Kara tampak berkilat tajam.
                “Mereka akan membayar semua ini.”
                Langkah kaki terdengar kemudian. “Tak ada yang selamat.” Ucap Suzi.
                “Lalu apa sekarang?” Kara menjatuhkan lututnya menyentuh lantai. Ia sudah kehilangan jalan hidup. Terlebih saat Ibunya  tak tahu ada dimana sekarang.
                “Kita harusmencari ibu, entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ibu masih hidup.’’
                Pria disebelahnya hanya diam, Kara lalu meraup butiran pasir. “Kemana kita harus mencarinya..”
                “Ke kota. Satu-satunya tempat yang aman adalah di keramaian. Kurasa kota jawaban yang tepat.”
                Kara hanya mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya berdiri. “Ayo kita pergi”.
****
                Buukk..
                “Mengurus tiga orang peyot saja tidak becus..” ia sukses mendaratkan pukulan ke tubuh anak buahnya.
                “Bukan begitu tuan, dijalan tiba-tiba ada seorang pemuda yang menolong mereka. Ilmu silatnya sangat tinggi..
                BUUKK..
                Komandan mereka memukul lagi, kini lebih keras.
                “Seorang, hanya seoRANG!! Sedangkan kalian berlima. Apa selama ini aku memperkerjakan sampah Hah!”
                “Dia terlalu sakti bagi kami..” Seseorang yang bertubuh lebih kekar dari yang lain dengan perawakan tinggi dan otot yang menonjol  memberanikan diri untuk berucap.
                “Katakan, siapa dia..”
                “Dia bilang, namanya Yoon, pendekar dari Laut Selatan.”
                “Yoon si pendekar laut selatan..” Ia tampak berfikir, “Aku baru kali ini mendengar nama itu. Tapi kalau pendekar Laut Selatan itu adalah Qyu Juqo. Apa Yoon itu sudah tua? Tanyanya lagi.
                “Tidak ia masih sangat muda.”
                “Hmm.. Masih muda ya.” Komandan yang belakangan diketahui bernama Jing Ming itu mengelus jenggotnya. “Seorang anak muda tetapi memiliki ilmu silat tingkat tinggi, ia pasti ada hubungan dengan Qyu Jugo. Tidak bagus kalau berurusan dengan orang itu.” Ia berhenti sejenak, “Kalian semua pergilah, kumpulkan lahi informasi mengenai Twejinggu.”
                “Baik..”
                Kawanan berbaju hitam itu menghilang dengan cepat, meninggalkan pemimpin mereka sendirian, berpegut gemelut dengan fikirannya.
                “Yoon.. Aku akan mengingatnya.”
****
                Kembang api merajai langit malam, ditambah lagi riau-riuh orang-orang yangmemadati kota malam itu. Ada yang asik menawarkan barang dagangannya. Ada yang sibuk melihat-lihat. Ada juga yang mempertontonkan aksi silatnya untuk mendapatkan Zara.
                “Jadi ini yang namanya kota seperti yang diceritakan Nona Xiao Jie.Wah, orangnya banyak sekali.” Yoon tampak melihat-lihat, jubah hitamnya ia tanggalkan di lenngannya agar dapat berbaur dengan yang lain. Matanya tertuju pada tumpukan buah persik yang mengingatkannya dengan tempatnya berasal. “Ayah maafkan aku.”
                “Hah.. Sudah kubilang ini daerah kekuasaanku.” Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya membuat suatu perkara.
                “Kurang ajar, kau hanya memutuskan secara sepihak.”
                “Kalau begitu kita tunjukkan mana yang terkuat.” Tanpa basa-basi pria itu menendang lawan bicaranya.
                Semua aktifitas lain terhenti. Orang-orang tengah memperhatikan kedua pria itu bertarung. Diantara gerombolan itu, terlihat Yoon juga menonton.
                ‘’Ternyata ini benar-benar kota..” Ia menggelengkan kepala spontan kemudian berlalu pergi menuju kedai makanan. Cukup sederhana dengan meja dan kursi kayu yang tergores oleh pedang. Menjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian.enjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian. Benar saja selang beberapa menit setelah pesanan Yoon disajikan, tengah terjadi pertarungan sengit di kedai itu. Cuma berhalat beberapa buah meja dari tempatnya duduk. Pelanggan yang lain menjauhkan diri sementara Yoon tetap dikursinya, tak bergeming sedikitpun. Ia asik sendiri dengan mie tiram panas di hadapannya. Sesekali beberapa buahpiring melesat ke kepala pemuda itu. Namun, ia dapat menghindari tanpa menoleh kepiring itu. Usai makan Yoon berlalu pergi dengan meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
                “Kenapa orang di kota suka sekali bertarung..” Gumamnya heran, karena ini pertama kalinya ia ke kota, lebih tepatnya pertama kalinya ia melihat dunia luar.
Degub
                Seseorang menabrak Yoon.
                ‘’Maafkan aku..Maafkan aku..Aku memang bodoh, aku memang bodoh..” Ucap orang itu sambil membungkuk beberapa kali.
                Yoon tampak heran, lalu sedikit menyeringai, “Tidak papa, kau tidak perlu menyalahkan dirimu segitunya...”
                “Tidak, aku memang bodoh, itulah yang selalu mereka katakan kepadaku..”
                Mendengar itu Yoon hanya mengerutkan bibirnya.
                “Lalu kalau aku katakan kau kambing, maka kau akan menganggap dirimu kambing? Heih, dasar aneh..”
                “Ya, aku aneh..”
                “Aneh..Aneh..Aneh..”
                “Ya..Aku aneh..Aku aneh..Aku aneh..”
                Apa-apaan orang ini, apa kalau aku katakan ia kambing ia benar akan merasa dirinya kambing?
                “Kau memang benar-benar aneh Ya.. Sini kepalamu..’’
                Pria itu memegangi kepalanya. “Ada apa dengan kepalaku?’’
                “Aku akan memeriksanya, apakah sarafmu ada yang terkilir..” Yoon kemudian mendekat.
                “Memangnya bisa?”
                “Ah. Tenang saja. Aku ahli dalam hal-hal seperti itu, sini!”
                Ia mendekat, tapi Yoon bukannya memeriksa kepalanya malah memukul kepala orang itu.
                “Aduhh.. kenapa kau memukul kepalaku?”
                “Mengobatimu. Nah mulai sekarang kau akan kembali normal.”
                “Uhm, benarkah?” Ia tampak berfikir.
                Yoon menepuk bahu pria itu “Tentu saja, siapa namamu?”
                “Namaku Yui, tapi orang-orang biasa menyebutku bodoh.”
                “Ah lupakan itu, aku akan memanggilmu Yui dari sekarang.Namaku Yoon.”
                “Yoon artinya perisai kan?”
                “Binggo, tapi bisa juga diartikan pelindung. Nah kau mengerti bahasa Tylame, berarti kau tidak bodoh.”
                Yui hanya tertawa. Mereka kemudian berjalan pelan. Yoon sedikit menggamit tangan Yui, seakan meyakinkan Yui sesuatu.  “Kalau mereka masih saja memanggilmu bosoh, pukul saja kepala mereka seperti ini.” Yoon meninjukan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya.
                Yui menunduk, memandang jalan bebatuan yang mereka pijak. “Aku tidak berani.” Suaranya terdengar sangat lemah sampai Yoon dibuat geram karenanya. Yoon menatap mata Yui lekat, mencari kebenaran dibalik mata hitam legam itu. ‘’Kenapa harus takut?itu salah mereka juga kan? Emangnya kau tidak bisa kungfu?’’ pemuda berbaju coklat itu meninggikan suaranya.
                “Aku tidak bisa.’’ Ungkap Yui enteng, Ia sempat menendang sebuah batu kecil yang hampir mengenai kaki orang lain yang berada di tempat itu. Sebuah kota yang kebetulan tengah mengadakan pesta kembang api. Jadi tak usah heran jika tempat ini jejal di penuhi oleh  orang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, tengah baya, sampah orang tua tak ketinggalan.
                Yoon tertawa getir. Baru kali ini ia bertemu dengan pemuda sepolos ini. Apalagi mengangkut masalah kebisaannya dalam kungfu. Biasanya orang akan mati-matian menutupi bahwa ia tidak bisa menggunakan kungfu. Terlebih kepada orang yang baru dikenal. Tidak menutup kemungkinan, kejujuran seperti itu dapat membahayakan nyawa sendiri.
                “Fuuh.. dengan kungfu kau bisa melindungi dirimu dan orang lain. Kenapa kau tidak ingin belajar kungfu hah? Kalau begini lidahku jadi gatal ingin mengataimu bodoh!..” ia menatap tajam pada pemuda disebelahnya. Yui masih menunduk, membuat separuh wajahnya tertutupi oleh rambut. Ia kemudian berhenti, mendongakkan kepala menatap langit hitam yang saat ini dipenuhi oleh kembang api. “Ayahku mati…” ia memejamkan matanya, mengingat kejadian dua belas tahun silam. “Saat itu desa kami diserang oleh kelompok berjubah hitam. Mereka bahkan tak membawa senjata, tapi entah kenapa dari jarak jauh mereka bisa menjatuhkan orang-orang dewasa pemberani yang mencoba melawan. Aku sangat heran, mata kecilku mencoba memperhatikan dengan seksama kalau-kalau mereka menggunakan senjata rahasia. Tapi ayahku bilang itu adalah tenaga dalam—kungfu. Mendengarnya membuatku semakin heran, kata kungfu tak pernah ku dengar sebelumnya. Apa sebenarnya kungfu itu? Dan aku yakin semua warga di desa juga tidak tahu. Setelah mengatakan itu, ayahku tersenyum sebentar, menatapku dalam, seakan ada pesan yang ia sampaikan lewat tatapannya. Setelah mengelus kepalaku, ia pergi menghampiri orang-orang berjubah hitam itu. Ayah dan mereka sempat berbincang sebentar, dari balik jendela rumah aku tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan, selain kata ‘Zynju’. Perhatianku teralihkan oleh pemandangan yang membuat mataku terbelalak. Ayah dan para penjahat saling serang, tak hanya adu pukul, beberapa kali ada semburat ungu dan merah menyelingi pertarungan mereka. ayahku melayang seakan berdiri di atas angin. Lalu dengan sigap ia merapalkan tangan di depan dadanya. Dalam satu tarikan nafas, muncul cahaya kebiruan yang memajang sehingga mengenai para pria berjubah hitam itu sehingga membuat mereka tumbang. Ayah menginjakkan kakinya ke tanah lagi. Itu adalah keputusan terburuk yang pernah ayah lakukan, salah satu dari mereka menusukkan belati perak tepat ke jantung ayahku. Ayahku mati. Sekarang aku tahu satu hal tentang kungfu, kungfulah yang membawa ayah ke kematiannya. Aku sempat ingin mempelajarinya untuk membalas dendam ayah, tapi ibu melarangku. Ia bilang tak ingin kehilanganku seperti ia kehilangan ayah.”
                Dalam hati Yoon tergugah mendengar cerita Yui. Tapi tetap saja menurutnnya seseorang harus bisa menguasai kungfu, setidaknya untuk penjagaan diri. Ia sempat ingin membujuk Yui atau lebih tepatnya memaksa. Namun entah kenapa niat itu ia kubur dalam-dalam. Karena yang menyuruh Yui untuk menjauhi kungfu bukan berasal dari diri Yui sendiri tapi dari ibunya.
                Yoon menarik nafas panjang. “Ah..kasian sekali kau. Aku juga sudahkehilangan ibuku. Dan ayahku, ia sangat menyebalkan’’. Ia mengerutkan ujung bibirnya. Yui spontan menatap Yoon. “Eh..kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Bagaimanapun dia itu ayahmu.” Yoon tak begitu menanggapi, ia memutar bola matanya. “Ya..ya..ya..tuan yang baik. Lalu sekarang kita mau kemana..?”
                Yui memicingkan matanya, lalu tiba-tiba tersenyum aneh. “Aku akan memperkenalkan kau dengan ibuku. Dia adalah wanita tercantik di dunia..” orang disebelahnya mendengus kecil, “Ha.. aku tidak sabar menemuinya.’’
                Seperti yang dikatakan Yui mengajak Yoon menemui ibunya. Yui bilang ibunya menjual buah persik tak jauh dari sana. Kembang api masih meletup-letup di langit. “Sebenarnya benda di atas sana apa?” kali ini Yoon yang tampak seperti orang bodoh. Ia mengacungkan telunjuknya pada kembang api yang bersinar warna-warni. “Tentu saja itu kembang api. Bukankah ini pestival kembang api.”
“Tidak ku sangka aku bisa melihatnya, dari dulu aku sangat menunggu hari seperti ini.” Yoon bergumam pelan membuat Yui mendekatkan telinganya. “Apa yang kau katakan..” Balasnya. “Tidak ada.” Yoon mempercepat langkah melewati kerumunan orang.
‘’Ma..maafkan saya tuan, tapi saya belum punya uang..’’ wanita tua itu bersimpuh memeluk kaki seorang pria berbaju biru kelam. Dagangannya diobrak-abrik oleh beberapa orang, dari pakaiannya dapat dipastikan bahwa mereka prajurit istana. Kecuali pria yang dipeluk kakinya oleh wanita tua tadi.
                Hal itu menarik perhatian Yoon, ia mematung sesaat sebelum panggilan Yui menyadarkannya. “Hei..Yoon, kau cepat sekali.’’ Pandangan Yui teralih pada wanita tua itu lalu berlari ke arahnya. “Ibu..apa yang terjadi?” ia mengangkat tubuh ibunya untuk berdiri. ‘’Ada apa ini bu?’’ Yui terlihat sangat panik, namun ibunya masih belum bisa menjawab pertanyaan putranya itu.
                Yoon menyusul, “Apa yang kalian lakukan, apa kalian tidak malu melawan wanita yang tidak berdaya?!” Ia mengacungkan mata kea rah prajurut istana.
                Atasan mereka yang belakangan di ketahui bernama Tsui menjadi lawan Yoon berbicara. Pembawaannya tenang, tapi dimatanya terlihat jelas kharakter aslinya. ‘’Wanita ini tidak membayar pajak istana.’’ Jawab orang itu, singkat padat dan ringkas. Yoon menimpali, “Bukankah pajak bisa di bayar nanti, mungkin saat ini ibu itu lagi tidak mempunyai uang.”
“Kalau dibiarkan, kas istana akan kosong.” Orang-orang semakin merapat, kembang api tak lagi dihiraukan.
“Apa kas Negara hanya di dapat dari sektor pajak saja hah?! Bukankah masih banyak lagi. Hasil penjualan rempah-rempah, perekrutan prajurit, deposito pejabat. Bukankah istana seharusnya menjamin kesejahteraan rakyatnya? Apakah ini yang dinamakan prajurit istana? Hanya sampah yang bisanya menindas kaum lemah..”
Orang yang menonton dapat menangkap maksud Yoon dan tampak mendukungnya. Tsui hanya meneguk liur, ia kemudian bersama para prajurit kembali ke istana. Kerumunan pun bubar, menyisakan Yoon, Yui dan ibunya.
“Anda tidak papa?” Yoon ikut memegangi wanita paruh baya yanga tak lain adalah ibu Yui.
“Terimakasih anak muda.” Wanita itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang sedikit kehitaman. Yoon membalas senyumnya. Tinggi Yoon hampir sama dengan ibunya Yui, fosturnya tak berotot lebih terlihat seperti tubuh seorang waanita. Sementara Yui memiliki tubuh tinggi dengan perawakan tegap, tinggi Yoon sendiri hanya sebatas leher Yui. Tapi sayang nyalinya ciut.
Yui mengambil alih pembicaraan, ‘’ini teman Yui, namanya Yoon. Ia memang sangat baik bu.” Kembali, Yui tersenyum aneh. “Orang tuamu pasti bangga memiliki putra seperti mu..” wanita itu menepuk pundak Yoon. Orang yang ditepuk hanya cengengesan.
Kenapa mereka berlebihan sekali, padahal aku hanya berbicara sedikit. Dasar keluarga aneh
“Dari mana asalmu nak..” Tanya ibu Yui lagi.
“Aku berasal dari sebuah pilau kecil di selatan. Saat ini aku sedang dalam perantauan.” Ia meraih sebiji persik yang terjatuh ke tanah, lalu meletakan di atas meja dagangan wanita itu. Yui dan ibunya melakuan hal yang sama, merapikan buah-buahan yang dihamburkan oleh prajurit istana tadi. “Begitu rupanya, kalau tidak keberatan, tinggalah di rumah kami.
Ohoho aku sangat tidak keberatan.
“Tidak usah bu, aku tidak ingin merepotkan. Lagipula disini banyak penginapan.” Yoon pura-pura menolak, ia menunjuk sebuah rumah yang ia pikir adalah penginapan, padahal lumbung padi. Yui dan ibunya tertawa kecil, membuat Yoon sedikit bingung, “Apa kau akan menginap di lumbung padi?” ejek Yui. “Setiap pestival  kembang api, penginapan selalu penuh.” Masih dengan senyum anehnya, Yui mencoba meyakinkan temannya itu. “Tidak apa-apa nak, tinggalah sebentar di rumah kami. Meski sederhana akan lebih  baik daripada tidur di luar..” dengan lembut ibu Yui mengusap bahu Yoon.
“Baiklah kalau begitu..”
                Mereka berdua mengangguk.
                Di kanan kiri masih ramai orang lalu lalang, sementara kembang api sudah tak lagi menyala di langit, menyisakan bintang yang tenang.



Minggu, 07 Februari 2016

Around the Land chapter 1

                “Angin berhembus kencang menjatuhkan pohon-pohon. Langit begitu gelap sampai kau tak bisa melihat apa yang ada di depanmu. Semak mengeluarkan pekikan keras. Aku terus berlari, membawa tubuh kecilku menerobos kegelapan.sesekali terdengar patahan ranting yang terinjak oleh aku. Setelah itu aku lupa, ingatan terakhir yang bisa kuingat adalah tubuhku basah tenggelam ke sebuah danau. Ku tatap liontin yang sedari tadi ada di tanganku. ‘Bercahaya’.”
*****
“Sudah kubilang film itu payah, matikan!” Stevan meraih remote control yang tergeletak di meja lalu menekan tombol off.
“Kau yang payah, orang idiot sepertimu mana mengerti, sini kembalikan..” Ana merebut kembali remote kontrol di tangan Stevan.
“Ya sudah, matilah bersama film bodoh itu..” Sebelum pergi Stevan menyempatkan menendang gadis rambut ayam dua itu.
                Ana menjulurkan lidahnya. “Dia mana mengerti film berkelas seperti ini.” Gumamnya pelan.
                Salju turun semenjak 2 minggu terakhir. Suasana jadi memutih, menghilangkan bening-bening air yang mengucur deras. Rumput hijau kemaren. Katakana selamat tinggal untuknya.
                Namun dingin salju tak membuat seorang gadis kecil ciut. Ia memainkan serulingnya di puncak bukit dengan diselingi jurang curam dibawahnya. Matanya terpejam menjiwa setiap tiupan seruling yang ia hembus.
20 years later…
                Masih terdengar lantunan seruling menemani bunga yang mekar di musim semi. Senyum wanita yang memainkannya seindah bunga Lotus. Matanya tak lain bunga Asoka. Hidungnya melekung bak bunga Camelia. Rambutnya yang panjang tergerai di buai angin.
                “Suzi...”
                Wanita yang dipanggil itu menengok kea rah sumber suara. Terlihat sorak pemuda melambai kearahnya. Semuda itu tersenyum, Alice pun tersenyum.
                “Kau masih menunggunya?” Pria itu mendekat.
                “Bisakah kau tidak mengulangi pertanyaan yang sama, agar aku tidak menjawab dengan jawaban yang sama…” Alice berdiri membiarkan beraian bajunya terkibar angin.
                “Begitu rupanya..” Pria itu tersenyum lagi.
                “Ayo pulang, Ibu sudah memasakkan sup rumput laut, kalau kita tidak segera pulang kau tahu apa yang akan terjadi kan?”
                “Kurasa itu hanya berlaku untukmu, Kara..”
                Ia meringankan tubuhnya sejurus mengudara.
                “Hei..Kau..”
                Mereka sampai di Dusun Amegakure. Suzi memicingkan matanya menatap kondisi dusun yang porak-poranda. Mayat dimana-mana. Tampaknya tempat ini baru diserang. Kara yang baru datang di dusun tak kalah terkejut.
                “Apa yang terjadi? Ibu..Kita harus mencari ibu.”
                Kara berlari seperti kesetanan, Suzi menggiring di belakangnya. Mereka mendapati rumahnya terbakar. Tak ambil pusing mereka menerobos api.mencari sesosokwanita yang mereka panggil Ibu.
                “Kau menemukannya?” Tanya Kara.
                “Tak ada, kurasa Ibu bersembunyi ke tempat lain..” Suzi mencoba menenangkan.
                Pasukan berpakaian serba hitam mulai berdatangan. Untungnya Kara dan Suzi sempat bersembunyi. Beberapa saat kemudian pasukan itu menjauh.
                Kara mengepalkan tangan, meluapkan seluruh amarahnya. Matanya seakan mengkilat setajam pedang, sedangkan wanita disebelahnya hanya berekspresi datar atau lebih tepatnya tak berekspresi sama seperti hari-hari biasanya.
                “Bukankah itu Raikudo, apa yang sebenarnya mereka inginkan.” Kara mempererat genggamannya.
                “Mereka pasti punya alasan untuk melakukannya…” Masih dengan intonasi datar.
*****
                “Heeh.. Meyebalkan sudah kubilang aku bukan anak kecil lagi, kenapa mereka selalumemperlakukanku seperti itu...Meyebalkan..MENYEBALKAN.”
                Sepanjang jalan ia hanya menggerutu. Sesekali merapikan baju koonce coklatnya. Langkahnya terhenti melihat  tiga orang tua diseret oleh lima orang pria besar. Tampaknya pria-pria itu adalah orang suruhan. Hati anak berbaju coklat itu tergerak untuk menolong. Secepat kilat ia menghampiri mereka.
                “Siapa kau.?.” Ucap salah seorang mereka.
                “Namaku Yoon, si pendekar dari Laut Selatan..”
                Tanpa basa-basi kelima pria itu mengayunkan pedangnya. Yoon terkesiap dengan santai, ia menepis pedang itu dengan kakinya. Beberapa gerakan silat mereka peragakan 5 banding 1 tampak tidak adil. Tapi dari wajah Yoon hanya tersenyum kecut. Menganggap ini hanya permainan. Ia hanya menghindar dan bertengker di atas kayu setinggi 2meter. Ia lalu melepas senyum. Para berandal itu mulai kewalahan.
                “Hanya segitukemampuan kalian, kurasa permainan ini harus segera diakhiri..”
                “Dasar bocah..” salah seorang terbang kearahnya.
                “Kali ini aku tidak akan bermain-main lagi..” ucap Yoon.
                Yoon memainkan tanga  dan kakinya dengan gesit. Menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu silat tingkat tinggi. Selang beberapa saat kawanan pria itu roboh. Yoon tersenyum puas.
                “Terima kasih banyak anak muda..” Ketiga orang tua itu menghampirinya.
                “Sama-sama orang seperti mereka memang pantas diberantas.”
                “Kalau boleh tau apa gerangan yang membawa Anda kemari?” Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya.
                Yoon tersenyum, “Aku sedang merantau, ngomong-ngomong apa disini dekat dengan perkampungan?” ia menatapi padang gersang tempatnya berdiri sekarang. Sejurus mata memandang hanya terlihat gunung bebatuan.
                “Tentu saja, 200 km kearah tenggara ada pusat kota. Disana Anda akan menemukan apapun yang Anda cari.”
                Apa aku setua itu, kenapa dari tadi mereka mengatakan kata Anda? geming Yoon yang kemudian ia mengepak debu di bajunya.
                “Benarkah, lalu bagaimana dengan kalian..?”
                Pria yang terlihat paling tua menjawab ringan, “Kami akan kembali kekampung kami untuk memperingatkan warga akan kejahatan Toun.”
                “Siapa tadi, To..T-o-un..?” ia mendekatkan dirinya pada mereka. Sejenal mengangkat alis tanda bingung.
                “Darimana Anda berasal sehingga tidak mengenal Toun?” Kali ini seorang wanita tua yang menanggapi.
                Yoon tampak kikuk, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
                “Ah.. Ya, aku tinggal di sebuah pulau yang terpencil..”
                Aku ulangi, sangat terpencil
                “Pantas saja, semua orang disini pasti mengenalnya. Toun adalah pemimpin organisasi Raikudo. Ia mempengaruhi raja untuk menguasai seluruh daratan China. Pria itu sangat licik, bahkan kejam. Ia akan membunuh siapa saja yang menghalanginya.”
                Yoon tampak berpikir lalu tanpa diduga menunggingjan sebuah senyuman. “Menarik..Mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya.” Ia kemudian berlalu pergi kea rah tenggara membiarkan para orang tua itu memandangi dirinya takjub, ialah pahlawan mereka saat ini.
                “Anak muda..!”
                Yoon berbalik menemu panggilan itu.
                “Sekali lagi terimakasih.” Tiga orang tua itu membungkuk serempak, “..Dan juga, sebaiknya Anda tidak bertemu dengan Toun.”
                Tanpa sepatah kata, orang yang dipanggil anak muda itu hanya tersenyum, sejurus membiarkan jubah hitam panjangnya dibuai angin. Bersamaan dengan laju langkah yang tak bisa lagi ditepis.
               
               

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...