Selasa, 02 Februari 2016

HAMPA part 1

“Lihat disana , itu hampa”
‘Ah, mana?’
“Coba lihat yang betul!’’
“Sudah, nih mataku sudah kubuka lebar-lebar”
“Dasar idiot, siapa yang menyuruhmu membuka mata, sekarang tutup matamu!’’
“Kau yang idiot, kalau menutup mata apa yang bisa dilihat”
‘’Sudah tutup saja!’’
“Dasar menyebalkan, iya nih aku tutup mata”
“Sekarang kau melihatnya?”
“Gelap, aku tidak melihat apa-apa, bahkan diriku sendiri’’
“Kau menemukannya. Saat kau tidak bisa mengetahui siapa dirimu, itulah hampa”
Aku terdiam mendengar tutur katanya. Dia aneh. Selalu saja menjadi orang aneh.


Sebuah bola pimpong menggelinding lembut, di sebidang tanah yang agak berlumpur. Pada akhirnya bola itu menyentuh tumit kaki seorang gadis. Ia tersenyum, lalu membungkuk untuk mengambil bola kemudian melemparkannya kepada pemilik bola tersebut.
“Terimakasih’’ Ucap orang yang diberi lemparan, ia juga tersenyum menampakkan gigi-gigi putihnya.
Gadis tadi hanya mengangguk, sejurus kembali melangkahkan kakinya, sebelumnya ia sempat melontarkan senyum lagi pada pria pemilik bola pimpong itu.
Si pria masih mematung, memandangi punggung gadis yang meninggalkannya.
‘’Kesambet kamu Ndre?’’
Pria yang dipanggil Andre tadi menoleh kea rah sumber suara.
‘’Ah, ngga..” Balasnya. “Ayo, kita main lagi’’
Andre merangkul punggung kawannya tadi, kembali ke pertandingan pimpong yang mereka mainkan.
­-----Kau masih sama seperti dulu, Nazwa----------


Dia, orang itu… Ia menghilang, menyisakan kenangan manis di dalam benakku. Aku selalu ingat setiap kata-kata aneh yang dia ucapkan. Bahkan aku juga ingat bagaimana caranya berjalan, bagaimana ia tersenyum malu, atau caranya memandang langit. Aku ingat semuanya. Tapi ada satu hal yang tidak aku ingat, bagaimana cara kau menghilang?
Nazwa menutup notebooknya, bolpoint hitam masih menempel di tangan, yang kemudian ia lemparkan sebagai perwakilan perasaan yang tengah berkecamuk di dadanya. Terlihat setelah itu mata beningnya sembab, ia menangis sebagai seorang wanita.
Nazwa mengangkat tubuh, sejurus mengambil kembali bolpoint yang ia lemparkan, kemudian menggoreskannya di secarik kertas.
Wherever you are, I believe you still here
Kertas yang berisi sebuah kalimat tadi dilipatnya. Dibentuknya menjadi sebuah Perahu kecil. Kakinya bergerak mendekati danau, lalu membiarkan kapal itu dicumbu air. Matanya menatap lekat keperahu itu, sebelum akhirnya karam, tak ada lagi dipandangan matanya, sama seperti seseorang yang dikiriminya surat itu, tak ada lagi di pandangan matanya. Lenyap.
Tak sadar, sedari tadi Nazwa diawasi oleh seseorang bermantel hitam sengaja tutip mantelnya menutupi kepala bagian atas, ada satu hal yang mencolok, matanya setajam elang.
Nazwa menarik diri dari danau itu. Ia melangkah sangat tenang, membiarkan angin membelai rambutnya yang dibiarkan terurai itu. Panjangnya sepinggang tak berfoni seperti ia masih kecil dulu. Sekarang  Ia sudah berubah menjadi wanita dewasa. Meski tak benar paham arti kedewasaan.
Sekitar setengah jam berjalan, Nazwa sampai di sebuah bangunan gaya minimalis bercatkan putih polos, dengan ornament abu-abu disudut-sudutnya. Besarnya sekitar 20 x 30 m, dengan dua lantai yang dibiarkan semirip mungkin. Nazwa merogoh kunci di kantong jaketnya kemudian masuk ke rumah itu.
Sepi
Tak ada siapa pun dirumah, selain lukisan besar yang terpajang di ruang tamu, gambar sepasang paruh baya tengah berfoto formal seorangnya lagi adalah anak gadis berumur sekitar 7 tahun dengan sebuah senyuman yang mengambang di wajahnya.
Nazwa menerawang jauh, ia lupa kapan tepatnya ia bersama kedua orang tuanya itu, minta dilukis. Yang ia ingat hanya, orang yang melukis lukisan itu. Fauzan.


Ia tak banyak bicara. Kalaupun ia bicara, ia hanya akan mengatakan hal yang tak bisa aku fahami. Setidaknya saat itu. Sekarang aku mulai mengerti setiap kata yang Ia ucapkan. Hal yang membuatku semakin merindukannnya. Aku ingin menemuinya dan mengatakan bahwa aku sudah mengerti.. Tapi semuanya terlambat. Kalau tahu kau akan menghilang, aku akan mendengarkan semua ucapanmu, bukannya menutup telinga, atau pura-pura tak mendengar seperti dulu. Atau yang lebih jauh lagi aku merekamnya, agar bisa kuputar disaat seperti ini.
Nazwa larut dalam pikirannya, sembari menatap langit-langit yang berwarna coklat muda itu.
----Nazwa, apa benar aku Nazwa?-------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...