“Angin
berhembus kencang menjatuhkan pohon-pohon. Langit begitu gelap sampai kau tak
bisa melihat apa yang ada di depanmu. Semak mengeluarkan pekikan keras. Aku
terus berlari, membawa tubuh kecilku menerobos kegelapan.sesekali terdengar
patahan ranting yang terinjak oleh aku. Setelah itu aku lupa, ingatan terakhir
yang bisa kuingat adalah tubuhku basah tenggelam ke sebuah danau. Ku tatap
liontin yang sedari tadi ada di tanganku. ‘Bercahaya’.”
*****
“Sudah kubilang film itu payah,
matikan!” Stevan meraih remote control yang tergeletak di meja lalu menekan
tombol off.
“Kau yang payah, orang idiot
sepertimu mana mengerti, sini kembalikan..” Ana merebut kembali remote kontrol
di tangan Stevan.
“Ya sudah, matilah bersama film
bodoh itu..” Sebelum pergi Stevan menyempatkan menendang gadis rambut ayam dua
itu.
Ana
menjulurkan lidahnya. “Dia mana mengerti film berkelas seperti ini.” Gumamnya
pelan.
Salju
turun semenjak 2 minggu terakhir. Suasana jadi memutih, menghilangkan
bening-bening air yang mengucur deras. Rumput hijau kemaren. Katakana selamat
tinggal untuknya.
Namun
dingin salju tak membuat seorang gadis kecil ciut. Ia memainkan serulingnya di
puncak bukit dengan diselingi jurang curam dibawahnya. Matanya terpejam menjiwa
setiap tiupan seruling yang ia hembus.
20 years later…
Masih
terdengar lantunan seruling menemani bunga yang mekar di musim semi. Senyum
wanita yang memainkannya seindah bunga Lotus. Matanya tak lain bunga Asoka.
Hidungnya melekung bak bunga Camelia. Rambutnya yang panjang tergerai di buai
angin.
“Suzi...”
Wanita
yang dipanggil itu menengok kea rah sumber suara. Terlihat sorak pemuda
melambai kearahnya. Semuda itu tersenyum, Alice pun tersenyum.
“Kau
masih menunggunya?” Pria itu mendekat.
“Bisakah
kau tidak mengulangi pertanyaan yang sama, agar aku tidak menjawab dengan
jawaban yang sama…” Alice berdiri membiarkan beraian bajunya terkibar angin.
“Begitu
rupanya..” Pria itu tersenyum lagi.
“Ayo
pulang, Ibu sudah memasakkan sup rumput laut, kalau kita tidak segera pulang
kau tahu apa yang akan terjadi kan?”
“Kurasa
itu hanya berlaku untukmu, Kara..”
Ia
meringankan tubuhnya sejurus mengudara.
“Hei..Kau..”
Mereka sampai
di Dusun Amegakure. Suzi memicingkan matanya menatap kondisi dusun yang
porak-poranda. Mayat dimana-mana. Tampaknya tempat ini baru diserang. Kara yang
baru datang di dusun tak kalah terkejut.
“Apa
yang terjadi? Ibu..Kita harus mencari ibu.”
Kara
berlari seperti kesetanan, Suzi menggiring di belakangnya. Mereka mendapati
rumahnya terbakar. Tak ambil pusing mereka menerobos api.mencari sesosokwanita
yang mereka panggil Ibu.
“Kau
menemukannya?” Tanya Kara.
“Tak
ada, kurasa Ibu bersembunyi ke tempat lain..” Suzi mencoba menenangkan.
Pasukan
berpakaian serba hitam mulai berdatangan. Untungnya Kara dan Suzi sempat
bersembunyi. Beberapa saat kemudian pasukan itu menjauh.
Kara
mengepalkan tangan, meluapkan seluruh amarahnya. Matanya seakan mengkilat
setajam pedang, sedangkan wanita disebelahnya hanya berekspresi datar atau
lebih tepatnya tak berekspresi sama seperti hari-hari biasanya.
“Bukankah
itu Raikudo, apa yang sebenarnya mereka inginkan.” Kara mempererat genggamannya.
“Mereka
pasti punya alasan untuk melakukannya…” Masih dengan intonasi datar.
*****
“Heeh..
Meyebalkan sudah kubilang aku bukan anak kecil lagi, kenapa mereka
selalumemperlakukanku seperti itu...Meyebalkan..MENYEBALKAN.”
Sepanjang
jalan ia hanya menggerutu. Sesekali merapikan baju koonce coklatnya. Langkahnya
terhenti melihat tiga orang tua diseret
oleh lima orang pria besar. Tampaknya pria-pria itu adalah orang suruhan. Hati
anak berbaju coklat itu tergerak untuk menolong. Secepat kilat ia menghampiri
mereka.
“Siapa
kau.?.” Ucap salah seorang mereka.
“Namaku
Yoon, si pendekar dari Laut Selatan..”
Tanpa
basa-basi kelima pria itu mengayunkan pedangnya. Yoon terkesiap dengan santai,
ia menepis pedang itu dengan kakinya. Beberapa gerakan silat mereka peragakan 5
banding 1 tampak tidak adil. Tapi dari wajah Yoon hanya tersenyum kecut.
Menganggap ini hanya permainan. Ia hanya menghindar dan bertengker di atas kayu
setinggi 2meter. Ia lalu melepas senyum. Para berandal itu mulai kewalahan.
“Hanya
segitukemampuan kalian, kurasa permainan ini harus segera diakhiri..”
“Dasar
bocah..” salah seorang terbang kearahnya.
“Kali
ini aku tidak akan bermain-main lagi..” ucap Yoon.
Yoon
memainkan tanga dan kakinya dengan
gesit. Menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu silat tingkat tinggi. Selang beberapa
saat kawanan pria itu roboh. Yoon tersenyum puas.
“Terima
kasih banyak anak muda..” Ketiga orang tua itu menghampirinya.
“Sama-sama
orang seperti mereka memang pantas diberantas.”
“Kalau
boleh tau apa gerangan yang membawa Anda kemari?” Salah seorang dari mereka
memberanikan diri bertanya.
Yoon
tersenyum, “Aku sedang merantau, ngomong-ngomong apa disini dekat dengan
perkampungan?” ia menatapi padang gersang tempatnya berdiri sekarang. Sejurus
mata memandang hanya terlihat gunung bebatuan.
“Tentu
saja, 200 km kearah tenggara ada pusat kota. Disana Anda akan menemukan apapun
yang Anda cari.”
Apa aku setua itu, kenapa dari tadi mereka
mengatakan kata Anda? geming Yoon yang kemudian ia mengepak debu di
bajunya.
“Benarkah,
lalu bagaimana dengan kalian..?”
Pria
yang terlihat paling tua menjawab ringan, “Kami akan kembali kekampung kami
untuk memperingatkan warga akan kejahatan Toun.”
“Siapa
tadi, To..T-o-un..?” ia mendekatkan dirinya pada mereka. Sejenal mengangkat
alis tanda bingung.
“Darimana
Anda berasal sehingga tidak mengenal Toun?” Kali ini seorang wanita tua yang
menanggapi.
Yoon
tampak kikuk, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Ah..
Ya, aku tinggal di sebuah pulau yang terpencil..”
Aku ulangi, sangat terpencil
“Pantas
saja, semua orang disini pasti mengenalnya. Toun adalah pemimpin organisasi
Raikudo. Ia mempengaruhi raja untuk menguasai seluruh daratan China. Pria itu
sangat licik, bahkan kejam. Ia akan membunuh siapa saja yang menghalanginya.”
Yoon
tampak berpikir lalu tanpa diduga menunggingjan sebuah senyuman.
“Menarik..Mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya.” Ia kemudian
berlalu pergi kea rah tenggara membiarkan para orang tua itu memandangi dirinya
takjub, ialah pahlawan mereka saat ini.
“Anak
muda..!”
Yoon
berbalik menemu panggilan itu.
“Sekali
lagi terimakasih.” Tiga orang tua itu membungkuk serempak, “..Dan juga,
sebaiknya Anda tidak bertemu dengan Toun.”
Tanpa
sepatah kata, orang yang dipanggil anak muda itu hanya tersenyum, sejurus
membiarkan jubah hitam panjangnya dibuai angin. Bersamaan dengan laju langkah
yang tak bisa lagi ditepis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar