Kau
masih sama seperti dulu. Begitupun aku masih sama seperti dulu. Menatapmu
dibalik bayang-bayang. Tanpa kau sadari. Aku selalu mengawasimu.
“Eh, kamu jadi ikut nggak?’’
“Aku nggak bisa ikut Al, masih ada yang harus aku kerjain”
“Yah, kirain bisa ikut. Oke deh kami pergi ya. Awas jangan
nyesal lo”.
Ada sedikit kekecewaan di wajah Aldi karena tidak bisa
mengajak Andre ikut main bowling. Padahal ia ingin sekali bertanding dengannya.
Tapi apa boleh buat.
Andre hanya memberikan sesimpul senyum untuk melepas
kepergian teman-temannya. Selain ada hal yang harus ia kerjakan, sebenarnya ia
malas juga main bowling hari ini.
Andre memasang helm yang selaras dengan motornya –merah. Ia
memutar gas, membiarkan ban motornya bergulat dengan jalanan beraspal.
Setelah memarkirkan motor du garasi, Andre langsung masuk
rumah, menuju ke ruang pribadinya untuk melakukan hal yang harus ia lakukan
tadi. Ia menyalakan lampu, membiarkan benda- benda yang ada diruangan itu
terekpos dengan jelas. Ada banyak papan berukuran sekirar 1 x 1 m atau 1 x 2 m
yang ditutupi kain putih. Andre mengambil senjata dan beberapa amunisinya untuk
berperang-----kuas dan spidol warna---. Ia membuka sebuah papan yang tertutup
oleh kain putih tadI yang ternyata sebuah lukisan yang belum jadi. Andre kembali
merapalkan senyum pada lukisan itu, seolah tengah tersenyum kepada seseorang.
Ya, seseorang.
Ia kemudian mengambil bangku kecil tak bersandaran, sama
seperti bangku para pelukis umumnya. Dan yang lebih lagi, ia memiliki tangan
seorang pelukis, dan hati seorang pelukis.Tangannya meluncur gemulai diatas
kanvas. Ia tampak serius, dan lagi sorot mata itu, bukan sorot mata yang
dimiliiki seorang Andre. Ia menjadi orang lain saat ini.
------Bisakah kau mengenalku?---------------
“Kau tau kenapa angin tak bisa dilihat tapi kau bisa
merasakannya?”
“Kalau angin berbentuk , ya namanya bukan angin”
“Lebih dari itu, apa kau tahu alasannya?’’
“Tidak tahu, kenapa juga aku harus tahu?”
“Ia menjadi sebuah lambang. Untuk menjadi berguna kau tidak
harus menampakkan diri. Biarkan orang lain terbantu olehmu, tapi mereka tak
pernah tau siapa dirimu”
“Itu konyol, siapa juga yang mau melakukan hal semacam itu”
“Akan selalu ada orang seperti
itu”
Saat aku ingat semua kenangan
itu, aku semakin kehilangan diriku, aku menjadi orang lain, dan bahkan pada
waktu-waktu tertentu, aku tidak tahu aku ini siapa. Seperti yang pernah kau
bilang. Hampa.
Hari berlalu seperti biasa, tak ada yang spesial, suasana
begitu sunyi hanyaterdengar burung layang-layang berkicau. Meski kicauannya tak
semerdu burung Jalak. Dibawah jendela lantai dua itu, terlihat hamparan rumput
duri yang berjejer rapi, membuat orang yang melihatnya tak tahan untuk
merebahkan diri disana. Mesti hanya sejenak.
Lain halnya dengan Nazwa, ia sudah terbiasa memandang rumput
yang menghijau bak permadani itu, jadi tak menimbulkan kesan yang berarti. Ia
lebih memilih menyibukkan dirinya memetik senar getar. Sesekali ia
bersenandung, menumpahkan segala perasaannya bersama dengan lagu yang Ia
yanyikan. Begitu menyayat.
-----Aku memang tak membenci manusia, tapi sebagai gantinya,
aku malas berhubungan dengan mereka-------
Wanita berusia tak lebih dari 17 tahun itu memang tak banyak
bicara. Nazwa menghabiskan hampir seluruh usianya sampai pada saat ini berdiam
di rumah, atau paling tidak keluar sebentar untuk mencari udara segar.
Mengunjungi danau untuk menulis hal yang biasa ia tulis, atau kepuncak bukit
untuk menyatu dengan alam. Setidaknya dengan begitu Nazwa tidak merasa
kesepian. Ada kupu-kupu yang mengudara atau kumbang yang tengah sibuk menggoda
bunga.
Itulah sebabnya Ia tak punya
teman. Kenangan masa lalu sudah cukup membuatnya trauma tentang arti
pertemanan.
Aku tidak mengerti siapa dirimu,
atau karena memang aku tidak ingin mengerti kamu. Oleh sebab itu mulai sekarang
aku akan mencari tahu
Andre memutar kepalannya menimbulkan suara patahan. Sudah
lima jam sejak pertama ia menggoreskan kuas, sekarang jelaslah bentuk dari
objek yang ia lukis. Sangat indah, denga tidak terlalu banyak bermain warna
tapi tetap terkesan berani. Ini bukan hanya tentang objek yang Ia lukis, tapi
ia melukis perasaannya. Perasaan yang terus tersembunyi, tertutup rapat dari
khalayak setidaknya untuk sekarang. Sebagaimana tentang kelihaiannya dalam
melukis ini, tak ada seorang pun yang tahu.
Pria dengan tubuh sekitar 174 cm itu menempatkan lukisan
yang baru ia selesaikan di kamarnya, menandakan bahwa lukisan itu berbeda dari
yang lain.
Setelah meletakkan lukisan itu, Andre menancapkan gas sepeda
motornya, menuju ketempat yang biasa ia datangi untuk melihat seseorang. Ya,
hanya melihat, bukan menemui.
Ia menelisik dari balik semak, mengawasi apakah orang yang
ingin ia lihat telah ada disana, seperti hari-hari biasa. Seseorang itu ada
disana. Melemparkan kerikil-kerikil ke dalam danau, bersamaan dengan melemparkan
perasaannya. Andre terus mengawasi, sesekali Ia seperti tertular perasaan itu.
Menyesakkan dan perih.
------Tak peduli siapa kau bagiku, tapi aku dapat
merasakannya-----
Tak jarang juga Andre memalingkan wajahnya, tak kuasa
melihat air mata yang menetes dari orang itu. Tapi Ia hanya berdiam,
mengepalkan genggamannya pada ranting pohon.
-----Haruskah aku selalu disini
untuk melihat tangismu? Tak bisakah aku kesana dan meminjamkan telingaku untuk
kau curahkan semua perasaanmu, dan untuk meminjamkan bahu ku untuk mu
bersandar?-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar