Rabu, 10 Februari 2016

IT'S ME


IT'S ME

IT’S ME
Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat pula –Kolong Jembatan.  Dan yang lebih hebatnya lagi, aku tidak tau siapa ayahku. Setiap kali aku bertanya pada Ibu, ia hanya tersenyum, menampilkan keriput yang semakin hari semakin menghias wajahnya. Aku tahu ia lelah, mengumpulkan barang bekas, untuk menghidupiku dan kakak lelaki ku, Jono. Tapi aku lebih suka menyebutnya John, dengan harapan ia mencadi orang sekuat Criss John, petinju kelahiran Indonesia yang memenangkan pertandingan tinju dunia.
John tidak seberuntung anak yang lain, ia menderita tetanus sejak kecil atau bahkan penyakit itu sudah di deritanya saat masih di dalam kandungan. Tentunya dengan penghasilan Ibu Rp. 5.000- perhari, membuat kebetuhan gizi John tidak dapat terpenuhi. Ia lumpuh total, tak ada satupun anggota gerak atas atau bawah yang bisa di gerakkan, kecuali otot pernafasan dan otot disekitar rahangnya. Itulah sebabnya, sampai sekarang John masih bisa melihat dunia ini. Walau setiap harinya, setiap detik dalam hidupnya ia hanya berbaring di atas tumpukan kardus, yang kami sebut sebagai kasur. Ibu, tak henti-hentinya juga merawat adik lelakiku itu, menyuapinya saat makan, membersihkan tubuhnya sampai mencebokinya. Kadang ada pertanyaan besar di dalam hatiku, kenapa ibu tak pernah lelah bahkan bosan. Kenapa ibu tak mengembalikan John ke sisi Tuhan. Hanya dengan menutup hidung John, maka ia akan mati. Terlepaslah salah satu beban terbesar dalam hidup Ibu. Lagi pula tidak ada yang tau juga bahwa Ibu yang membunuhnya. Hanya tinggal mengatakan John mengalami komplikasi jantung atau apa orang pasti akan percaya. Terlebih lagi, orang tidak akan peduli dengan nasib kaum rendah seperti kami. Contohnya saja, media tak pernah meliput seputar kehidupan kami, bagaimana kami menjalani hari-hari berat ini, seberapa banyak rekan kami yang mati karena kelaparan, atau bagaimana kami bisa makan setiap harinya. Kalau sudah berhubungan hal semacam itu, public seakan tutup mata dan telinga. Kalau saja sesuatu yang berhubungan dengan pejabat atau artis, mereka seakan kesetanan. Saling berebut hanya untuk menanyakan suatu pendapat tentang hal kecil, tentang alasan sebuah perceraian contohnya. Mereka mati-matian untuk menutupi urusan rumah tangganya, tapi kalian juga mati-matian menguak semua. Apa kalian sadar mereka tidak ingin kalian mengetahui semua itu? Lalu kenapa kalian tidak menguak kehidupan kami saja? Kami akan dengan senang hati menceritakan pada kalian, seberapa inginnya kami diketahui oleh kalian, Kami ingin kalian mengetahui penderitaan kami disini. Atau permintaan yang lebih sederhananya kami ingin kalian akui. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang-orang seperti kami hanya di pandang sebelah mata. Dimana mata kalian yang satunya? Apa mata yang satu itu akan aktif menjalankan fungsinya sebagai indera penglihatan saat berhubungan dengan uang, pangkat atau jabatan? Menyedihkan.
Ah, lupakan tentang keluhanku tadi. Aku terlalu terbawa emosi mengungkapkannya. Kalian akan dengan sendirinya sadar. Bahwa dimana ada cahaya –Tempat Kalian Tinggal pasti akan ada bayangan yang menyertainya –Tempat Kami. Kalau tidak sekarang, nanti. Kalau bukan kalian, maka anak-anak kalian. Dan kalau bukan anak-anak kalian juga, cucu kalian. Akan selalu ada harapan, aku percaya itu.
Setiap pagi sampai jam dua belas aku membantu Ibu mencari nafkah dengan menjadi tukang semir sepatu disalah satu sekolah dasar. Setelah itu aku akan menuju ke tempat pembaungan sampah terbesar di kota kami untuk menemani ibu mengumpulkan barang bekas. Jadwal yang terlalu sibuk untuk anak yang baru berusia 7 tahun.Sekilas aku merasa seperti seorang ayah. Meski dengan tangan kecil ini tak begitu banyak membantu orang yang telah melahirkan ku itu. Dan malamnya, aku akan mengajak John berbicara. Memperbincangkan tentang segala hal, mode yang sedang trend saat ini, masalah social di masyarakat, bahkan tentang pemilu berdasi. Itu sebutan kami untuk pemilu yang menggunakan system sogok. Yang melakukannya adalah orang-orang yang berdasi, para terpelajar, sarjana hukum. Tapi bahkan mereka tak bisa mengamalkan isi UUD 1945 tentang pemilu Luber jurdil –Langsung Umun Bebas Rahasia, Jujur dan Adil. Apa mereka mempelajari pengetahuan hukum yang terlalu mendalam sampai lupa dasarnya? Aku bahkan telah mendengar istilah itu ketika umurku baru 5 tahun, saat tak sengaja melintas di depan ruang kelas empat SD. Kalian tidak berlaku adil artinya kalian juga tidak mengamalkan sila yang pertama Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
