Terakhir kali aku tertawa, saat
aku bersamamu. Usiaku sekitar 7 tahun.
Menertawakan segala sesuatu yang berhubungan denganmu yang aku anggap
aneh. Bahkan aku juga sering menertawakan gaya rambutmu yang terkesan unik
tidak biasanya. Tapi itulah yang membuatmu berbeda. Apa kau ingat?
jam menunjukkan pukul 20.00, terlihat seorang kasir
minimarket tengah sibuk menghitung belanjaan pembeli.
“255.000”. Ucapnya.
Si pembeli bergegas menyerahkan kartu kredit. Selang
beberapa saat kemudian berlalu pergi.
“Anda sangat mirp dengan ibuku..”. Ucap kasir tadi yang tak
lain adalah Nazwa berbicara pada dirinya sendiri sembari memandang lekat
punggung si pembeli.
Sudah tiga tahun Nazwa bekerja disini. Karena kedua orang
tuanya sudah tak ada, Ia pontang-panting untuk menghidupi diri sendiri. Orang
tuanya meninggal tepat di ulang tahunnya yang ke tujuh. Perihal tentang
kematian orang tua nya, tak ada seorangpun yang tahu. Sepeninggalan mereka,
Nazwa sempat tinggal bersama pamannya di Medan selama setahun. Berhubung kondisi
perekonomian pamannya memburuk, ia lalu dikirim ke Surabaya, tinggal bersama Om
Seno sahabat akrab ayahnya semasa hidup dulu. Beliau sangat lah baik, Ia bahkan
menganggap Nazwa seperti anaknya sendiri. Lalu setelah 6 tahun tinggal disana,
Nazwa sendiri yang memutuskan untuk dikembalikan ke rumahnya yang dulu di
Banjarmasin. Saat itu ia sudah berumur 14 tahun, mungkin pada saat itulah ia
mulai sadar tidak ingin memberati Om Seno lagu. Om Seno terus membujuknya untuk
tetap tinggal, tapi apalah daya keputusan anak sahabatnya itu sudah bulat. Tak
bisa diganggu gugat. Dengan berat hati beliau melepas Nazwa dan mengantarkannya
ke rumah tinggal Nazwa yang dulu. Rumah yang juga menjadi rumah Nazwa bersama
kedua orang tuanya. Saat hidup sendiri inilah, Nazwa memutuskan untuk bekerja, tak terpikir lagi
dalam benaknya untuk melanjutkan sekolah. Toh, kalau Ia memaksa untuk
bersekolah, siapa yang akan membayarsemua biayanya, tak usah jauh-jauh biaya
sekolah, siapa juga yang akan membiayai makannya.
‘’Mba, Mba…’’
Nazwa tersadar dari lamunan. Sejurus memandang ke sumber
suara.
“Dari tadi saya panggil, diem aja..” Pelangggan tampak
kesal.
“Maaf” Jawabnya singkat, menunduk tak berani menatap mata
pembeli sembari menghitung barang belanjaan pembeli itu.
‘’Semuanya 130.000.’’.
Wanita paruh baya itu mengeluarkan 2 lembar harga ratusan.
“Ini kembalianya.”
“Lain kali kalo kerja jangan banyak melamun, kesambet baru
tau rasa, heah.’’ ucapnya sembari memasang ekspresi sangar.
‘’Terimakasih.” Nazwa masih menunduk.
Waktu terus berlalu, meniggalkan
bayangan yang akan membuatmu takut untuk menengok kebelakang. Bahkan lebih dari
itu, kau akan takut maju ke depan. Keraguan.
Andai waktu bisa diulang, aku
akan lebih menghabiskan setiap detik dalam hidupku untuk bersamamu. Terus
menempel seperti permen karet. Berapa kalipun kau mencoba menyingkirkannya. Aku
akan tetap bertahan. Sebentar saja.
Berjemur dibawah bintang, sembari bernanung di bawah pohon
Palm tidak buruk juga menurutnya. Berapa kali ia menengadah kelahit. Mencari
bintang yang tampak terlihat terang.
---Apa sekarang kalian menjadi bintang----
Nazwa mengarahkan telunjuknya kelahit. Dan kadang melambai
pelan. Membayangkan aka nada orang di atas sana sedang memperhatikannya. Ia
berharap suatu saat nanti, ia pun akan menjadi bintang. Taka pa walau sinarnya
redup, atau tak bersinar sekalipun. Akan selalu ada tempat untuknya di sana.
Tepat dibawah bukit yang sedang ia tapaki, seluruh kota
Banjarmasin tampak gemerlapan dihiasi cahaya lampu. Gedung-gedung pencakar
langit membiarkan dirinya terus dipandangi setiap orang yang lewat. Nazwa sama
sekali tak tertarik untuk melihat itu. Ia lebih memilih menancapkan
pandangannya ke atas langit. Membayangkan seberapa luasnya itu tanpa ada batas.
Nazwa ingin menumpahkan seluruh rasa sakitnya di sana. Ganjalan yang terus
manambat hatinya. Atau sampah yang menghalangi sinar hatinya.
---Tunggu aku disana---
Andre berbaring sembari menatap lukisan yang waktu itu Ia
selesaikan. Tampak jelas tergambar seorang wanita dengan rambut panjang yang
dibiarkan terurai sedang berjemur di bawah sinar bulan. Dengan gaun berwarna
putih seperempat. Disekeliling gadis itu background hitam ke biruan dengan
paduan bunga tulip yang sedang Ia duduki. Ia terlihat jelas tersenyum,
bersinar, mengalahkan kegelapan. –Nazwa.
‘’Tak peduli, kau yang asli atau hanya lukisan, saat
melihatmu jantungku terus bergetar. Aku terus menahannya namun perasaan itu
begitu kuat.”
Pria dengan mata onyx itu memejamkan matanya. Mencoba
mencari suau jawaban. Atau lebih tepat, lari dari pertanyaan kuat yang terus
menggelayuti fikiran.
---Tak tau pasti kapan perasaan ini dimulai, dan terus
berlanjut----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar