Senin, 08 Februari 2016

Around the Land chapter 2

Kara menatap serpihan terakhir rumahnya yang dilalap api. Tempatnya bernaung, semua kenangan yang ada di dalamnya lenyap seketika. Kembali, mata Kara tampak berkilat tajam.
                “Mereka akan membayar semua ini.”
                Langkah kaki terdengar kemudian. “Tak ada yang selamat.” Ucap Suzi.
                “Lalu apa sekarang?” Kara menjatuhkan lututnya menyentuh lantai. Ia sudah kehilangan jalan hidup. Terlebih saat Ibunya  tak tahu ada dimana sekarang.
                “Kita harusmencari ibu, entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ibu masih hidup.’’
                Pria disebelahnya hanya diam, Kara lalu meraup butiran pasir. “Kemana kita harus mencarinya..”
                “Ke kota. Satu-satunya tempat yang aman adalah di keramaian. Kurasa kota jawaban yang tepat.”
                Kara hanya mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya berdiri. “Ayo kita pergi”.
****
                Buukk..
                “Mengurus tiga orang peyot saja tidak becus..” ia sukses mendaratkan pukulan ke tubuh anak buahnya.
                “Bukan begitu tuan, dijalan tiba-tiba ada seorang pemuda yang menolong mereka. Ilmu silatnya sangat tinggi..
                BUUKK..
                Komandan mereka memukul lagi, kini lebih keras.
                “Seorang, hanya seoRANG!! Sedangkan kalian berlima. Apa selama ini aku memperkerjakan sampah Hah!”
                “Dia terlalu sakti bagi kami..” Seseorang yang bertubuh lebih kekar dari yang lain dengan perawakan tinggi dan otot yang menonjol  memberanikan diri untuk berucap.
                “Katakan, siapa dia..”
                “Dia bilang, namanya Yoon, pendekar dari Laut Selatan.”
                “Yoon si pendekar laut selatan..” Ia tampak berfikir, “Aku baru kali ini mendengar nama itu. Tapi kalau pendekar Laut Selatan itu adalah Qyu Juqo. Apa Yoon itu sudah tua? Tanyanya lagi.
                “Tidak ia masih sangat muda.”
                “Hmm.. Masih muda ya.” Komandan yang belakangan diketahui bernama Jing Ming itu mengelus jenggotnya. “Seorang anak muda tetapi memiliki ilmu silat tingkat tinggi, ia pasti ada hubungan dengan Qyu Jugo. Tidak bagus kalau berurusan dengan orang itu.” Ia berhenti sejenak, “Kalian semua pergilah, kumpulkan lahi informasi mengenai Twejinggu.”
                “Baik..”
                Kawanan berbaju hitam itu menghilang dengan cepat, meninggalkan pemimpin mereka sendirian, berpegut gemelut dengan fikirannya.
                “Yoon.. Aku akan mengingatnya.”
****
                Kembang api merajai langit malam, ditambah lagi riau-riuh orang-orang yangmemadati kota malam itu. Ada yang asik menawarkan barang dagangannya. Ada yang sibuk melihat-lihat. Ada juga yang mempertontonkan aksi silatnya untuk mendapatkan Zara.
                “Jadi ini yang namanya kota seperti yang diceritakan Nona Xiao Jie.Wah, orangnya banyak sekali.” Yoon tampak melihat-lihat, jubah hitamnya ia tanggalkan di lenngannya agar dapat berbaur dengan yang lain. Matanya tertuju pada tumpukan buah persik yang mengingatkannya dengan tempatnya berasal. “Ayah maafkan aku.”
                “Hah.. Sudah kubilang ini daerah kekuasaanku.” Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya membuat suatu perkara.
                “Kurang ajar, kau hanya memutuskan secara sepihak.”
                “Kalau begitu kita tunjukkan mana yang terkuat.” Tanpa basa-basi pria itu menendang lawan bicaranya.
                Semua aktifitas lain terhenti. Orang-orang tengah memperhatikan kedua pria itu bertarung. Diantara gerombolan itu, terlihat Yoon juga menonton.
                ‘’Ternyata ini benar-benar kota..” Ia menggelengkan kepala spontan kemudian berlalu pergi menuju kedai makanan. Cukup sederhana dengan meja dan kursi kayu yang tergores oleh pedang. Menjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian.enjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian. Benar saja selang beberapa menit setelah pesanan Yoon disajikan, tengah terjadi pertarungan sengit di kedai itu. Cuma berhalat beberapa buah meja dari tempatnya duduk. Pelanggan yang lain menjauhkan diri sementara Yoon tetap dikursinya, tak bergeming sedikitpun. Ia asik sendiri dengan mie tiram panas di hadapannya. Sesekali beberapa buahpiring melesat ke kepala pemuda itu. Namun, ia dapat menghindari tanpa menoleh kepiring itu. Usai makan Yoon berlalu pergi dengan meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
                “Kenapa orang di kota suka sekali bertarung..” Gumamnya heran, karena ini pertama kalinya ia ke kota, lebih tepatnya pertama kalinya ia melihat dunia luar.
Degub
                Seseorang menabrak Yoon.
                ‘’Maafkan aku..Maafkan aku..Aku memang bodoh, aku memang bodoh..” Ucap orang itu sambil membungkuk beberapa kali.
                Yoon tampak heran, lalu sedikit menyeringai, “Tidak papa, kau tidak perlu menyalahkan dirimu segitunya...”
                “Tidak, aku memang bodoh, itulah yang selalu mereka katakan kepadaku..”
                Mendengar itu Yoon hanya mengerutkan bibirnya.
                “Lalu kalau aku katakan kau kambing, maka kau akan menganggap dirimu kambing? Heih, dasar aneh..”
                “Ya, aku aneh..”
                “Aneh..Aneh..Aneh..”
                “Ya..Aku aneh..Aku aneh..Aku aneh..”
                Apa-apaan orang ini, apa kalau aku katakan ia kambing ia benar akan merasa dirinya kambing?
                “Kau memang benar-benar aneh Ya.. Sini kepalamu..’’
                Pria itu memegangi kepalanya. “Ada apa dengan kepalaku?’’
                “Aku akan memeriksanya, apakah sarafmu ada yang terkilir..” Yoon kemudian mendekat.
                “Memangnya bisa?”
                “Ah. Tenang saja. Aku ahli dalam hal-hal seperti itu, sini!”
                Ia mendekat, tapi Yoon bukannya memeriksa kepalanya malah memukul kepala orang itu.
                “Aduhh.. kenapa kau memukul kepalaku?”
                “Mengobatimu. Nah mulai sekarang kau akan kembali normal.”
                “Uhm, benarkah?” Ia tampak berfikir.
                Yoon menepuk bahu pria itu “Tentu saja, siapa namamu?”
                “Namaku Yui, tapi orang-orang biasa menyebutku bodoh.”
                “Ah lupakan itu, aku akan memanggilmu Yui dari sekarang.Namaku Yoon.”
                “Yoon artinya perisai kan?”
                “Binggo, tapi bisa juga diartikan pelindung. Nah kau mengerti bahasa Tylame, berarti kau tidak bodoh.”
                Yui hanya tertawa. Mereka kemudian berjalan pelan. Yoon sedikit menggamit tangan Yui, seakan meyakinkan Yui sesuatu.  “Kalau mereka masih saja memanggilmu bosoh, pukul saja kepala mereka seperti ini.” Yoon meninjukan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya.
                Yui menunduk, memandang jalan bebatuan yang mereka pijak. “Aku tidak berani.” Suaranya terdengar sangat lemah sampai Yoon dibuat geram karenanya. Yoon menatap mata Yui lekat, mencari kebenaran dibalik mata hitam legam itu. ‘’Kenapa harus takut?itu salah mereka juga kan? Emangnya kau tidak bisa kungfu?’’ pemuda berbaju coklat itu meninggikan suaranya.
                “Aku tidak bisa.’’ Ungkap Yui enteng, Ia sempat menendang sebuah batu kecil yang hampir mengenai kaki orang lain yang berada di tempat itu. Sebuah kota yang kebetulan tengah mengadakan pesta kembang api. Jadi tak usah heran jika tempat ini jejal di penuhi oleh  orang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, tengah baya, sampah orang tua tak ketinggalan.
                Yoon tertawa getir. Baru kali ini ia bertemu dengan pemuda sepolos ini. Apalagi mengangkut masalah kebisaannya dalam kungfu. Biasanya orang akan mati-matian menutupi bahwa ia tidak bisa menggunakan kungfu. Terlebih kepada orang yang baru dikenal. Tidak menutup kemungkinan, kejujuran seperti itu dapat membahayakan nyawa sendiri.
                “Fuuh.. dengan kungfu kau bisa melindungi dirimu dan orang lain. Kenapa kau tidak ingin belajar kungfu hah? Kalau begini lidahku jadi gatal ingin mengataimu bodoh!..” ia menatap tajam pada pemuda disebelahnya. Yui masih menunduk, membuat separuh wajahnya tertutupi oleh rambut. Ia kemudian berhenti, mendongakkan kepala menatap langit hitam yang saat ini dipenuhi oleh kembang api. “Ayahku mati…” ia memejamkan matanya, mengingat kejadian dua belas tahun silam. “Saat itu desa kami diserang oleh kelompok berjubah hitam. Mereka bahkan tak membawa senjata, tapi entah kenapa dari jarak jauh mereka bisa menjatuhkan orang-orang dewasa pemberani yang mencoba melawan. Aku sangat heran, mata kecilku mencoba memperhatikan dengan seksama kalau-kalau mereka menggunakan senjata rahasia. Tapi ayahku bilang itu adalah tenaga dalam—kungfu. Mendengarnya membuatku semakin heran, kata kungfu tak pernah ku dengar sebelumnya. Apa sebenarnya kungfu itu? Dan aku yakin semua warga di desa juga tidak tahu. Setelah mengatakan itu, ayahku tersenyum sebentar, menatapku dalam, seakan ada pesan yang ia sampaikan lewat tatapannya. Setelah mengelus kepalaku, ia pergi menghampiri orang-orang berjubah hitam itu. Ayah dan mereka sempat berbincang sebentar, dari balik jendela rumah aku tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan, selain kata ‘Zynju’. Perhatianku teralihkan oleh pemandangan yang membuat mataku terbelalak. Ayah dan para penjahat saling serang, tak hanya adu pukul, beberapa kali ada semburat ungu dan merah menyelingi pertarungan mereka. ayahku melayang seakan berdiri di atas angin. Lalu dengan sigap ia merapalkan tangan di depan dadanya. Dalam satu tarikan nafas, muncul cahaya kebiruan yang memajang sehingga mengenai para pria berjubah hitam itu sehingga membuat mereka tumbang. Ayah menginjakkan kakinya ke tanah lagi. Itu adalah keputusan terburuk yang pernah ayah lakukan, salah satu dari mereka menusukkan belati perak tepat ke jantung ayahku. Ayahku mati. Sekarang aku tahu satu hal tentang kungfu, kungfulah yang membawa ayah ke kematiannya. Aku sempat ingin mempelajarinya untuk membalas dendam ayah, tapi ibu melarangku. Ia bilang tak ingin kehilanganku seperti ia kehilangan ayah.”
                Dalam hati Yoon tergugah mendengar cerita Yui. Tapi tetap saja menurutnnya seseorang harus bisa menguasai kungfu, setidaknya untuk penjagaan diri. Ia sempat ingin membujuk Yui atau lebih tepatnya memaksa. Namun entah kenapa niat itu ia kubur dalam-dalam. Karena yang menyuruh Yui untuk menjauhi kungfu bukan berasal dari diri Yui sendiri tapi dari ibunya.
                Yoon menarik nafas panjang. “Ah..kasian sekali kau. Aku juga sudahkehilangan ibuku. Dan ayahku, ia sangat menyebalkan’’. Ia mengerutkan ujung bibirnya. Yui spontan menatap Yoon. “Eh..kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Bagaimanapun dia itu ayahmu.” Yoon tak begitu menanggapi, ia memutar bola matanya. “Ya..ya..ya..tuan yang baik. Lalu sekarang kita mau kemana..?”
                Yui memicingkan matanya, lalu tiba-tiba tersenyum aneh. “Aku akan memperkenalkan kau dengan ibuku. Dia adalah wanita tercantik di dunia..” orang disebelahnya mendengus kecil, “Ha.. aku tidak sabar menemuinya.’’
                Seperti yang dikatakan Yui mengajak Yoon menemui ibunya. Yui bilang ibunya menjual buah persik tak jauh dari sana. Kembang api masih meletup-letup di langit. “Sebenarnya benda di atas sana apa?” kali ini Yoon yang tampak seperti orang bodoh. Ia mengacungkan telunjuknya pada kembang api yang bersinar warna-warni. “Tentu saja itu kembang api. Bukankah ini pestival kembang api.”
“Tidak ku sangka aku bisa melihatnya, dari dulu aku sangat menunggu hari seperti ini.” Yoon bergumam pelan membuat Yui mendekatkan telinganya. “Apa yang kau katakan..” Balasnya. “Tidak ada.” Yoon mempercepat langkah melewati kerumunan orang.
‘’Ma..maafkan saya tuan, tapi saya belum punya uang..’’ wanita tua itu bersimpuh memeluk kaki seorang pria berbaju biru kelam. Dagangannya diobrak-abrik oleh beberapa orang, dari pakaiannya dapat dipastikan bahwa mereka prajurit istana. Kecuali pria yang dipeluk kakinya oleh wanita tua tadi.
                Hal itu menarik perhatian Yoon, ia mematung sesaat sebelum panggilan Yui menyadarkannya. “Hei..Yoon, kau cepat sekali.’’ Pandangan Yui teralih pada wanita tua itu lalu berlari ke arahnya. “Ibu..apa yang terjadi?” ia mengangkat tubuh ibunya untuk berdiri. ‘’Ada apa ini bu?’’ Yui terlihat sangat panik, namun ibunya masih belum bisa menjawab pertanyaan putranya itu.
                Yoon menyusul, “Apa yang kalian lakukan, apa kalian tidak malu melawan wanita yang tidak berdaya?!” Ia mengacungkan mata kea rah prajurut istana.
                Atasan mereka yang belakangan di ketahui bernama Tsui menjadi lawan Yoon berbicara. Pembawaannya tenang, tapi dimatanya terlihat jelas kharakter aslinya. ‘’Wanita ini tidak membayar pajak istana.’’ Jawab orang itu, singkat padat dan ringkas. Yoon menimpali, “Bukankah pajak bisa di bayar nanti, mungkin saat ini ibu itu lagi tidak mempunyai uang.”
“Kalau dibiarkan, kas istana akan kosong.” Orang-orang semakin merapat, kembang api tak lagi dihiraukan.
“Apa kas Negara hanya di dapat dari sektor pajak saja hah?! Bukankah masih banyak lagi. Hasil penjualan rempah-rempah, perekrutan prajurit, deposito pejabat. Bukankah istana seharusnya menjamin kesejahteraan rakyatnya? Apakah ini yang dinamakan prajurit istana? Hanya sampah yang bisanya menindas kaum lemah..”
Orang yang menonton dapat menangkap maksud Yoon dan tampak mendukungnya. Tsui hanya meneguk liur, ia kemudian bersama para prajurit kembali ke istana. Kerumunan pun bubar, menyisakan Yoon, Yui dan ibunya.
“Anda tidak papa?” Yoon ikut memegangi wanita paruh baya yanga tak lain adalah ibu Yui.
“Terimakasih anak muda.” Wanita itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang sedikit kehitaman. Yoon membalas senyumnya. Tinggi Yoon hampir sama dengan ibunya Yui, fosturnya tak berotot lebih terlihat seperti tubuh seorang waanita. Sementara Yui memiliki tubuh tinggi dengan perawakan tegap, tinggi Yoon sendiri hanya sebatas leher Yui. Tapi sayang nyalinya ciut.
Yui mengambil alih pembicaraan, ‘’ini teman Yui, namanya Yoon. Ia memang sangat baik bu.” Kembali, Yui tersenyum aneh. “Orang tuamu pasti bangga memiliki putra seperti mu..” wanita itu menepuk pundak Yoon. Orang yang ditepuk hanya cengengesan.
Kenapa mereka berlebihan sekali, padahal aku hanya berbicara sedikit. Dasar keluarga aneh
“Dari mana asalmu nak..” Tanya ibu Yui lagi.
“Aku berasal dari sebuah pilau kecil di selatan. Saat ini aku sedang dalam perantauan.” Ia meraih sebiji persik yang terjatuh ke tanah, lalu meletakan di atas meja dagangan wanita itu. Yui dan ibunya melakuan hal yang sama, merapikan buah-buahan yang dihamburkan oleh prajurit istana tadi. “Begitu rupanya, kalau tidak keberatan, tinggalah di rumah kami.
Ohoho aku sangat tidak keberatan.
“Tidak usah bu, aku tidak ingin merepotkan. Lagipula disini banyak penginapan.” Yoon pura-pura menolak, ia menunjuk sebuah rumah yang ia pikir adalah penginapan, padahal lumbung padi. Yui dan ibunya tertawa kecil, membuat Yoon sedikit bingung, “Apa kau akan menginap di lumbung padi?” ejek Yui. “Setiap pestival  kembang api, penginapan selalu penuh.” Masih dengan senyum anehnya, Yui mencoba meyakinkan temannya itu. “Tidak apa-apa nak, tinggalah sebentar di rumah kami. Meski sederhana akan lebih  baik daripada tidur di luar..” dengan lembut ibu Yui mengusap bahu Yoon.
“Baiklah kalau begitu..”
                Mereka berdua mengangguk.
                Di kanan kiri masih ramai orang lalu lalang, sementara kembang api sudah tak lagi menyala di langit, menyisakan bintang yang tenang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...