John hanya tertawa saat aku mengoceh seperti itu. Ia tak pernah merespon ucapanku. Atau yang lebih tepatnya lagi, Ia memang tidak bisa berbicara. Tertawa yang aku maksud tadipun hanya sebatas ia memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam. Meskipun begitu aku sudah cukup tenang, ada orang yang mendengarkan perkataanku. Kalau aku katakan topik ini pada orang yang berdasi, bisa-bisa aku dituntut atas nama pencemaran nama baik. Terlalu mudah bagi mereka untuk bermain-main dengan hukum. Hanya tinggal mengedipkan sebelah mata dan uang gepokan maka aku akan benar berada di penjara. Terlalu sulit untuk mencari keadilan dinegeri ini. Disatu sisi aku bangga menjadi bagian dari negeri yang memiliki bermacam-macam budaya, bahasa, suku, dan sumber alam yang berlimpah. Aku sering tersenyum sendiri saat mendengar ada anak Indonesia yang memenangkan Olimpiade Fisika dunia. Saat Indonesia diakui oleh bangsa asing sebagai Negara terramah.  Aku girangnya bukan main, karena aku juga bagian dari Indonesia. Itu artinya mereka mengakuiku. Tapi disisi lain aku sangat kecewa. Kecewa dengan pemerintah yang membiarkan sumber daya kita dikelola oleh pihak asing, secara tidak langsung sebenarnya kita dijajah. Kecewa dengan buruknya system pemerintahan. Korupsi dimana-mana, sogok merajalela, dan system nipotisme yang terus hidup. Buruknya system itu menyebabkan perut kosong. Dalam artian luas apabila perut kosong, maka orang yang awalnya baik bisa jadi sangat jahat. Terjadi perampokan yang tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi pembunuhan. Maka saat itu berlakulah system rimba, yang kuat yang berkuasa. Yang lemah tetaplah menjadi terpinggirkan. Hidup seperti tidak hidup seperti sekarang ini. Bukankah syarat hidup yang baik adanya keseimbangan antara gerak, istirahat, dan refresing. Sekarang yang kami tanyakan, apa pergi ketempat pembuangan sampah bisa dikatakan refresing? Atau para nelayan yang menangkap ikan dilaut setiap harinya juga bisa dikatakan refresing? Kalian beruntung pada waktu tertentu bisa berlibur bersama keluarga ke pantai, kegunung, atau wahana permainan. Kalian dapat merasakan hakikat refresing yang sebenarnya. Tanpa harus ambil pusing tentang kehidupan orang-orang terpinggir di luar sana.
Tak terasa air mataku keluar. Dan kurasa John menyadarinya, Ia dengan suara tak jelas seperti mengatakan sesuatu.Suaranya bahkan lebih tak jelas dari sebuah dengkurab. Aku yang seakan mengerti maksud John yang sebenarnya, hanya mengatakan bahwa mataku kemasukan debu. Tapi kurasa itu tak berhasil. Karena John termasuk dalam daftar salah satu orang yang tak bisa kubohongi. Selain ibu tentunya. Dan mungkin juga ayah. Kalau saja ayahku ada di sini. Aku tak pernah melihatnya, apa dia adalah pria yang tinggi dengan urat kekar di tangannya sebagai tanda seorang pekerja keras. Ataukah tergolong orang berdasi yang sedari dulu aku bicarakan di depan John. Aku bahkan sering berpikir tentang kehidupan Ibu semasa ayah masih ada. Mungkin saja dulu kami adalah orang terkaya di kota ini. Rumah ada di ke 34 Provinsi di Indonesia. Memiliki beberapa buah mobil Ferrari dan Lamborghini. Lalu pada saat telah mencapau puncak ke suksesan itu, tiba-tiba ayah sakit. Semua asset kekayaan dijual untuk mengobati penyakitnya. Akhirnya pada saat yang tak menguntungkan ayah meninggal saat ibu mengandungku. Dan jadilah hidup kami yang sekarang ini. Mungkin sajakan?
Aku terus menanyakan hal itu pada Ibu. Baik pagi, siang, sore, malam. Entah karena beruntung atau Ibu sudah bosan mendengar pertanyaanku yang sama, ibu mengatakan semuanya. Ya, semuanya. Hatiku terasa perih saat mendengar itu. Bahkan sebagian dari diriku menolaknya. Ayah bukan orang seperti itukan? Ibu hanya berbohong agar aku tidak bertanya lagi kan?
Tangisku kian deras. Ibu lalu memelukku sambil mengusap kepalaku. Ibu juga mengatakan itulah sebabnya, ia merahasiakan itu dariku. Tak biasanya aku menangis seperti ini. Mengetahui bahwa ayahku hanya seorang pemabuk, penjudi, perampok, dan hal bejat lainnya, membuat hatiku terkoyak. Seberapa kali aku memikirkan tentang ayah dulu dengan berbagai perspeksi yang berbeda, aku tak pernah terpikir untuk ini. Kadang kenyataan memang sangat menyakitkan. Bahkan untuk anak seusiaku yang seharusnya tak tahu menahu tentang semua ini. Seorang anak hanya diwajibkan untuk tersenyum. Karena ini memang sudah garis tangannya. Tapi mungkin untuk beberapa anak ada pengecualian.
Kali ini aku yang melihat ibu menangis terisak. Membuat perasaanku yang sudah berkeping-keping menjadi semakin hancur. Ini tak biasanya, Ia menangis di depanku, tidak juga pada John. Ibu lebih sering menangis di sisi kolong jembatan yang lain. Sengaja agar kedua putranya tidak mengetahui rasa sakitnya. Atau lebih tepatnya tidak membiarkan putranya tertular rasa sakit. Meskipun begitu aku sering diam-diam mengikuti Ibu lalu setelah itu kulihat dia menghempaskan diri ke tanah. Ibu menangis. Matahari terbitku itu menangis.
Pernah sekaliI Ibu memergokiku mengintipnya. Dan secara tak langsung aku dapat melihat mata sembab itu terlihat merah dan berair. Ibu sangat marah padaku. Aku bertanya padanya kenapa Ia harus marah hanya karena aku melihatnya menangis. Ibu tetap saja marah tak menjawab pertanyaanku. Sekarang aku mulai mengerti apa alasannya. Itu sama saja ketika kau melihat bagian tubuh orang lain. Sesuatu yang harusnya di tutupi.
Kadang ada bebrapa hal yang tidak dapat kumengerti. Tidak untuk sekarang. Tidak pada usia ini. Semua perasaan yang menyeruak di dalam hati, hanya aku pendam begitu saja. Kadang ada beberapa keberanian untuk menceritakannya pada John. Mungkin ini satu-satunya jalan keluar untuk saat ini. Tak peduli seberapa banyak yang kuceritakaan, John hanya diam. Itu juga yang menjadi alas anku berani untuk mengungkapkannya.
Jika tak begitu, aku hanya perlu merenung sendirian di tepi sungai Cimari, memperhatikan warna air yang kuning keruh. Yang bahkan tak suka dipandang oleh kebanyakan orang, apalagi sampai digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, setidaknya itu bagi kami, baik mandi, mencuci, buang air, bahkan dijadikan air untuk minum semuanya dari sungai itu. Bisa dikatakan sungai adalah anak Tuhan bagi kami. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan  jutaan bakteri yang terkandung di dalamnya, atau tentang standart kelayakan untuk digunakan. Kalau ditanyakan layak tidaknya, sudah pasti tidak layak 100% bahkan 1000%. Setidaknya air disungai itu, bisa di dapatkan secara gratis. Tidak perlu merogoh kocek untuk mendapatkannya. Tidak seperti orang berada yang bisa membeli air bersih sepuasnya dengan harga yang terbilang murah bagi mereka. Rp. 5000- pergalon. Tidak untuk kami, jika kami memaksakan untuk membelinya, dengan penghasilan RP. 5000- perhari itu artinya kami harus merelakan untuk tidak makan sehari itu. Sungguh bayaran yang tidak sebanding.
Jika bisa berharap, permintaan ku tidak muluk-muluk. Hanya sebuah permintaan sederhana untuk dapat hidup sederhana. Yang penting setiap hari kami bisa makan, tak usalah makanan harga lestoran. Cukup nasi dan lauk seadanya. Lalu yang kedua, aku ingin bersekolah, aku harap John juga. Meski harus jalan kaki setiap harinya, tak meminta kendaraan mewah, gadget, playstation, dan barang-barang yang bahkan tak berani kuhayalkan.
Dan yang terakhir, aku ingin ibu selalu bahagia dan tetap sehat. John bisa sembuh dan bisa bermain seperti anak lainnya.  Cukup itu saja Tuhan. Aku tak berani untuk meminta lebih. Dapat memimpikannya saja dalam tidur sudah merupakan anugrah teramat besar. Terlepas dari semua itu, aku percaya semua yang Engkau rencanakan adalah hal yang terbaik bagi kami. Seperti kata pepatah. Apa yang engkau cintai kadang tidak baik bagimu, dan apa yang engkau benci adalah yang terbaik untukmu.

Selasa, 09 Februari 2016

Around the Land chapter 3

                Suzi dan Kara telah sampai di kota. Mereka duduk di pohon Akasia besar berdiameter sekitar 1 meter, letaknya tepat di tengah-tengah keramaian. Suzi menyandarkan tubuhnya ke pohon  itu, ia kemudian mengambil bungkusan kain hitam dari balik baju oranye nya.
                “Kau selalu membawanya..’’ Kara yang duduk tak jauh dari Suzi menatap lekat bungkusan di tangan Suzi. “Ya, karena ini satu-satunya yang bisa mengingatkan aku padanya..” matanya menerawang jauh. Kara kemudian mendekat kea rah Suzi lalu ikut menyandarkan tubuh ke pohon itu. “Orang yang kau tunggu itu?”
“Ehm…” ia menyimpan bungkusan di tangannya kembali ke tempat semula. Rambutnya yang dibiarkan tergerai di belai angin. Sinar bulan merembes mengenai wajah mulusnya, dengan hidung mancung, mata hitam indah dan bibir merah merekah. Tak heran jika pria yang kebetulan lewat sana tak bisa melepas pandang dari Suzi. Namun orang yang dipandang asik dengan pikirannya sendiri. Bukan hanya tentang itu, tapi ada seorang lagi yang terus melekat dalam fikiran Suzi. Seseorang yang lebih dulu ia khawatirkan, ia rindukan, bahkan sebelum ia mengenal Kara dan Ibu Kara yang sekarang menjadi ibu angkat Suzi.
                Kara tak bertanya lagi. Ia juga tak pernah tahu siapa orang yang selalu di tunggu Suzi. Entau wanita atau pria, jika telah sampai waktunya, mungkin ia akan bertemu sendiri dengan orang itu. Tak lama, pikiran Kara kembali terpusat ke pada Ibunya. Sejenak ia berpikir, kenapa harus mencari ke kota? Diantara berpuluh-puluh kampung, kenapa memilih kota sebagai tempat yang diyakini tempat ibunya menyelamatkan diri.
                Suzi membuka mata dan langsung bangkit berdiri.
                “Jangan buang waktu lagi, kita harus segera menemukan ibu.” Kara menyusul bangkit. Langkah pertama yang mereka ambil adalah bertanya pada orang-orang disana perihal ibu mereka. tak tanggung-tanggung mereka juga memperlihatkan lukisan wajah wanita yang dicari itu. Mulai dari jalanan merembet ke rumah-rumah dan penginapan.
                Banyak diantara orang yang Kara dan Suzi temui tidak tahu menahu, atau lebih tepatnya tidak ada yang tahu. Entah karena tidak pernah bertemu dengan ibu mereka atau karena terlalu sulit membedakan wajah seseorang diantara banyak orang saat ini.
               Suasana kian sepi karena pestiva kembang apil sudah usai. Orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Lilin di jalanan pun dimatikan sehingga membuat suasana semakin mencekam.  Kunag –kunang juga tak terlihat berkeliaran seperti malam-malam biasanya. Untungnya bulan bersinar terang menunjukan sebagian tubuhnya pada dunia.
                Tepat dibawah sinar bulan terlihat muda-mudi dengan tatapan putus asa menyusuri rerumputan ilalang setinggi lutut mereka. “Aku anaknya seharusnya aku bisa merasakan kehadirannya.” Kara melepaskan tinjunya pada sebatang pohon pinus tepat di sebelah kanan pemuda itu. Suzi menggeming, membisu dalam diam, membiarkan dirinya seolah angin yang tak melihat ulah saudara angkatnya itu. Ia jelas tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga, terlebih seorang Ibu. Ibu Suzi meninggal saat melahirkan adik perempuannya. Sempat ia marah pada adiknya itu, tapi seiring berjalannya waktu ia sadar. Perasaan sebagai seorang kakak yang membuatnya bisa untuk memaafkannya.
                Kara masih memukulkan tangannya, ia terluka sebagai seorang pria, sebagai seorang anak yang tidak bisa melindungi ibunya sendiri. Apa katan ayahnya di sana jika ia melihat anaknya sebegitu tidak berguna seperti ini. Air mata mulai mengalir dari sudut mata pria itu, bukan hanya air mata, darah di mata tangannya juga mengalir.
                “Hentikan!” Suzi menatap sinis pada Kara, namun Kara tak menggubrisnya. ‘’Aku bilang hentikan!” Ia meninggikan suara bersamaan dengan pria disebelahnya yang menjatuhkan diri menyatu dengan tanah. Tangan Kara masih di genggamkan, tak peduli dengan darah merah yang menyelimuti tangan itu.
                “Apa dengan membuat tangan mu berdarah ibu akan kembali?” Suzi tak mengalihkan pandangannya dari mata kelam Kara. Orang yang di pandang hanya menunduk lesu setelah sempat membalas tatapan Suzi.Tentu pertanyaan itu hanya berupa pernyataan, sesuatu yang tak perlu di jawab sehingga Kara tak susah-susah membuka mulutnya –berbicara. Ia mengangkat tubuhnya, membuat Suzi sedikit terkejut, ‘’Kita cari Ibu ke istana.” Wanita di sampingnya itu hanya mengangguk, ia dapat melihat kesungguhan terpampang jelas pada ekspresi Kara.
                Dengan satu lompatan tinggi mereka berdua dapat menerobos dinding istana yang terbuat dari beton arania itu. Penjagaan istana tak begitu ketak tampaknya, sehingga Kara dan Suzi dapat leluasa menarikan langkahnya di halaman Istana. Ada sebuah kolam, lebih tepatnya menyerupai danau tepat berada di tengah-tengah istana dengan warna dasar merah tua. Ada beberapa pohon persik di sekitar danau, tentu menjadi ciri khas sebauh istana. Karena konon persik adalah symbol kemakmuran dan ketentraman. Dari pintu gerbang sampai seluruh bagian istana di hiasi lampion oranye, membuat istana mencolok dari luar dengan cahaya terang yang menyelimutinya. Begitu indah dipandang dari kejauhan namun tetap saja, tempat ini tak terbuka untuk umum, membuat rakyat biasa hanya meneguk liur untuk menyentuh ornament-ornamen di tempat ini.
                “Cih..jadi ini yang namanya istana. Suatu tempat kotor yang dibangun atas penderitaan rakyat.” Kara menyapukan pandangannya menatap tempat yang begitu luas ini. Suzi meletakan telunjuk pada bibirnya, mengisaratkan pada Kara untuk tak bersuara karena tepat dua meter dari mereka ada beberapa pengawal istana ya ng tengah berpatroli. Spontan kedua orang itu bersembunyi di balik sebuah patung singa tak jauh dari danau.Mereka mulai mengendap-endap untuk melaksanakan tujuan awalnya. Memasuki bilik demi bilik, mulai terlihat suasana istana yang begitu ramai. Di dapur tersedia berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan pokok sampai kue yang tingginya dua depa. Para pelayan istana kebanyakan berasal dari kaum hawa yang rata-rata memiliki faras yang menawan bak bidadari bumi. Mereka bertebaran sesuai tugasnya masing-masing.
                Langkah Kara dan Suzi terhenti pada sebuah aula besar di sebelah barat. Di dalamnya terlihat beberapa orang yang berumur rata-rata di atas setengah abad tengah memperbincangkan sesautu. Hal itu menarik minat kedua pemuda-pemudi itu. Topik awalnya tidak begitu menarik, sehingga hampir saja Suzi beserta Kara beranjak dari aula seluas setengah hektar itu, namun niat itu di urungkan. Mereka mulai memasang kuping kembali saat salah satu orang di dalam menyebut kata Kudo. Suzi terkejut mendengarnya, tak sengaja ia mengeluarkan suara dan membuat orang dalam ruangan menyedari ada yang menguping pembicaraan mereka. dengan cepat mereka keluar, untungnya Kara dan Suzi sudah bersembunyi di tempat lain.
               “Brengsek, jadi pihak istana bersekongkol dengan Raikudo?” seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi, Kara melontarkan pertanyaan pada Suzi. Ekpresi Suzi kali ini tegang, namun tak sampai menutupi kecantikannya. Ia juga tak percaya, “Kita harus member tahu Paman Chu.’’ Suzi tampak menggigit bibirnya.
                “Besok kita kirimkan surat padanya...” Kara sedikit berfikir, “…malam ni kita cari Ibu dulu.”
Mereka bertatapan sesaat sebelum akhirnya berpencar.
***
                “Belum tidur Yoon?” ibu Yui menghampiri Yoon yang sedang duduk di balkon rumah. Yoon sedikit terkejut dalam salah tingkah saat mengetahui wanita itu mendekat ke arahnya.
                “Aku tidak bisa tidur” ia tersenyum sebentar sejurus melemparkan pandangannya lagi ke langit menatap susunan rasi bintang. Ibu Yui memperhatikan lekat wajah anak muda di depannya ini. Hal ini di sadari oleh Yoon, ia kemudian menoleh ke arahnya. Dalam tatapan mata itu Yoon seakan bertanya ‘ada apa’.
                “Jika dilihat dari wajahmu, kau akan sangat cantik, jika kau seorang wanita.” Mata teduhnya menelisik tiap rincian wajah Yoon. Yoon jadi sedikit gugup. Ia kemudian mencairkan suasana dengan tawa kecilnya, “Ya, jika aku seorang wanita..” ia mengkerutkan bibirnya, lalu mengambil nafas dalam. “Ayahku bilang aku mirip dengan ibuku. Tapi sayangnya, aku tidak sempat melihat wajah ibu. Apa dia cantik? Seperti apa kecantikannya?” Yoon seperti hanyut dalam kata-katanya sendiri. “Tapi, aku tampan kan?” Ia melepas tawa yang ia lontarkan biasanya. “Tentu saja, kau sangat tampan.” Ibu Yui membalas dengan kehangatan kata-katanya,
                “Ya, Yoon, kau sangat tampan.” Yui bersandar di bibir pintu, tersenyum aneh membuat mata sipitnya menjadi hilang.
                “Dasar anak ini, sejak kapan kau ada di sana?”
                “Ba..baru saja, bu.” Semburur merah mulai mewarna pria setinggi 174 cm itu, rambutnya yang acak-acakan di biarkan seadanya, ujung kepalanya hampir saja menyentuh ujung pintu.
                “Hei, kau, seharusnya kau bilang bahwa kau lebih tampan daripada aku.” Yoon ikut menatap Yui. Kali ini Yui yang di buat salah tingkah. Lalu dengan kalimat yang belum selesai dan terbata-bata ia kembali masuk rumah. Menhindari hujaman tatapan yang di arahkan padanya. Ibu Yui bangkit berdiri untuk masuk rumah, sebelumnya ia menyarankan Yoon agar tidak terlalu lama di luar. Yoon mengiyakan, selang lima belas menit saat ibu Yui masuk rumah, ia pun menyusul.
Selamat malam ayah. Tidur yang nyenyak, jangan khawatirkan aku.
***
                Suzi memeriksa di sebelah kiri bagunan istana, membuatnya tak sengaja menemui Tsui dan anak buahnya yang mayoritas wanita. Kontan saja, Suzi disergap, ia membalas dengan tatapan sinis.
                “Apa yang menerbangkan bunga mawar sampai kesini..” Suzi menatap tajam kearah Tsu, ‘’Itu bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Tsu yang sedari tadi bersandar pada dinding bangunan, kemudian menegakkan tubuhnya. Dengan ekspresi tenang dan seakan tak ada beban ia semakin mendekati Suzi. “Semenjak kau melangkahkan kaki ke sini, kau menjadi urusanku.” Tatapan yang tak bisa terbaca kembali Tsu lontarkan oada lawan bicaranya. Sementara yang lain hanya diam tak bersuara.
                “Aku tak punya waktu untuk bermain-main.” Suzi mencoba  kabur, namun langkahnya di tahan oleh anak buah Tsu, lima orang wanita dengan baju serempak berwarna hijau. Pertarungan kecilpun sempat terjadi. Tsu hanay menonton, tak ambil adil dalam pertempuran. Kungfu Suzi cukup hebat juga sehingga bisa menghadapi jumlah lawan yang tak seimbang.  Pada serangan penutup, ia menggunakan tenaga dalam yang terkenal dengan sebutan tapak perak bayangan, membuat lawannya terpontang-panting, kesempatan itu ia gunakan untuk kabur.
                Tsu tak juga beranjak dari tempat duduknya ketika melihat Suzi yang semakin menjauh. Dari awal sepertinya pria itu ingin menguji kemampuan Suzi saja.
                Dilain tempat, kara juga sedang berhadapan dengan Bwe Tiau, salah satu dari lima pelindung istana. Tentu kungfunya tidak perlu di ragukan lagi, sejauh ini Kara hanya bisa menghindar dari serangan Bwe tanpa bisa melancarkan serangan balasan. Sempat beberapa kali serangan Bwe kentara mengenai dirinya, membuat tubuhnya berbenturan dengan kerasnya tembok.
                Untung saja tak lama setelah itu Suzi datang, denga  satu kali gerakan ia melemparkan jarum api—tenaga dalam, kepada Bwe. Serangan itu cukup telak juga, Bwe terpaksa menahan jurus Suzi dengan perisai sukma, di saat itu lah Kara kabur dengan jurus peringan tubuh, dan di susul oleh Suzi. Mereka akhirnya keluar dari istana.
                “Kau menemukan ibu? Ucap Kara, nafasnya sedikit tercekat bukan hanya pelarian tadi, tapi juga karena jurus peringan tubuh yang ia gunakan. Tak biasanya Kara menggunakan jurus ini, karena akan berakibat pada penurunan tenaganya. Kalau bukan karena kondisi mendesak, tentu ia akan lebih memilih untuk berlari.
                Suzi menggeleng menanggapi pertanyaan Kara, ‘’Bagaimana denganmu?” kali ini ia yang balas bertanya. Sama seperti Suzi, Kara juga menggeleng, kata terasa sulit keluar dari mulutnya sekarang ini. Lalu dengan suara yang di paksakan ia kembali bertanya, “Lalu, kita harus mencari kemana lagi?” sejurus ia merebahkan dirinya di rerumputan. Posisi mereka saat itu telah jauh dari istana, dan dekat dengan rumah pendudul lebih tepatnya di tanah lapang.
“Entahlah.”
“Jangan-jangan ibu sudah…” ia sedikit pasrah kali ini dengan perkataannya, namun sebelum ia menyambung, Suzi  memotong, “Tidak. Ibu masih hidup, aku yakin itu.”
                Angin malam serasa menyayat persendian, terlebih lagi bagi orang yang tak memiliki rumah seperti mereka.





               
               

Senin, 08 Februari 2016

Around the Land chapter 2

Kara menatap serpihan terakhir rumahnya yang dilalap api. Tempatnya bernaung, semua kenangan yang ada di dalamnya lenyap seketika. Kembali, mata Kara tampak berkilat tajam.
                “Mereka akan membayar semua ini.”
                Langkah kaki terdengar kemudian. “Tak ada yang selamat.” Ucap Suzi.
                “Lalu apa sekarang?” Kara menjatuhkan lututnya menyentuh lantai. Ia sudah kehilangan jalan hidup. Terlebih saat Ibunya  tak tahu ada dimana sekarang.
                “Kita harusmencari ibu, entah kenapa firasatku mengatakan bahwa ibu masih hidup.’’
                Pria disebelahnya hanya diam, Kara lalu meraup butiran pasir. “Kemana kita harus mencarinya..”
                “Ke kota. Satu-satunya tempat yang aman adalah di keramaian. Kurasa kota jawaban yang tepat.”
                Kara hanya mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya berdiri. “Ayo kita pergi”.
****
                Buukk..
                “Mengurus tiga orang peyot saja tidak becus..” ia sukses mendaratkan pukulan ke tubuh anak buahnya.
                “Bukan begitu tuan, dijalan tiba-tiba ada seorang pemuda yang menolong mereka. Ilmu silatnya sangat tinggi..
                BUUKK..
                Komandan mereka memukul lagi, kini lebih keras.
                “Seorang, hanya seoRANG!! Sedangkan kalian berlima. Apa selama ini aku memperkerjakan sampah Hah!”
                “Dia terlalu sakti bagi kami..” Seseorang yang bertubuh lebih kekar dari yang lain dengan perawakan tinggi dan otot yang menonjol  memberanikan diri untuk berucap.
                “Katakan, siapa dia..”
                “Dia bilang, namanya Yoon, pendekar dari Laut Selatan.”
                “Yoon si pendekar laut selatan..” Ia tampak berfikir, “Aku baru kali ini mendengar nama itu. Tapi kalau pendekar Laut Selatan itu adalah Qyu Juqo. Apa Yoon itu sudah tua? Tanyanya lagi.
                “Tidak ia masih sangat muda.”
                “Hmm.. Masih muda ya.” Komandan yang belakangan diketahui bernama Jing Ming itu mengelus jenggotnya. “Seorang anak muda tetapi memiliki ilmu silat tingkat tinggi, ia pasti ada hubungan dengan Qyu Jugo. Tidak bagus kalau berurusan dengan orang itu.” Ia berhenti sejenak, “Kalian semua pergilah, kumpulkan lahi informasi mengenai Twejinggu.”
                “Baik..”
                Kawanan berbaju hitam itu menghilang dengan cepat, meninggalkan pemimpin mereka sendirian, berpegut gemelut dengan fikirannya.
                “Yoon.. Aku akan mengingatnya.”
****
                Kembang api merajai langit malam, ditambah lagi riau-riuh orang-orang yangmemadati kota malam itu. Ada yang asik menawarkan barang dagangannya. Ada yang sibuk melihat-lihat. Ada juga yang mempertontonkan aksi silatnya untuk mendapatkan Zara.
                “Jadi ini yang namanya kota seperti yang diceritakan Nona Xiao Jie.Wah, orangnya banyak sekali.” Yoon tampak melihat-lihat, jubah hitamnya ia tanggalkan di lenngannya agar dapat berbaur dengan yang lain. Matanya tertuju pada tumpukan buah persik yang mengingatkannya dengan tempatnya berasal. “Ayah maafkan aku.”
                “Hah.. Sudah kubilang ini daerah kekuasaanku.” Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya membuat suatu perkara.
                “Kurang ajar, kau hanya memutuskan secara sepihak.”
                “Kalau begitu kita tunjukkan mana yang terkuat.” Tanpa basa-basi pria itu menendang lawan bicaranya.
                Semua aktifitas lain terhenti. Orang-orang tengah memperhatikan kedua pria itu bertarung. Diantara gerombolan itu, terlihat Yoon juga menonton.
                ‘’Ternyata ini benar-benar kota..” Ia menggelengkan kepala spontan kemudian berlalu pergi menuju kedai makanan. Cukup sederhana dengan meja dan kursi kayu yang tergores oleh pedang. Menjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian.enjadi saksi bisu bahwa tempat ini juga sering terjadi perkelahian. Benar saja selang beberapa menit setelah pesanan Yoon disajikan, tengah terjadi pertarungan sengit di kedai itu. Cuma berhalat beberapa buah meja dari tempatnya duduk. Pelanggan yang lain menjauhkan diri sementara Yoon tetap dikursinya, tak bergeming sedikitpun. Ia asik sendiri dengan mie tiram panas di hadapannya. Sesekali beberapa buahpiring melesat ke kepala pemuda itu. Namun, ia dapat menghindari tanpa menoleh kepiring itu. Usai makan Yoon berlalu pergi dengan meninggalkan beberapa lembar uang di meja.
                “Kenapa orang di kota suka sekali bertarung..” Gumamnya heran, karena ini pertama kalinya ia ke kota, lebih tepatnya pertama kalinya ia melihat dunia luar.
Degub
                Seseorang menabrak Yoon.
                ‘’Maafkan aku..Maafkan aku..Aku memang bodoh, aku memang bodoh..” Ucap orang itu sambil membungkuk beberapa kali.
                Yoon tampak heran, lalu sedikit menyeringai, “Tidak papa, kau tidak perlu menyalahkan dirimu segitunya...”
                “Tidak, aku memang bodoh, itulah yang selalu mereka katakan kepadaku..”
                Mendengar itu Yoon hanya mengerutkan bibirnya.
                “Lalu kalau aku katakan kau kambing, maka kau akan menganggap dirimu kambing? Heih, dasar aneh..”
                “Ya, aku aneh..”
                “Aneh..Aneh..Aneh..”
                “Ya..Aku aneh..Aku aneh..Aku aneh..”
                Apa-apaan orang ini, apa kalau aku katakan ia kambing ia benar akan merasa dirinya kambing?
                “Kau memang benar-benar aneh Ya.. Sini kepalamu..’’
                Pria itu memegangi kepalanya. “Ada apa dengan kepalaku?’’
                “Aku akan memeriksanya, apakah sarafmu ada yang terkilir..” Yoon kemudian mendekat.
                “Memangnya bisa?”
                “Ah. Tenang saja. Aku ahli dalam hal-hal seperti itu, sini!”
                Ia mendekat, tapi Yoon bukannya memeriksa kepalanya malah memukul kepala orang itu.
                “Aduhh.. kenapa kau memukul kepalaku?”
                “Mengobatimu. Nah mulai sekarang kau akan kembali normal.”
                “Uhm, benarkah?” Ia tampak berfikir.
                Yoon menepuk bahu pria itu “Tentu saja, siapa namamu?”
                “Namaku Yui, tapi orang-orang biasa menyebutku bodoh.”
                “Ah lupakan itu, aku akan memanggilmu Yui dari sekarang.Namaku Yoon.”
                “Yoon artinya perisai kan?”
                “Binggo, tapi bisa juga diartikan pelindung. Nah kau mengerti bahasa Tylame, berarti kau tidak bodoh.”
                Yui hanya tertawa. Mereka kemudian berjalan pelan. Yoon sedikit menggamit tangan Yui, seakan meyakinkan Yui sesuatu.  “Kalau mereka masih saja memanggilmu bosoh, pukul saja kepala mereka seperti ini.” Yoon meninjukan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kirinya.
                Yui menunduk, memandang jalan bebatuan yang mereka pijak. “Aku tidak berani.” Suaranya terdengar sangat lemah sampai Yoon dibuat geram karenanya. Yoon menatap mata Yui lekat, mencari kebenaran dibalik mata hitam legam itu. ‘’Kenapa harus takut?itu salah mereka juga kan? Emangnya kau tidak bisa kungfu?’’ pemuda berbaju coklat itu meninggikan suaranya.
                “Aku tidak bisa.’’ Ungkap Yui enteng, Ia sempat menendang sebuah batu kecil yang hampir mengenai kaki orang lain yang berada di tempat itu. Sebuah kota yang kebetulan tengah mengadakan pesta kembang api. Jadi tak usah heran jika tempat ini jejal di penuhi oleh  orang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, tengah baya, sampah orang tua tak ketinggalan.
                Yoon tertawa getir. Baru kali ini ia bertemu dengan pemuda sepolos ini. Apalagi mengangkut masalah kebisaannya dalam kungfu. Biasanya orang akan mati-matian menutupi bahwa ia tidak bisa menggunakan kungfu. Terlebih kepada orang yang baru dikenal. Tidak menutup kemungkinan, kejujuran seperti itu dapat membahayakan nyawa sendiri.
                “Fuuh.. dengan kungfu kau bisa melindungi dirimu dan orang lain. Kenapa kau tidak ingin belajar kungfu hah? Kalau begini lidahku jadi gatal ingin mengataimu bodoh!..” ia menatap tajam pada pemuda disebelahnya. Yui masih menunduk, membuat separuh wajahnya tertutupi oleh rambut. Ia kemudian berhenti, mendongakkan kepala menatap langit hitam yang saat ini dipenuhi oleh kembang api. “Ayahku mati…” ia memejamkan matanya, mengingat kejadian dua belas tahun silam. “Saat itu desa kami diserang oleh kelompok berjubah hitam. Mereka bahkan tak membawa senjata, tapi entah kenapa dari jarak jauh mereka bisa menjatuhkan orang-orang dewasa pemberani yang mencoba melawan. Aku sangat heran, mata kecilku mencoba memperhatikan dengan seksama kalau-kalau mereka menggunakan senjata rahasia. Tapi ayahku bilang itu adalah tenaga dalam—kungfu. Mendengarnya membuatku semakin heran, kata kungfu tak pernah ku dengar sebelumnya. Apa sebenarnya kungfu itu? Dan aku yakin semua warga di desa juga tidak tahu. Setelah mengatakan itu, ayahku tersenyum sebentar, menatapku dalam, seakan ada pesan yang ia sampaikan lewat tatapannya. Setelah mengelus kepalaku, ia pergi menghampiri orang-orang berjubah hitam itu. Ayah dan mereka sempat berbincang sebentar, dari balik jendela rumah aku tak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan, selain kata ‘Zynju’. Perhatianku teralihkan oleh pemandangan yang membuat mataku terbelalak. Ayah dan para penjahat saling serang, tak hanya adu pukul, beberapa kali ada semburat ungu dan merah menyelingi pertarungan mereka. ayahku melayang seakan berdiri di atas angin. Lalu dengan sigap ia merapalkan tangan di depan dadanya. Dalam satu tarikan nafas, muncul cahaya kebiruan yang memajang sehingga mengenai para pria berjubah hitam itu sehingga membuat mereka tumbang. Ayah menginjakkan kakinya ke tanah lagi. Itu adalah keputusan terburuk yang pernah ayah lakukan, salah satu dari mereka menusukkan belati perak tepat ke jantung ayahku. Ayahku mati. Sekarang aku tahu satu hal tentang kungfu, kungfulah yang membawa ayah ke kematiannya. Aku sempat ingin mempelajarinya untuk membalas dendam ayah, tapi ibu melarangku. Ia bilang tak ingin kehilanganku seperti ia kehilangan ayah.”
                Dalam hati Yoon tergugah mendengar cerita Yui. Tapi tetap saja menurutnnya seseorang harus bisa menguasai kungfu, setidaknya untuk penjagaan diri. Ia sempat ingin membujuk Yui atau lebih tepatnya memaksa. Namun entah kenapa niat itu ia kubur dalam-dalam. Karena yang menyuruh Yui untuk menjauhi kungfu bukan berasal dari diri Yui sendiri tapi dari ibunya.
                Yoon menarik nafas panjang. “Ah..kasian sekali kau. Aku juga sudahkehilangan ibuku. Dan ayahku, ia sangat menyebalkan’’. Ia mengerutkan ujung bibirnya. Yui spontan menatap Yoon. “Eh..kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Bagaimanapun dia itu ayahmu.” Yoon tak begitu menanggapi, ia memutar bola matanya. “Ya..ya..ya..tuan yang baik. Lalu sekarang kita mau kemana..?”
                Yui memicingkan matanya, lalu tiba-tiba tersenyum aneh. “Aku akan memperkenalkan kau dengan ibuku. Dia adalah wanita tercantik di dunia..” orang disebelahnya mendengus kecil, “Ha.. aku tidak sabar menemuinya.’’
                Seperti yang dikatakan Yui mengajak Yoon menemui ibunya. Yui bilang ibunya menjual buah persik tak jauh dari sana. Kembang api masih meletup-letup di langit. “Sebenarnya benda di atas sana apa?” kali ini Yoon yang tampak seperti orang bodoh. Ia mengacungkan telunjuknya pada kembang api yang bersinar warna-warni. “Tentu saja itu kembang api. Bukankah ini pestival kembang api.”
“Tidak ku sangka aku bisa melihatnya, dari dulu aku sangat menunggu hari seperti ini.” Yoon bergumam pelan membuat Yui mendekatkan telinganya. “Apa yang kau katakan..” Balasnya. “Tidak ada.” Yoon mempercepat langkah melewati kerumunan orang.
‘’Ma..maafkan saya tuan, tapi saya belum punya uang..’’ wanita tua itu bersimpuh memeluk kaki seorang pria berbaju biru kelam. Dagangannya diobrak-abrik oleh beberapa orang, dari pakaiannya dapat dipastikan bahwa mereka prajurit istana. Kecuali pria yang dipeluk kakinya oleh wanita tua tadi.
                Hal itu menarik perhatian Yoon, ia mematung sesaat sebelum panggilan Yui menyadarkannya. “Hei..Yoon, kau cepat sekali.’’ Pandangan Yui teralih pada wanita tua itu lalu berlari ke arahnya. “Ibu..apa yang terjadi?” ia mengangkat tubuh ibunya untuk berdiri. ‘’Ada apa ini bu?’’ Yui terlihat sangat panik, namun ibunya masih belum bisa menjawab pertanyaan putranya itu.
                Yoon menyusul, “Apa yang kalian lakukan, apa kalian tidak malu melawan wanita yang tidak berdaya?!” Ia mengacungkan mata kea rah prajurut istana.
                Atasan mereka yang belakangan di ketahui bernama Tsui menjadi lawan Yoon berbicara. Pembawaannya tenang, tapi dimatanya terlihat jelas kharakter aslinya. ‘’Wanita ini tidak membayar pajak istana.’’ Jawab orang itu, singkat padat dan ringkas. Yoon menimpali, “Bukankah pajak bisa di bayar nanti, mungkin saat ini ibu itu lagi tidak mempunyai uang.”
“Kalau dibiarkan, kas istana akan kosong.” Orang-orang semakin merapat, kembang api tak lagi dihiraukan.
“Apa kas Negara hanya di dapat dari sektor pajak saja hah?! Bukankah masih banyak lagi. Hasil penjualan rempah-rempah, perekrutan prajurit, deposito pejabat. Bukankah istana seharusnya menjamin kesejahteraan rakyatnya? Apakah ini yang dinamakan prajurit istana? Hanya sampah yang bisanya menindas kaum lemah..”
Orang yang menonton dapat menangkap maksud Yoon dan tampak mendukungnya. Tsui hanya meneguk liur, ia kemudian bersama para prajurit kembali ke istana. Kerumunan pun bubar, menyisakan Yoon, Yui dan ibunya.
“Anda tidak papa?” Yoon ikut memegangi wanita paruh baya yanga tak lain adalah ibu Yui.
“Terimakasih anak muda.” Wanita itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang sedikit kehitaman. Yoon membalas senyumnya. Tinggi Yoon hampir sama dengan ibunya Yui, fosturnya tak berotot lebih terlihat seperti tubuh seorang waanita. Sementara Yui memiliki tubuh tinggi dengan perawakan tegap, tinggi Yoon sendiri hanya sebatas leher Yui. Tapi sayang nyalinya ciut.
Yui mengambil alih pembicaraan, ‘’ini teman Yui, namanya Yoon. Ia memang sangat baik bu.” Kembali, Yui tersenyum aneh. “Orang tuamu pasti bangga memiliki putra seperti mu..” wanita itu menepuk pundak Yoon. Orang yang ditepuk hanya cengengesan.
Kenapa mereka berlebihan sekali, padahal aku hanya berbicara sedikit. Dasar keluarga aneh
“Dari mana asalmu nak..” Tanya ibu Yui lagi.
“Aku berasal dari sebuah pilau kecil di selatan. Saat ini aku sedang dalam perantauan.” Ia meraih sebiji persik yang terjatuh ke tanah, lalu meletakan di atas meja dagangan wanita itu. Yui dan ibunya melakuan hal yang sama, merapikan buah-buahan yang dihamburkan oleh prajurit istana tadi. “Begitu rupanya, kalau tidak keberatan, tinggalah di rumah kami.
Ohoho aku sangat tidak keberatan.
“Tidak usah bu, aku tidak ingin merepotkan. Lagipula disini banyak penginapan.” Yoon pura-pura menolak, ia menunjuk sebuah rumah yang ia pikir adalah penginapan, padahal lumbung padi. Yui dan ibunya tertawa kecil, membuat Yoon sedikit bingung, “Apa kau akan menginap di lumbung padi?” ejek Yui. “Setiap pestival  kembang api, penginapan selalu penuh.” Masih dengan senyum anehnya, Yui mencoba meyakinkan temannya itu. “Tidak apa-apa nak, tinggalah sebentar di rumah kami. Meski sederhana akan lebih  baik daripada tidur di luar..” dengan lembut ibu Yui mengusap bahu Yoon.
“Baiklah kalau begitu..”
                Mereka berdua mengangguk.
                Di kanan kiri masih ramai orang lalu lalang, sementara kembang api sudah tak lagi menyala di langit, menyisakan bintang yang tenang.



IT'S ME

IT’S ME Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat...