Suzi
dan Kara telah sampai di kota. Mereka duduk di pohon Akasia besar berdiameter
sekitar 1 meter, letaknya tepat di tengah-tengah keramaian. Suzi menyandarkan
tubuhnya ke pohon itu, ia kemudian
mengambil bungkusan kain hitam dari balik baju oranye nya.
“Kau
selalu membawanya..’’ Kara yang duduk tak jauh dari Suzi menatap lekat
bungkusan di tangan Suzi. “Ya, karena ini satu-satunya yang bisa mengingatkan
aku padanya..” matanya menerawang jauh. Kara kemudian mendekat kea rah Suzi
lalu ikut menyandarkan tubuh ke pohon itu. “Orang yang kau tunggu itu?”
“Ehm…” ia menyimpan bungkusan di tangannya kembali ke tempat
semula. Rambutnya yang dibiarkan tergerai di belai angin. Sinar bulan merembes
mengenai wajah mulusnya, dengan hidung mancung, mata hitam indah dan bibir
merah merekah. Tak heran jika pria yang kebetulan lewat sana tak bisa melepas
pandang dari Suzi. Namun orang yang dipandang asik dengan pikirannya sendiri.
Bukan hanya tentang itu, tapi ada seorang lagi yang terus melekat dalam fikiran
Suzi. Seseorang yang lebih dulu ia khawatirkan, ia rindukan, bahkan sebelum ia
mengenal Kara dan Ibu Kara yang sekarang menjadi ibu angkat Suzi.
Kara
tak bertanya lagi. Ia juga tak pernah tahu siapa orang yang selalu di tunggu
Suzi. Entau wanita atau pria, jika telah sampai waktunya, mungkin ia akan
bertemu sendiri dengan orang itu. Tak lama, pikiran Kara kembali terpusat ke
pada Ibunya. Sejenak ia berpikir, kenapa harus mencari ke kota? Diantara
berpuluh-puluh kampung, kenapa memilih kota sebagai tempat yang diyakini tempat
ibunya menyelamatkan diri.
Suzi
membuka mata dan langsung bangkit berdiri.
“Jangan
buang waktu lagi, kita harus segera menemukan ibu.” Kara menyusul bangkit.
Langkah pertama yang mereka ambil adalah bertanya pada orang-orang disana
perihal ibu mereka. tak tanggung-tanggung mereka juga memperlihatkan lukisan
wajah wanita yang dicari itu. Mulai dari jalanan merembet ke rumah-rumah dan
penginapan.
Banyak
diantara orang yang Kara dan Suzi temui tidak tahu menahu, atau lebih tepatnya
tidak ada yang tahu. Entah karena tidak pernah bertemu dengan ibu mereka atau
karena terlalu sulit membedakan wajah seseorang diantara banyak orang saat ini.
Suasana
kian sepi karena pestiva kembang apil sudah usai. Orang-orang mulai kembali ke
rumahnya masing-masing. Lilin di jalanan pun dimatikan sehingga membuat suasana
semakin mencekam. Kunag –kunang juga tak
terlihat berkeliaran seperti malam-malam biasanya. Untungnya bulan bersinar
terang menunjukan sebagian tubuhnya pada dunia.
Tepat
dibawah sinar bulan terlihat muda-mudi dengan tatapan putus asa menyusuri
rerumputan ilalang setinggi lutut mereka. “Aku anaknya seharusnya aku bisa
merasakan kehadirannya.” Kara melepaskan tinjunya pada sebatang pohon pinus
tepat di sebelah kanan pemuda itu. Suzi menggeming, membisu dalam diam,
membiarkan dirinya seolah angin yang tak melihat ulah saudara angkatnya itu. Ia
jelas tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga,
terlebih seorang Ibu. Ibu Suzi meninggal saat melahirkan adik perempuannya.
Sempat ia marah pada adiknya itu, tapi seiring berjalannya waktu ia sadar.
Perasaan sebagai seorang kakak yang membuatnya bisa untuk memaafkannya.
Kara
masih memukulkan tangannya, ia terluka sebagai seorang pria, sebagai seorang
anak yang tidak bisa melindungi ibunya sendiri. Apa katan ayahnya di sana jika
ia melihat anaknya sebegitu tidak berguna seperti ini. Air mata mulai mengalir
dari sudut mata pria itu, bukan hanya air mata, darah di mata tangannya juga
mengalir.
“Hentikan!”
Suzi menatap sinis pada Kara, namun Kara tak menggubrisnya. ‘’Aku bilang
hentikan!” Ia meninggikan suara bersamaan dengan pria disebelahnya yang
menjatuhkan diri menyatu dengan tanah. Tangan Kara masih di genggamkan, tak
peduli dengan darah merah yang menyelimuti tangan itu.
“Apa
dengan membuat tangan mu berdarah ibu akan kembali?” Suzi tak mengalihkan
pandangannya dari mata kelam Kara. Orang yang di pandang hanya menunduk lesu
setelah sempat membalas tatapan Suzi.Tentu pertanyaan itu hanya berupa
pernyataan, sesuatu yang tak perlu di jawab sehingga Kara tak susah-susah
membuka mulutnya –berbicara. Ia mengangkat tubuhnya, membuat Suzi sedikit
terkejut, ‘’Kita cari Ibu ke istana.” Wanita di sampingnya itu hanya
mengangguk, ia dapat melihat kesungguhan terpampang jelas pada ekspresi Kara.
Dengan
satu lompatan tinggi mereka berdua dapat menerobos dinding istana yang terbuat
dari beton arania itu. Penjagaan istana tak begitu ketak tampaknya, sehingga
Kara dan Suzi dapat leluasa menarikan langkahnya di halaman Istana. Ada sebuah
kolam, lebih tepatnya menyerupai danau tepat berada di tengah-tengah istana
dengan warna dasar merah tua. Ada beberapa pohon persik di sekitar danau, tentu
menjadi ciri khas sebauh istana. Karena konon persik adalah symbol kemakmuran
dan ketentraman. Dari pintu gerbang sampai seluruh bagian istana di hiasi
lampion oranye, membuat istana mencolok dari luar dengan cahaya terang yang
menyelimutinya. Begitu indah dipandang dari kejauhan namun tetap saja, tempat
ini tak terbuka untuk umum, membuat rakyat biasa hanya meneguk liur untuk menyentuh
ornament-ornamen di tempat ini.
“Cih..jadi
ini yang namanya istana. Suatu tempat kotor yang dibangun atas penderitaan
rakyat.” Kara menyapukan pandangannya menatap tempat yang begitu luas ini. Suzi
meletakan telunjuk pada bibirnya, mengisaratkan pada Kara untuk tak bersuara
karena tepat dua meter dari mereka ada beberapa pengawal istana ya ng tengah
berpatroli. Spontan kedua orang itu bersembunyi di balik sebuah patung singa
tak jauh dari danau.Mereka mulai mengendap-endap untuk melaksanakan tujuan
awalnya. Memasuki bilik demi bilik, mulai terlihat suasana istana yang begitu
ramai. Di dapur tersedia berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan pokok
sampai kue yang tingginya dua depa. Para pelayan istana kebanyakan berasal dari
kaum hawa yang rata-rata memiliki faras yang menawan bak bidadari bumi. Mereka
bertebaran sesuai tugasnya masing-masing.
Langkah
Kara dan Suzi terhenti pada sebuah aula besar di sebelah barat. Di dalamnya
terlihat beberapa orang yang berumur rata-rata di atas setengah abad tengah
memperbincangkan sesautu. Hal itu menarik minat kedua pemuda-pemudi itu. Topik
awalnya tidak begitu menarik, sehingga hampir saja Suzi beserta Kara beranjak
dari aula seluas setengah hektar itu, namun niat itu di urungkan. Mereka mulai
memasang kuping kembali saat salah satu orang di dalam menyebut kata Kudo. Suzi
terkejut mendengarnya, tak sengaja ia mengeluarkan suara dan membuat orang
dalam ruangan menyedari ada yang menguping pembicaraan mereka. dengan cepat
mereka keluar, untungnya Kara dan Suzi sudah bersembunyi di tempat lain.
“Brengsek,
jadi pihak istana bersekongkol dengan Raikudo?” seakan tak percaya dengan apa
yang di dengarnya tadi, Kara melontarkan pertanyaan pada Suzi. Ekpresi Suzi
kali ini tegang, namun tak sampai menutupi kecantikannya. Ia juga tak percaya,
“Kita harus member tahu Paman Chu.’’ Suzi tampak menggigit bibirnya.
“Besok
kita kirimkan surat padanya...” Kara sedikit berfikir, “…malam ni kita cari Ibu
dulu.”
Mereka bertatapan sesaat sebelum akhirnya berpencar.
***
“Belum
tidur Yoon?” ibu Yui menghampiri Yoon yang sedang duduk di balkon rumah. Yoon
sedikit terkejut dalam salah tingkah saat mengetahui wanita itu mendekat ke
arahnya.
“Aku
tidak bisa tidur” ia tersenyum sebentar sejurus melemparkan pandangannya lagi
ke langit menatap susunan rasi bintang. Ibu Yui memperhatikan lekat wajah anak
muda di depannya ini. Hal ini di sadari oleh Yoon, ia kemudian menoleh ke
arahnya. Dalam tatapan mata itu Yoon seakan bertanya ‘ada apa’.
“Jika
dilihat dari wajahmu, kau akan sangat cantik, jika kau seorang wanita.” Mata
teduhnya menelisik tiap rincian wajah Yoon. Yoon jadi sedikit gugup. Ia
kemudian mencairkan suasana dengan tawa kecilnya, “Ya, jika aku seorang
wanita..” ia mengkerutkan bibirnya, lalu mengambil nafas dalam. “Ayahku bilang aku
mirip dengan ibuku. Tapi sayangnya, aku tidak sempat melihat wajah ibu. Apa dia
cantik? Seperti apa kecantikannya?” Yoon seperti hanyut dalam kata-katanya
sendiri. “Tapi, aku tampan kan?” Ia melepas tawa yang ia lontarkan biasanya.
“Tentu saja, kau sangat tampan.” Ibu Yui membalas dengan kehangatan
kata-katanya,
“Ya,
Yoon, kau sangat tampan.” Yui bersandar di bibir pintu, tersenyum aneh membuat
mata sipitnya menjadi hilang.
“Dasar
anak ini, sejak kapan kau ada di sana?”
“Ba..baru
saja, bu.” Semburur merah mulai mewarna pria setinggi 174 cm itu, rambutnya
yang acak-acakan di biarkan seadanya, ujung kepalanya hampir saja menyentuh
ujung pintu.
“Hei,
kau, seharusnya kau bilang bahwa kau lebih tampan daripada aku.” Yoon ikut
menatap Yui. Kali ini Yui yang di buat salah tingkah. Lalu dengan kalimat yang
belum selesai dan terbata-bata ia kembali masuk rumah. Menhindari hujaman
tatapan yang di arahkan padanya. Ibu Yui bangkit berdiri untuk masuk rumah,
sebelumnya ia menyarankan Yoon agar tidak terlalu lama di luar. Yoon
mengiyakan, selang lima belas menit saat ibu Yui masuk rumah, ia pun menyusul.
Selamat malam ayah.
Tidur yang nyenyak, jangan khawatirkan aku.
***
Suzi
memeriksa di sebelah kiri bagunan istana, membuatnya tak sengaja menemui Tsui
dan anak buahnya yang mayoritas wanita. Kontan saja, Suzi disergap, ia membalas
dengan tatapan sinis.
“Apa
yang menerbangkan bunga mawar sampai kesini..” Suzi menatap tajam kearah Tsu,
‘’Itu bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Tsu yang sedari tadi bersandar pada
dinding bangunan, kemudian menegakkan tubuhnya. Dengan ekspresi tenang dan
seakan tak ada beban ia semakin mendekati Suzi. “Semenjak kau melangkahkan kaki
ke sini, kau menjadi urusanku.” Tatapan yang tak bisa terbaca kembali Tsu
lontarkan oada lawan bicaranya. Sementara yang lain hanya diam tak bersuara.
“Aku
tak punya waktu untuk bermain-main.” Suzi mencoba kabur, namun langkahnya di tahan oleh anak
buah Tsu, lima orang wanita dengan baju serempak berwarna hijau. Pertarungan
kecilpun sempat terjadi. Tsu hanay menonton, tak ambil adil dalam pertempuran.
Kungfu Suzi cukup hebat juga sehingga bisa menghadapi jumlah lawan yang tak
seimbang. Pada serangan penutup, ia menggunakan
tenaga dalam yang terkenal dengan sebutan tapak perak bayangan, membuat
lawannya terpontang-panting, kesempatan itu ia gunakan untuk kabur.
Tsu tak
juga beranjak dari tempat duduknya ketika melihat Suzi yang semakin menjauh.
Dari awal sepertinya pria itu ingin menguji kemampuan Suzi saja.
Dilain
tempat, kara juga sedang berhadapan dengan Bwe Tiau, salah satu dari lima
pelindung istana. Tentu kungfunya tidak perlu di ragukan lagi, sejauh ini Kara
hanya bisa menghindar dari serangan Bwe tanpa bisa melancarkan serangan
balasan. Sempat beberapa kali serangan Bwe kentara mengenai dirinya, membuat
tubuhnya berbenturan dengan kerasnya tembok.
Untung
saja tak lama setelah itu Suzi datang, denga
satu kali gerakan ia melemparkan jarum api—tenaga dalam, kepada Bwe.
Serangan itu cukup telak juga, Bwe terpaksa menahan jurus Suzi dengan perisai
sukma, di saat itu lah Kara kabur dengan jurus peringan tubuh, dan di susul
oleh Suzi. Mereka akhirnya keluar dari istana.
“Kau
menemukan ibu? Ucap Kara, nafasnya sedikit tercekat bukan hanya pelarian tadi,
tapi juga karena jurus peringan tubuh yang ia gunakan. Tak biasanya Kara
menggunakan jurus ini, karena akan berakibat pada penurunan tenaganya. Kalau
bukan karena kondisi mendesak, tentu ia akan lebih memilih untuk berlari.
Suzi
menggeleng menanggapi pertanyaan Kara, ‘’Bagaimana denganmu?” kali ini ia yang
balas bertanya. Sama seperti Suzi, Kara juga menggeleng, kata terasa sulit
keluar dari mulutnya sekarang ini. Lalu dengan suara yang di paksakan ia
kembali bertanya, “Lalu, kita harus mencari kemana lagi?” sejurus ia merebahkan
dirinya di rerumputan. Posisi mereka saat itu telah jauh dari istana, dan dekat
dengan rumah pendudul lebih tepatnya di tanah lapang.
“Entahlah.”
“Jangan-jangan ibu sudah…” ia sedikit pasrah kali ini dengan
perkataannya, namun sebelum ia menyambung, Suzi
memotong, “Tidak. Ibu masih hidup, aku yakin itu.”
Angin
malam serasa menyayat persendian, terlebih lagi bagi orang yang tak memiliki
rumah seperti mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar