Minggu, 07 Februari 2016

Around the Land chapter 1

                “Angin berhembus kencang menjatuhkan pohon-pohon. Langit begitu gelap sampai kau tak bisa melihat apa yang ada di depanmu. Semak mengeluarkan pekikan keras. Aku terus berlari, membawa tubuh kecilku menerobos kegelapan.sesekali terdengar patahan ranting yang terinjak oleh aku. Setelah itu aku lupa, ingatan terakhir yang bisa kuingat adalah tubuhku basah tenggelam ke sebuah danau. Ku tatap liontin yang sedari tadi ada di tanganku. ‘Bercahaya’.”
*****
“Sudah kubilang film itu payah, matikan!” Stevan meraih remote control yang tergeletak di meja lalu menekan tombol off.
“Kau yang payah, orang idiot sepertimu mana mengerti, sini kembalikan..” Ana merebut kembali remote kontrol di tangan Stevan.
“Ya sudah, matilah bersama film bodoh itu..” Sebelum pergi Stevan menyempatkan menendang gadis rambut ayam dua itu.
                Ana menjulurkan lidahnya. “Dia mana mengerti film berkelas seperti ini.” Gumamnya pelan.
                Salju turun semenjak 2 minggu terakhir. Suasana jadi memutih, menghilangkan bening-bening air yang mengucur deras. Rumput hijau kemaren. Katakana selamat tinggal untuknya.
                Namun dingin salju tak membuat seorang gadis kecil ciut. Ia memainkan serulingnya di puncak bukit dengan diselingi jurang curam dibawahnya. Matanya terpejam menjiwa setiap tiupan seruling yang ia hembus.
20 years later…
                Masih terdengar lantunan seruling menemani bunga yang mekar di musim semi. Senyum wanita yang memainkannya seindah bunga Lotus. Matanya tak lain bunga Asoka. Hidungnya melekung bak bunga Camelia. Rambutnya yang panjang tergerai di buai angin.
                “Suzi...”
                Wanita yang dipanggil itu menengok kea rah sumber suara. Terlihat sorak pemuda melambai kearahnya. Semuda itu tersenyum, Alice pun tersenyum.
                “Kau masih menunggunya?” Pria itu mendekat.
                “Bisakah kau tidak mengulangi pertanyaan yang sama, agar aku tidak menjawab dengan jawaban yang sama…” Alice berdiri membiarkan beraian bajunya terkibar angin.
                “Begitu rupanya..” Pria itu tersenyum lagi.
                “Ayo pulang, Ibu sudah memasakkan sup rumput laut, kalau kita tidak segera pulang kau tahu apa yang akan terjadi kan?”
                “Kurasa itu hanya berlaku untukmu, Kara..”
                Ia meringankan tubuhnya sejurus mengudara.
                “Hei..Kau..”
                Mereka sampai di Dusun Amegakure. Suzi memicingkan matanya menatap kondisi dusun yang porak-poranda. Mayat dimana-mana. Tampaknya tempat ini baru diserang. Kara yang baru datang di dusun tak kalah terkejut.
                “Apa yang terjadi? Ibu..Kita harus mencari ibu.”
                Kara berlari seperti kesetanan, Suzi menggiring di belakangnya. Mereka mendapati rumahnya terbakar. Tak ambil pusing mereka menerobos api.mencari sesosokwanita yang mereka panggil Ibu.
                “Kau menemukannya?” Tanya Kara.
                “Tak ada, kurasa Ibu bersembunyi ke tempat lain..” Suzi mencoba menenangkan.
                Pasukan berpakaian serba hitam mulai berdatangan. Untungnya Kara dan Suzi sempat bersembunyi. Beberapa saat kemudian pasukan itu menjauh.
                Kara mengepalkan tangan, meluapkan seluruh amarahnya. Matanya seakan mengkilat setajam pedang, sedangkan wanita disebelahnya hanya berekspresi datar atau lebih tepatnya tak berekspresi sama seperti hari-hari biasanya.
                “Bukankah itu Raikudo, apa yang sebenarnya mereka inginkan.” Kara mempererat genggamannya.
                “Mereka pasti punya alasan untuk melakukannya…” Masih dengan intonasi datar.
*****
                “Heeh.. Meyebalkan sudah kubilang aku bukan anak kecil lagi, kenapa mereka selalumemperlakukanku seperti itu...Meyebalkan..MENYEBALKAN.”
                Sepanjang jalan ia hanya menggerutu. Sesekali merapikan baju koonce coklatnya. Langkahnya terhenti melihat  tiga orang tua diseret oleh lima orang pria besar. Tampaknya pria-pria itu adalah orang suruhan. Hati anak berbaju coklat itu tergerak untuk menolong. Secepat kilat ia menghampiri mereka.
                “Siapa kau.?.” Ucap salah seorang mereka.
                “Namaku Yoon, si pendekar dari Laut Selatan..”
                Tanpa basa-basi kelima pria itu mengayunkan pedangnya. Yoon terkesiap dengan santai, ia menepis pedang itu dengan kakinya. Beberapa gerakan silat mereka peragakan 5 banding 1 tampak tidak adil. Tapi dari wajah Yoon hanya tersenyum kecut. Menganggap ini hanya permainan. Ia hanya menghindar dan bertengker di atas kayu setinggi 2meter. Ia lalu melepas senyum. Para berandal itu mulai kewalahan.
                “Hanya segitukemampuan kalian, kurasa permainan ini harus segera diakhiri..”
                “Dasar bocah..” salah seorang terbang kearahnya.
                “Kali ini aku tidak akan bermain-main lagi..” ucap Yoon.
                Yoon memainkan tanga  dan kakinya dengan gesit. Menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu silat tingkat tinggi. Selang beberapa saat kawanan pria itu roboh. Yoon tersenyum puas.
                “Terima kasih banyak anak muda..” Ketiga orang tua itu menghampirinya.
                “Sama-sama orang seperti mereka memang pantas diberantas.”
                “Kalau boleh tau apa gerangan yang membawa Anda kemari?” Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya.
                Yoon tersenyum, “Aku sedang merantau, ngomong-ngomong apa disini dekat dengan perkampungan?” ia menatapi padang gersang tempatnya berdiri sekarang. Sejurus mata memandang hanya terlihat gunung bebatuan.
                “Tentu saja, 200 km kearah tenggara ada pusat kota. Disana Anda akan menemukan apapun yang Anda cari.”
                Apa aku setua itu, kenapa dari tadi mereka mengatakan kata Anda? geming Yoon yang kemudian ia mengepak debu di bajunya.
                “Benarkah, lalu bagaimana dengan kalian..?”
                Pria yang terlihat paling tua menjawab ringan, “Kami akan kembali kekampung kami untuk memperingatkan warga akan kejahatan Toun.”
                “Siapa tadi, To..T-o-un..?” ia mendekatkan dirinya pada mereka. Sejenal mengangkat alis tanda bingung.
                “Darimana Anda berasal sehingga tidak mengenal Toun?” Kali ini seorang wanita tua yang menanggapi.
                Yoon tampak kikuk, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
                “Ah.. Ya, aku tinggal di sebuah pulau yang terpencil..”
                Aku ulangi, sangat terpencil
                “Pantas saja, semua orang disini pasti mengenalnya. Toun adalah pemimpin organisasi Raikudo. Ia mempengaruhi raja untuk menguasai seluruh daratan China. Pria itu sangat licik, bahkan kejam. Ia akan membunuh siapa saja yang menghalanginya.”
                Yoon tampak berpikir lalu tanpa diduga menunggingjan sebuah senyuman. “Menarik..Mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya.” Ia kemudian berlalu pergi kea rah tenggara membiarkan para orang tua itu memandangi dirinya takjub, ialah pahlawan mereka saat ini.
                “Anak muda..!”
                Yoon berbalik menemu panggilan itu.
                “Sekali lagi terimakasih.” Tiga orang tua itu membungkuk serempak, “..Dan juga, sebaiknya Anda tidak bertemu dengan Toun.”
                Tanpa sepatah kata, orang yang dipanggil anak muda itu hanya tersenyum, sejurus membiarkan jubah hitam panjangnya dibuai angin. Bersamaan dengan laju langkah yang tak bisa lagi ditepis.
               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...