Kau bisa saja menjadi ular, atau
bahkan lebih. Dan yang lebih parah kau adalah ketiadaan. Disaat kegelapan
menguasai hatimu, maka semuanya berakhir. Kau kalah..
Satu diantara kemenangan yang aku bisa jelaskan pada kalian
,disaat aku bisa membunuhnya. Disaat belati yang kugenggam dapat menancap diulu
hatinya. Aku tersenyum. Dia menangis. Menampakkan semburat kelam diwajahnya.
Wajah itu membuatku muak. Kembali. Kugoreskan belati yang panjangnya tak lebih
dari 30 cm itu kelehernya. Kali ini dia terdiam, membisu bersama suasana yang
semakin mencekam. “Selamat jalan kawan, selamat jalan keluarga terakhir yang
aku miliki, bergabunglah bersama mereka”.
Semenjak saat itu aku keluar dari status ku sebagai manusia.
Aku mengambang, Berkeliaran bak setan merah. Mencara mangsa yang dapat
menjelaskan padaku apa itu ‘takdir’. Jika mereka hanya menggelengkan kepala
atau bahkan membisu, aku hanya perlu merespon dengan belati yang terus melekat
di lengan kananku. Setelah itu mereka akan terdiam selamanya. Ya, selamanya.
Sekarang kau tau bagaimana rasanya kehilangan. Setidaknya
keluarga dari korban yang jatuh ditanganku dapat merasakanya. Rasa sakit yang
membelah hatimu. Lebih sakit dari goresan pedang, atau bom atom yang
menghancurkan seluruh isi hatimu. Tanpa terkecuali.
Mataku menerawang langit. Mengingat tragedi 12 tahun silam.
Mata kecilku melihat jelas, saat para iblis itu membiarkan rumahku dibanjiri
darah. Telingaku mendengar sendiri jerit kesakitan yang dilontarkan ibu, ayah dan
ke lima saudaraku, mereka dikuliti satu persatu, dari ujung kepala sampai
telapak kaki. Kemudian iblis tadi mengeluarkan jantung keluargaku,
menggantungnya di pintu rumah. Aku hanya terdiam menunggu giliran. Aku siap
menyusul mereka walau tengkuk ku bergetar hebat. Setelah itu kututup mataku,
menunggu tangan kekar dan keji itu membelenggu. Tapi itu tak pernah terjadi.
Mereka melepaskanku, membiarkanku memendam sebuah kata ‘dendam’ dan
menancapkanyya didalam hatiku yang paling dalam. Yang pada akhirnya membuatku
sama seperti mereka menjadi --iblis . Namun iblis sepertiku masih termasuk baik
dibanding mereka. Aku hanya membunuh, tak sampai menguliti korbanku, tujuanku
membunuhpun hanya satu, untuk menanyakan kepada mereka apa itu takdir.
Sekarang aku tanya kepada kalian, “Apa itu takdir?”
Kalian hanya diam? Tak menjawabku?
Kalau begitu tunggu aku di rumahmu, aku akan menyeretmu ke
akhirat. “Tunggu aku!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar