Kara menatap serpihan terakhir
rumahnya yang dilalap api. Tempatnya bernaung, semua kenangan yang ada di
dalamnya lenyap seketika. Kembali, mata Kara tampak berkilat tajam.
“Mereka
akan membayar semua ini.”
Langkah
kaki terdengar kemudian. “Tak ada yang selamat.” Ucap Suzi.
“Lalu
apa sekarang?” Kara menjatuhkan lututnya menyentuh lantai. Ia sudah kehilangan
jalan hidup. Terlebih saat Ibunya tak
tahu ada dimana sekarang.
“Kita
harusmencari ibu, entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ibu masih hidup.’’
Pria
disebelahnya hanya diam, Kara lalu meraup butiran pasir. “Kemana kita harus
mencarinya..”
“Ke
kota. Satu-satunya tempat yang aman adalah di keramaian. Kurasa kota jawaban
yang tepat.”
Kara
hanya mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya berdiri. “Ayo kita pergi”.
****
Buukk..
“Mengurus
tiga orang peyot saja tidak becus..” ia sukses mendaratkan pukulan ke tubuh
anak buahnya.
“Bukan
begitu tuan, dijalan tiba-tiba ada seorang pemuda yang menolong mereka. Ilmu
silatnya sangat tinggi..
BUUKK..
Komandan
mereka memukul lagi, kini lebih keras.
“Seorang,
hanya seoRANG!! Sedangkan kalian berlima. Apa selama ini aku
memperkerjakan sampah Hah!”
“Dia
terlalu sakti bagi kami..” Seseorang yang bertubuh lebih kekar dari yang lain
dengan perawakan tinggi dan otot yang menonjol
memberanikan diri untuk berucap.
“Katakan,
siapa dia..”
“Dia
bilang, namanya Yoon, pendekar dari Laut Selatan.”
“Yoon
si pendekar laut selatan..” Ia tampak berfikir, “Aku baru kali ini mendengar
nama itu. Tapi kalau pendekar Laut Selatan itu adalah Qyu Juqo. Apa Yoon itu
sudah tua? Tanyanya lagi.
“Tidak
ia masih sangat muda.”
“Hmm..
Masih muda ya.” Komandan yang belakangan diketahui bernama Jing Ming itu
mengelus jenggotnya. “Seorang anak muda tetapi memiliki ilmu silat tingkat
tinggi, ia pasti ada hubungan dengan Qyu Jugo. Tidak bagus kalau berurusan
dengan orang itu.” Ia berhenti sejenak, “Kalian semua pergilah, kumpulkan lahi
informasi mengenai Twejinggu.”
“Baik..”
Kawanan
berbaju hitam itu menghilang dengan cepat, meninggalkan pemimpin mereka
sendirian, berpegut gemelut dengan fikirannya.
“Yoon..
Aku akan mengingatnya.”
****
Kembang
api merajai langit malam, ditambah lagi riau-riuh orang-orang yangmemadati kota
malam itu. Ada yang asik menawarkan barang dagangannya. Ada yang sibuk
melihat-lihat. Ada juga yang mempertontonkan aksi silatnya untuk mendapatkan
Zara.
“Jadi
ini yang namanya kota seperti yang diceritakan Nona Xiao Jie.Wah, orangnya
banyak sekali.” Yoon tampak melihat-lihat, jubah hitamnya ia tanggalkan di
lenngannya agar dapat berbaur dengan yang lain. Matanya tertuju pada tumpukan
buah persik yang mengingatkannya dengan tempatnya berasal. “Ayah maafkan aku.”
“Hah..
Sudah kubilang ini daerah kekuasaanku.” Dari kejauhan terlihat seorang pria
paruh baya membuat suatu perkara.
“Kurang
ajar, kau hanya memutuskan secara sepihak.”
“Kalau
begitu kita tunjukkan mana yang terkuat.” Tanpa basa-basi pria itu menendang
lawan bicaranya.
Semua
aktifitas lain terhenti. Orang-orang tengah memperhatikan kedua pria itu
bertarung. Diantara gerombolan itu, terlihat Yoon juga menonton.
‘’Ternyata
ini benar-benar kota..” Ia menggelengkan kepala spontan kemudian berlalu pergi
menuju kedai makanan. Cukup sederhana dengan meja dan kursi kayu yang tergores
oleh pedang. Menjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi
perkelahian.enjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian.
Benar saja selang beberapa menit setelah pesanan Yoon disajikan, tengah terjadi
pertarungan sengit di kedai itu. Cuma berhalat beberapa buah meja dari
tempatnya duduk. Pelanggan yang lain menjauhkan diri sementara Yoon tetap
dikursinya, tak bergeming sedikitpun. Ia asik sendiri dengan mie tiram panas di
hadapannya. Sesekali beberapa buahpiring melesat ke kepala pemuda itu. Namun,
ia dapat menghindari tanpa menoleh kepiring itu. Usai makan Yoon berlalu pergi
dengan meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
“Kenapa
orang di kota suka sekali bertarung..” Gumamnya heran, karena ini pertama
kalinya ia ke kota, lebih tepatnya pertama kalinya ia melihat dunia luar.
Degub
Seseorang
menabrak Yoon.
‘’Maafkan
aku..Maafkan aku..Aku memang bodoh, aku memang bodoh..” Ucap orang itu sambil
membungkuk beberapa kali.
Yoon
tampak heran, lalu sedikit menyeringai, “Tidak papa, kau tidak perlu
menyalahkan dirimu segitunya...”
“Tidak,
aku memang bodoh, itulah yang selalu mereka katakan kepadaku..”
Mendengar
itu Yoon hanya mengerutkan bibirnya.
“Lalu
kalau aku katakan kau kambing, maka kau akan menganggap dirimu kambing? Heih,
dasar aneh..”
“Ya,
aku aneh..”
“Aneh..Aneh..Aneh..”
“Ya..Aku
aneh..Aku aneh..Aku aneh..”
Apa-apaan orang ini, apa kalau aku katakan
ia kambing ia benar akan merasa dirinya kambing?
“Kau
memang benar-benar aneh Ya.. Sini kepalamu..’’
Pria
itu memegangi kepalanya. “Ada apa dengan kepalaku?’’
“Aku
akan memeriksanya, apakah sarafmu ada yang terkilir..” Yoon kemudian mendekat.
“Memangnya
bisa?”
“Ah.
Tenang saja. Aku ahli dalam hal-hal seperti itu, sini!”
Ia
mendekat, tapi Yoon bukannya memeriksa kepalanya malah memukul kepala orang
itu.
“Aduhh..
kenapa kau memukul kepalaku?”
“Mengobatimu.
Nah mulai sekarang kau akan kembali normal.”
“Uhm,
benarkah?” Ia tampak berfikir.
Yoon
menepuk bahu pria itu “Tentu saja, siapa namamu?”
“Namaku
Yui, tapi orang-orang biasa menyebutku bodoh.”
“Ah lupakan
itu, aku akan memanggilmu Yui dari sekarang.Namaku Yoon.”
“Yoon
artinya perisai kan?”
“Binggo,
tapi bisa juga diartikan pelindung. Nah kau mengerti bahasa Tylame, berarti kau
tidak bodoh.”
Yui
hanya tertawa. Mereka kemudian berjalan pelan. Yoon sedikit menggamit tangan
Yui, seakan meyakinkan Yui sesuatu.
“Kalau mereka masih saja memanggilmu bosoh, pukul saja kepala mereka
seperti ini.” Yoon meninjukan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya.
Yui
menunduk, memandang jalan bebatuan yang mereka pijak. “Aku tidak berani.”
Suaranya terdengar sangat lemah sampai Yoon dibuat geram karenanya. Yoon
menatap mata Yui lekat, mencari kebenaran dibalik mata hitam legam itu.
‘’Kenapa harus takut?itu salah mereka juga kan? Emangnya kau tidak bisa kungfu?’’
pemuda berbaju coklat itu meninggikan suaranya.
“Aku
tidak bisa.’’ Ungkap Yui enteng, Ia sempat menendang sebuah batu kecil yang
hampir mengenai kaki orang lain yang berada di tempat itu. Sebuah kota yang
kebetulan tengah mengadakan pesta kembang api. Jadi tak usah heran jika tempat
ini jejal di penuhi oleh orang dari
berbagai kalangan, mulai dari anak muda, tengah baya, sampah orang tua tak
ketinggalan.
Yoon
tertawa getir. Baru kali ini ia bertemu dengan pemuda sepolos ini. Apalagi
mengangkut masalah kebisaannya dalam kungfu. Biasanya orang akan mati-matian
menutupi bahwa ia tidak bisa menggunakan kungfu. Terlebih kepada orang yang
baru dikenal. Tidak menutup kemungkinan, kejujuran seperti itu dapat
membahayakan nyawa sendiri.
“Fuuh..
dengan kungfu kau bisa melindungi dirimu dan orang lain. Kenapa kau tidak ingin
belajar kungfu hah? Kalau begini lidahku jadi gatal ingin mengataimu bodoh!..”
ia menatap tajam pada pemuda disebelahnya. Yui masih menunduk, membuat separuh
wajahnya tertutupi oleh rambut. Ia kemudian berhenti, mendongakkan kepala
menatap langit hitam yang saat ini dipenuhi oleh kembang api. “Ayahku mati…” ia
memejamkan matanya, mengingat kejadian dua belas tahun silam. “Saat itu desa
kami diserang oleh kelompok berjubah hitam. Mereka bahkan tak membawa senjata,
tapi entah kenapa dari jarak jauh mereka bisa menjatuhkan orang-orang dewasa
pemberani yang mencoba melawan. Aku sangat heran, mata kecilku mencoba
memperhatikan dengan seksama kalau-kalau mereka menggunakan senjata rahasia.
Tapi ayahku bilang itu adalah tenaga dalam—kungfu. Mendengarnya membuatku
semakin heran, kata kungfu tak pernah ku dengar sebelumnya. Apa sebenarnya
kungfu itu? Dan aku yakin semua warga di desa juga tidak tahu. Setelah
mengatakan itu, ayahku tersenyum sebentar, menatapku dalam, seakan ada pesan
yang ia sampaikan lewat tatapannya. Setelah mengelus kepalaku, ia pergi
menghampiri orang-orang berjubah hitam itu. Ayah dan mereka sempat berbincang
sebentar, dari balik jendela rumah aku tak begitu mendengar apa yang mereka
bicarakan, selain kata ‘Zynju’. Perhatianku teralihkan oleh pemandangan yang
membuat mataku terbelalak. Ayah dan para penjahat saling serang, tak hanya adu
pukul, beberapa kali ada semburat ungu dan merah menyelingi pertarungan mereka.
ayahku melayang seakan berdiri di atas angin. Lalu dengan sigap ia merapalkan
tangan di depan dadanya. Dalam satu tarikan nafas, muncul cahaya kebiruan yang
memajang sehingga mengenai para pria berjubah hitam itu sehingga membuat mereka
tumbang. Ayah menginjakkan kakinya ke tanah lagi. Itu adalah keputusan terburuk
yang pernah ayah lakukan, salah satu dari mereka menusukkan belati perak tepat
ke jantung ayahku. Ayahku mati. Sekarang aku tahu satu hal tentang kungfu,
kungfulah yang membawa ayah ke kematiannya. Aku sempat ingin mempelajarinya
untuk membalas dendam ayah, tapi ibu melarangku. Ia bilang tak ingin
kehilanganku seperti ia kehilangan ayah.”
Dalam
hati Yoon tergugah mendengar cerita Yui. Tapi tetap saja menurutnnya seseorang
harus bisa menguasai kungfu, setidaknya untuk penjagaan diri. Ia sempat ingin
membujuk Yui atau lebih tepatnya memaksa. Namun entah kenapa niat itu ia kubur
dalam-dalam. Karena yang menyuruh Yui untuk menjauhi kungfu bukan berasal dari
diri Yui sendiri tapi dari ibunya.
Yoon
menarik nafas panjang. “Ah..kasian sekali kau. Aku juga sudahkehilangan ibuku.
Dan ayahku, ia sangat menyebalkan’’. Ia mengerutkan ujung bibirnya. Yui spontan
menatap Yoon. “Eh..kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Bagaimanapun dia
itu ayahmu.” Yoon tak begitu menanggapi, ia memutar bola matanya.
“Ya..ya..ya..tuan yang baik. Lalu sekarang kita mau kemana..?”
Yui
memicingkan matanya, lalu tiba-tiba tersenyum aneh. “Aku akan memperkenalkan
kau dengan ibuku. Dia adalah wanita tercantik di dunia..” orang disebelahnya
mendengus kecil, “Ha.. aku tidak sabar menemuinya.’’
Seperti
yang dikatakan Yui mengajak Yoon menemui ibunya. Yui bilang ibunya menjual buah
persik tak jauh dari sana. Kembang api masih meletup-letup di langit.
“Sebenarnya benda di atas sana apa?” kali ini Yoon yang tampak seperti orang
bodoh. Ia mengacungkan telunjuknya pada kembang api yang bersinar warna-warni.
“Tentu saja itu kembang api. Bukankah ini pestival kembang api.”
“Tidak ku sangka aku bisa melihatnya, dari dulu aku sangat
menunggu hari seperti ini.” Yoon bergumam pelan membuat Yui mendekatkan
telinganya. “Apa yang kau katakan..” Balasnya. “Tidak ada.” Yoon mempercepat
langkah melewati kerumunan orang.
‘’Ma..maafkan saya tuan, tapi saya belum punya uang..’’
wanita tua itu bersimpuh memeluk kaki seorang pria berbaju biru kelam.
Dagangannya diobrak-abrik oleh beberapa orang, dari pakaiannya dapat dipastikan
bahwa mereka prajurit istana. Kecuali pria yang dipeluk kakinya oleh wanita tua
tadi.
Hal itu
menarik perhatian Yoon, ia mematung sesaat sebelum panggilan Yui
menyadarkannya. “Hei..Yoon, kau cepat sekali.’’ Pandangan Yui teralih pada
wanita tua itu lalu berlari ke arahnya. “Ibu..apa yang terjadi?” ia mengangkat
tubuh ibunya untuk berdiri. ‘’Ada apa ini bu?’’ Yui terlihat sangat panik,
namun ibunya masih belum bisa menjawab pertanyaan putranya itu.
Yoon
menyusul, “Apa yang kalian lakukan, apa kalian tidak malu melawan wanita yang
tidak berdaya?!” Ia mengacungkan mata kea rah prajurut istana.
Atasan
mereka yang belakangan di ketahui bernama Tsui menjadi lawan Yoon berbicara.
Pembawaannya tenang, tapi dimatanya terlihat jelas kharakter aslinya. ‘’Wanita
ini tidak membayar pajak istana.’’ Jawab orang itu, singkat padat dan ringkas.
Yoon menimpali, “Bukankah pajak bisa di bayar nanti, mungkin saat ini ibu itu
lagi tidak mempunyai uang.”
“Kalau dibiarkan, kas istana akan
kosong.” Orang-orang semakin merapat, kembang api tak lagi dihiraukan.
“Apa kas Negara hanya di dapat
dari sektor pajak saja hah?! Bukankah masih banyak lagi. Hasil penjualan
rempah-rempah, perekrutan prajurit, deposito pejabat. Bukankah istana
seharusnya menjamin kesejahteraan rakyatnya? Apakah ini yang dinamakan prajurit
istana? Hanya sampah yang bisanya menindas kaum lemah..”
Orang yang menonton dapat
menangkap maksud Yoon dan tampak mendukungnya. Tsui hanya meneguk liur, ia
kemudian bersama para prajurit kembali ke istana. Kerumunan pun bubar,
menyisakan Yoon, Yui dan ibunya.
“Anda tidak papa?” Yoon ikut
memegangi wanita paruh baya yanga tak lain adalah ibu Yui.
“Terimakasih anak muda.” Wanita
itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang sedikit kehitaman. Yoon membalas
senyumnya. Tinggi Yoon hampir sama dengan ibunya Yui, fosturnya tak berotot
lebih terlihat seperti tubuh seorang waanita. Sementara Yui memiliki tubuh
tinggi dengan perawakan tegap, tinggi Yoon sendiri hanya sebatas leher Yui.
Tapi sayang nyalinya ciut.
Yui mengambil alih pembicaraan,
‘’ini teman Yui, namanya Yoon. Ia memang sangat baik bu.” Kembali, Yui
tersenyum aneh. “Orang tuamu pasti bangga memiliki putra seperti mu..” wanita
itu menepuk pundak Yoon. Orang yang ditepuk hanya cengengesan.
Kenapa mereka berlebihan sekali, padahal aku hanya berbicara sedikit.
Dasar keluarga aneh
“Dari mana asalmu nak..” Tanya
ibu Yui lagi.
“Aku berasal dari sebuah pilau
kecil di selatan. Saat ini aku sedang dalam perantauan.” Ia meraih sebiji
persik yang terjatuh ke tanah, lalu meletakan di atas meja dagangan wanita itu.
Yui dan ibunya melakuan hal yang sama, merapikan buah-buahan yang dihamburkan
oleh prajurit istana tadi. “Begitu rupanya, kalau tidak keberatan, tinggalah di
rumah kami.
Ohoho aku sangat tidak keberatan.
“Tidak usah bu, aku tidak ingin
merepotkan. Lagipula disini banyak penginapan.” Yoon pura-pura menolak, ia
menunjuk sebuah rumah yang ia pikir adalah penginapan, padahal lumbung padi.
Yui dan ibunya tertawa kecil, membuat Yoon sedikit bingung, “Apa kau akan
menginap di lumbung padi?” ejek Yui. “Setiap pestival kembang api, penginapan selalu penuh.” Masih
dengan senyum anehnya, Yui mencoba meyakinkan temannya itu. “Tidak apa-apa nak,
tinggalah sebentar di rumah kami. Meski sederhana akan lebih baik daripada tidur di luar..” dengan lembut
ibu Yui mengusap bahu Yoon.
“Baiklah kalau begitu..”
Mereka
berdua mengangguk.
Di
kanan kiri masih ramai orang lalu lalang, sementara kembang api sudah tak lagi
menyala di langit, menyisakan bintang yang tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar