Selasa, 09 Februari 2016

Around the Land chapter 3

                Suzi dan Kara telah sampai di kota. Mereka duduk di pohon Akasia besar berdiameter sekitar 1 meter, letaknya tepat di tengah-tengah keramaian. Suzi menyandarkan tubuhnya ke pohon  itu, ia kemudian mengambil bungkusan kain hitam dari balik baju oranye nya.
                “Kau selalu membawanya..’’ Kara yang duduk tak jauh dari Suzi menatap lekat bungkusan di tangan Suzi. “Ya, karena ini satu-satunya yang bisa mengingatkan aku padanya..” matanya menerawang jauh. Kara kemudian mendekat kea rah Suzi lalu ikut menyandarkan tubuh ke pohon itu. “Orang yang kau tunggu itu?”
“Ehm…” ia menyimpan bungkusan di tangannya kembali ke tempat semula. Rambutnya yang dibiarkan tergerai di belai angin. Sinar bulan merembes mengenai wajah mulusnya, dengan hidung mancung, mata hitam indah dan bibir merah merekah. Tak heran jika pria yang kebetulan lewat sana tak bisa melepas pandang dari Suzi. Namun orang yang dipandang asik dengan pikirannya sendiri. Bukan hanya tentang itu, tapi ada seorang lagi yang terus melekat dalam fikiran Suzi. Seseorang yang lebih dulu ia khawatirkan, ia rindukan, bahkan sebelum ia mengenal Kara dan Ibu Kara yang sekarang menjadi ibu angkat Suzi.
                Kara tak bertanya lagi. Ia juga tak pernah tahu siapa orang yang selalu di tunggu Suzi. Entau wanita atau pria, jika telah sampai waktunya, mungkin ia akan bertemu sendiri dengan orang itu. Tak lama, pikiran Kara kembali terpusat ke pada Ibunya. Sejenak ia berpikir, kenapa harus mencari ke kota? Diantara berpuluh-puluh kampung, kenapa memilih kota sebagai tempat yang diyakini tempat ibunya menyelamatkan diri.
                Suzi membuka mata dan langsung bangkit berdiri.
                “Jangan buang waktu lagi, kita harus segera menemukan ibu.” Kara menyusul bangkit. Langkah pertama yang mereka ambil adalah bertanya pada orang-orang disana perihal ibu mereka. tak tanggung-tanggung mereka juga memperlihatkan lukisan wajah wanita yang dicari itu. Mulai dari jalanan merembet ke rumah-rumah dan penginapan.
                Banyak diantara orang yang Kara dan Suzi temui tidak tahu menahu, atau lebih tepatnya tidak ada yang tahu. Entah karena tidak pernah bertemu dengan ibu mereka atau karena terlalu sulit membedakan wajah seseorang diantara banyak orang saat ini.
               Suasana kian sepi karena pestiva kembang apil sudah usai. Orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Lilin di jalanan pun dimatikan sehingga membuat suasana semakin mencekam.  Kunag –kunang juga tak terlihat berkeliaran seperti malam-malam biasanya. Untungnya bulan bersinar terang menunjukan sebagian tubuhnya pada dunia.
                Tepat dibawah sinar bulan terlihat muda-mudi dengan tatapan putus asa menyusuri rerumputan ilalang setinggi lutut mereka. “Aku anaknya seharusnya aku bisa merasakan kehadirannya.” Kara melepaskan tinjunya pada sebatang pohon pinus tepat di sebelah kanan pemuda itu. Suzi menggeming, membisu dalam diam, membiarkan dirinya seolah angin yang tak melihat ulah saudara angkatnya itu. Ia jelas tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga, terlebih seorang Ibu. Ibu Suzi meninggal saat melahirkan adik perempuannya. Sempat ia marah pada adiknya itu, tapi seiring berjalannya waktu ia sadar. Perasaan sebagai seorang kakak yang membuatnya bisa untuk memaafkannya.
                Kara masih memukulkan tangannya, ia terluka sebagai seorang pria, sebagai seorang anak yang tidak bisa melindungi ibunya sendiri. Apa katan ayahnya di sana jika ia melihat anaknya sebegitu tidak berguna seperti ini. Air mata mulai mengalir dari sudut mata pria itu, bukan hanya air mata, darah di mata tangannya juga mengalir.
                “Hentikan!” Suzi menatap sinis pada Kara, namun Kara tak menggubrisnya. ‘’Aku bilang hentikan!” Ia meninggikan suara bersamaan dengan pria disebelahnya yang menjatuhkan diri menyatu dengan tanah. Tangan Kara masih di genggamkan, tak peduli dengan darah merah yang menyelimuti tangan itu.
                “Apa dengan membuat tangan mu berdarah ibu akan kembali?” Suzi tak mengalihkan pandangannya dari mata kelam Kara. Orang yang di pandang hanya menunduk lesu setelah sempat membalas tatapan Suzi.Tentu pertanyaan itu hanya berupa pernyataan, sesuatu yang tak perlu di jawab sehingga Kara tak susah-susah membuka mulutnya –berbicara. Ia mengangkat tubuhnya, membuat Suzi sedikit terkejut, ‘’Kita cari Ibu ke istana.” Wanita di sampingnya itu hanya mengangguk, ia dapat melihat kesungguhan terpampang jelas pada ekspresi Kara.
                Dengan satu lompatan tinggi mereka berdua dapat menerobos dinding istana yang terbuat dari beton arania itu. Penjagaan istana tak begitu ketak tampaknya, sehingga Kara dan Suzi dapat leluasa menarikan langkahnya di halaman Istana. Ada sebuah kolam, lebih tepatnya menyerupai danau tepat berada di tengah-tengah istana dengan warna dasar merah tua. Ada beberapa pohon persik di sekitar danau, tentu menjadi ciri khas sebauh istana. Karena konon persik adalah symbol kemakmuran dan ketentraman. Dari pintu gerbang sampai seluruh bagian istana di hiasi lampion oranye, membuat istana mencolok dari luar dengan cahaya terang yang menyelimutinya. Begitu indah dipandang dari kejauhan namun tetap saja, tempat ini tak terbuka untuk umum, membuat rakyat biasa hanya meneguk liur untuk menyentuh ornament-ornamen di tempat ini.
                “Cih..jadi ini yang namanya istana. Suatu tempat kotor yang dibangun atas penderitaan rakyat.” Kara menyapukan pandangannya menatap tempat yang begitu luas ini. Suzi meletakan telunjuk pada bibirnya, mengisaratkan pada Kara untuk tak bersuara karena tepat dua meter dari mereka ada beberapa pengawal istana ya ng tengah berpatroli. Spontan kedua orang itu bersembunyi di balik sebuah patung singa tak jauh dari danau.Mereka mulai mengendap-endap untuk melaksanakan tujuan awalnya. Memasuki bilik demi bilik, mulai terlihat suasana istana yang begitu ramai. Di dapur tersedia berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan pokok sampai kue yang tingginya dua depa. Para pelayan istana kebanyakan berasal dari kaum hawa yang rata-rata memiliki faras yang menawan bak bidadari bumi. Mereka bertebaran sesuai tugasnya masing-masing.
                Langkah Kara dan Suzi terhenti pada sebuah aula besar di sebelah barat. Di dalamnya terlihat beberapa orang yang berumur rata-rata di atas setengah abad tengah memperbincangkan sesautu. Hal itu menarik minat kedua pemuda-pemudi itu. Topik awalnya tidak begitu menarik, sehingga hampir saja Suzi beserta Kara beranjak dari aula seluas setengah hektar itu, namun niat itu di urungkan. Mereka mulai memasang kuping kembali saat salah satu orang di dalam menyebut kata Kudo. Suzi terkejut mendengarnya, tak sengaja ia mengeluarkan suara dan membuat orang dalam ruangan menyedari ada yang menguping pembicaraan mereka. dengan cepat mereka keluar, untungnya Kara dan Suzi sudah bersembunyi di tempat lain.
               “Brengsek, jadi pihak istana bersekongkol dengan Raikudo?” seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi, Kara melontarkan pertanyaan pada Suzi. Ekpresi Suzi kali ini tegang, namun tak sampai menutupi kecantikannya. Ia juga tak percaya, “Kita harus member tahu Paman Chu.’’ Suzi tampak menggigit bibirnya.
                “Besok kita kirimkan surat padanya...” Kara sedikit berfikir, “…malam ni kita cari Ibu dulu.”
Mereka bertatapan sesaat sebelum akhirnya berpencar.
***
                “Belum tidur Yoon?” ibu Yui menghampiri Yoon yang sedang duduk di balkon rumah. Yoon sedikit terkejut dalam salah tingkah saat mengetahui wanita itu mendekat ke arahnya.
                “Aku tidak bisa tidur” ia tersenyum sebentar sejurus melemparkan pandangannya lagi ke langit menatap susunan rasi bintang. Ibu Yui memperhatikan lekat wajah anak muda di depannya ini. Hal ini di sadari oleh Yoon, ia kemudian menoleh ke arahnya. Dalam tatapan mata itu Yoon seakan bertanya ‘ada apa’.
                “Jika dilihat dari wajahmu, kau akan sangat cantik, jika kau seorang wanita.” Mata teduhnya menelisik tiap rincian wajah Yoon. Yoon jadi sedikit gugup. Ia kemudian mencairkan suasana dengan tawa kecilnya, “Ya, jika aku seorang wanita..” ia mengkerutkan bibirnya, lalu mengambil nafas dalam. “Ayahku bilang aku mirip dengan ibuku. Tapi sayangnya, aku tidak sempat melihat wajah ibu. Apa dia cantik? Seperti apa kecantikannya?” Yoon seperti hanyut dalam kata-katanya sendiri. “Tapi, aku tampan kan?” Ia melepas tawa yang ia lontarkan biasanya. “Tentu saja, kau sangat tampan.” Ibu Yui membalas dengan kehangatan kata-katanya,
                “Ya, Yoon, kau sangat tampan.” Yui bersandar di bibir pintu, tersenyum aneh membuat mata sipitnya menjadi hilang.
                “Dasar anak ini, sejak kapan kau ada di sana?”
                “Ba..baru saja, bu.” Semburur merah mulai mewarna pria setinggi 174 cm itu, rambutnya yang acak-acakan di biarkan seadanya, ujung kepalanya hampir saja menyentuh ujung pintu.
                “Hei, kau, seharusnya kau bilang bahwa kau lebih tampan daripada aku.” Yoon ikut menatap Yui. Kali ini Yui yang di buat salah tingkah. Lalu dengan kalimat yang belum selesai dan terbata-bata ia kembali masuk rumah. Menhindari hujaman tatapan yang di arahkan padanya. Ibu Yui bangkit berdiri untuk masuk rumah, sebelumnya ia menyarankan Yoon agar tidak terlalu lama di luar. Yoon mengiyakan, selang lima belas menit saat ibu Yui masuk rumah, ia pun menyusul.
Selamat malam ayah. Tidur yang nyenyak, jangan khawatirkan aku.
***
                Suzi memeriksa di sebelah kiri bagunan istana, membuatnya tak sengaja menemui Tsui dan anak buahnya yang mayoritas wanita. Kontan saja, Suzi disergap, ia membalas dengan tatapan sinis.
                “Apa yang menerbangkan bunga mawar sampai kesini..” Suzi menatap tajam kearah Tsu, ‘’Itu bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Tsu yang sedari tadi bersandar pada dinding bangunan, kemudian menegakkan tubuhnya. Dengan ekspresi tenang dan seakan tak ada beban ia semakin mendekati Suzi. “Semenjak kau melangkahkan kaki ke sini, kau menjadi urusanku.” Tatapan yang tak bisa terbaca kembali Tsu lontarkan oada lawan bicaranya. Sementara yang lain hanya diam tak bersuara.
                “Aku tak punya waktu untuk bermain-main.” Suzi mencoba  kabur, namun langkahnya di tahan oleh anak buah Tsu, lima orang wanita dengan baju serempak berwarna hijau. Pertarungan kecilpun sempat terjadi. Tsu hanay menonton, tak ambil adil dalam pertempuran. Kungfu Suzi cukup hebat juga sehingga bisa menghadapi jumlah lawan yang tak seimbang.  Pada serangan penutup, ia menggunakan tenaga dalam yang terkenal dengan sebutan tapak perak bayangan, membuat lawannya terpontang-panting, kesempatan itu ia gunakan untuk kabur.
                Tsu tak juga beranjak dari tempat duduknya ketika melihat Suzi yang semakin menjauh. Dari awal sepertinya pria itu ingin menguji kemampuan Suzi saja.
                Dilain tempat, kara juga sedang berhadapan dengan Bwe Tiau, salah satu dari lima pelindung istana. Tentu kungfunya tidak perlu di ragukan lagi, sejauh ini Kara hanya bisa menghindar dari serangan Bwe tanpa bisa melancarkan serangan balasan. Sempat beberapa kali serangan Bwe kentara mengenai dirinya, membuat tubuhnya berbenturan dengan kerasnya tembok.
                Untung saja tak lama setelah itu Suzi datang, denga  satu kali gerakan ia melemparkan jarum api—tenaga dalam, kepada Bwe. Serangan itu cukup telak juga, Bwe terpaksa menahan jurus Suzi dengan perisai sukma, di saat itu lah Kara kabur dengan jurus peringan tubuh, dan di susul oleh Suzi. Mereka akhirnya keluar dari istana.
                “Kau menemukan ibu? Ucap Kara, nafasnya sedikit tercekat bukan hanya pelarian tadi, tapi juga karena jurus peringan tubuh yang ia gunakan. Tak biasanya Kara menggunakan jurus ini, karena akan berakibat pada penurunan tenaganya. Kalau bukan karena kondisi mendesak, tentu ia akan lebih memilih untuk berlari.
                Suzi menggeleng menanggapi pertanyaan Kara, ‘’Bagaimana denganmu?” kali ini ia yang balas bertanya. Sama seperti Suzi, Kara juga menggeleng, kata terasa sulit keluar dari mulutnya sekarang ini. Lalu dengan suara yang di paksakan ia kembali bertanya, “Lalu, kita harus mencari kemana lagi?” sejurus ia merebahkan dirinya di rerumputan. Posisi mereka saat itu telah jauh dari istana, dan dekat dengan rumah pendudul lebih tepatnya di tanah lapang.
“Entahlah.”
“Jangan-jangan ibu sudah…” ia sedikit pasrah kali ini dengan perkataannya, namun sebelum ia menyambung, Suzi  memotong, “Tidak. Ibu masih hidup, aku yakin itu.”
                Angin malam serasa menyayat persendian, terlebih lagi bagi orang yang tak memiliki rumah seperti mereka.





               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...