Aku terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat. Pada hari yang hebat. Bersamaan dengan itu, sebuah tempat yang hebat pula –Kolong Jembatan. Dan yang lebih hebatnya lagi, aku tidak tau siapa ayahku. Setiap kali aku bertanya pada Ibu, ia hanya tersenyum, menampilkan keriput yang semakin hari semakin menghias wajahnya. Aku tahu ia lelah, mengumpulkan barang bekas, untuk menghidupiku dan kakak lelaki ku, Jono. Tapi aku lebih suka menyebutnya John, dengan harapan ia mencadi orang sekuat Criss John, petinju kelahiran Indonesia yang memenangkan pertandingan tinju dunia.
John tidak seberuntung anak yang lain, ia menderita tetanus sejak kecil atau bahkan penyakit itu sudah di deritanya saat masih di dalam kandungan. Tentunya dengan penghasilan Ibu Rp. 5.000- perhari, membuat kebetuhan gizi John tidak dapat terpenuhi. Ia lumpuh total, tak ada satupun anggota gerak atas atau bawah yang bisa di gerakkan, kecuali otot pernafasan dan otot disekitar rahangnya. Itulah sebabnya, sampai sekarang John masih bisa melihat dunia ini. Walau setiap harinya, setiap detik dalam hidupnya ia hanya berbaring di atas tumpukan kardus, yang kami sebut sebagai kasur. Ibu, tak henti-hentinya juga merawat adik lelakiku itu, menyuapinya saat makan, membersihkan tubuhnya sampai mencebokinya. Kadang ada pertanyaan besar di dalam hatiku, kenapa ibu tak pernah lelah bahkan bosan. Kenapa ibu tak mengembalikan John ke sisi Tuhan. Hanya dengan menutup hidung John, maka ia akan mati. Terlepaslah salah satu beban terbesar dalam hidup Ibu. Lagi pula tidak ada yang tau juga bahwa Ibu yang membunuhnya. Hanya tinggal mengatakan John mengalami komplikasi jantung atau apa orang pasti akan percaya. Terlebih lagi, orang tidak akan peduli dengan nasib kaum rendah seperti kami. Contohnya saja, media tak pernah meliput seputar kehidupan kami, bagaimana kami menjalani hari-hari berat ini, seberapa banyak rekan kami yang mati karena kelaparan, atau bagaimana kami bisa makan setiap harinya. Kalau sudah berhubungan hal semacam itu, public seakan tutup mata dan telinga. Kalau saja sesuatu yang berhubungan dengan pejabat atau artis, mereka seakan kesetanan. Saling berebut hanya untuk menanyakan suatu pendapat tentang hal kecil, tentang alasan sebuah perceraian contohnya. Mereka mati-matian untuk menutupi urusan rumah tangganya, tapi kalian juga mati-matian menguak semua. Apa kalian sadar mereka tidak ingin kalian mengetahui semua itu? Lalu kenapa kalian tidak menguak kehidupan kami saja? Kami akan dengan senang hati menceritakan pada kalian, seberapa inginnya kami diketahui oleh kalian, Kami ingin kalian mengetahui penderitaan kami disini. Atau permintaan yang lebih sederhananya kami ingin kalian akui. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang-orang seperti kami hanya di pandang sebelah mata. Dimana mata kalian yang satunya? Apa mata yang satu itu akan aktif menjalankan fungsinya sebagai indera penglihatan saat berhubungan dengan uang, pangkat atau jabatan? Menyedihkan.
Ah, lupakan tentang keluhanku tadi. Aku terlalu terbawa emosi mengungkapkannya. Kalian akan dengan sendirinya sadar. Bahwa dimana ada cahaya –Tempat Kalian Tinggal pasti akan ada bayangan yang menyertainya –Tempat Kami. Kalau tidak sekarang, nanti. Kalau bukan kalian, maka anak-anak kalian. Dan kalau bukan anak-anak kalian juga, cucu kalian. Akan selalu ada harapan, aku percaya itu.
Setiap pagi sampai jam dua belas aku membantu Ibu mencari nafkah dengan menjadi tukang semir sepatu disalah satu sekolah dasar. Setelah itu aku akan menuju ke tempat pembaungan sampah terbesar di kota kami untuk menemani ibu mengumpulkan barang bekas. Jadwal yang terlalu sibuk untuk anak yang baru berusia 7 tahun.Sekilas aku merasa seperti seorang ayah. Meski dengan tangan kecil ini tak begitu banyak membantu orang yang telah melahirkan ku itu. Dan malamnya, aku akan mengajak John berbicara. Memperbincangkan tentang segala hal, mode yang sedang trend saat ini, masalah social di masyarakat, bahkan tentang pemilu berdasi. Itu sebutan kami untuk pemilu yang menggunakan system sogok. Yang melakukannya adalah orang-orang yang berdasi, para terpelajar, sarjana hukum. Tapi bahkan mereka tak bisa mengamalkan isi UUD 1945 tentang pemilu Luber jurdil –Langsung Umun Bebas Rahasia, Jujur dan Adil. Apa mereka mempelajari pengetahuan hukum yang terlalu mendalam sampai lupa dasarnya? Aku bahkan telah mendengar istilah itu ketika umurku baru 5 tahun, saat tak sengaja melintas di depan ruang kelas empat SD. Kalian tidak berlaku adil artinya kalian juga tidak mengamalkan sila yang pertama Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
John hanya tertawa saat aku mengoceh seperti itu. Ia tak pernah merespon ucapanku. Atau yang lebih tepatnya lagi, Ia memang tidak bisa berbicara. Tertawa yang aku maksud tadipun hanya sebatas ia memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam. Meskipun begitu aku sudah cukup tenang, ada orang yang mendengarkan perkataanku. Kalau aku katakan topik ini pada orang yang berdasi, bisa-bisa aku dituntut atas nama pencemaran nama baik. Terlalu mudah bagi mereka untuk bermain-main dengan hukum. Hanya tinggal mengedipkan sebelah mata dan uang gepokan maka aku akan benar berada di penjara. Terlalu sulit untuk mencari keadilan dinegeri ini. Disatu sisi aku bangga menjadi bagian dari negeri yang memiliki bermacam-macam budaya, bahasa, suku, dan sumber alam yang berlimpah. Aku sering tersenyum sendiri saat mendengar ada anak Indonesia yang memenangkan Olimpiade Fisika dunia. Saat Indonesia diakui oleh bangsa asing sebagai Negara terramah. Aku girangnya bukan main, karena aku juga bagian dari Indonesia. Itu artinya mereka mengakuiku. Tapi disisi lain aku sangat kecewa. Kecewa dengan pemerintah yang membiarkan sumber daya kita dikelola oleh pihak asing, secara tidak langsung sebenarnya kita dijajah. Kecewa dengan buruknya system pemerintahan. Korupsi dimana-mana, sogok merajalela, dan system nipotisme yang terus hidup. Buruknya system itu menyebabkan perut kosong. Dalam artian luas apabila perut kosong, maka orang yang awalnya baik bisa jadi sangat jahat. Terjadi perampokan yang tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi pembunuhan. Maka saat itu berlakulah system rimba, yang kuat yang berkuasa. Yang lemah tetaplah menjadi terpinggirkan. Hidup seperti tidak hidup seperti sekarang ini. Bukankah syarat hidup yang baik adanya keseimbangan antara gerak, istirahat, dan refresing. Sekarang yang kami tanyakan, apa pergi ketempat pembuangan sampah bisa dikatakan refresing? Atau para nelayan yang menangkap ikan dilaut setiap harinya juga bisa dikatakan refresing? Kalian beruntung pada waktu tertentu bisa berlibur bersama keluarga ke pantai, kegunung, atau wahana permainan. Kalian dapat merasakan hakikat refresing yang sebenarnya. Tanpa harus ambil pusing tentang kehidupan orang-orang terpinggir di luar sana.
Tak terasa air mataku keluar. Dan kurasa John menyadarinya, Ia dengan suara tak jelas seperti mengatakan sesuatu.Suaranya bahkan lebih tak jelas dari sebuah dengkurab. Aku yang seakan mengerti maksud John yang sebenarnya, hanya mengatakan bahwa mataku kemasukan debu. Tapi kurasa itu tak berhasil. Karena John termasuk dalam daftar salah satu orang yang tak bisa kubohongi. Selain ibu tentunya. Dan mungkin juga ayah. Kalau saja ayahku ada di sini. Aku tak pernah melihatnya, apa dia adalah pria yang tinggi dengan urat kekar di tangannya sebagai tanda seorang pekerja keras. Ataukah tergolong orang berdasi yang sedari dulu aku bicarakan di depan John. Aku bahkan sering berpikir tentang kehidupan Ibu semasa ayah masih ada. Mungkin saja dulu kami adalah orang terkaya di kota ini. Rumah ada di ke 34 Provinsi di Indonesia. Memiliki beberapa buah mobil Ferrari dan Lamborghini. Lalu pada saat telah mencapau puncak ke suksesan itu, tiba-tiba ayah sakit. Semua asset kekayaan dijual untuk mengobati penyakitnya. Akhirnya pada saat yang tak menguntungkan ayah meninggal saat ibu mengandungku. Dan jadilah hidup kami yang sekarang ini. Mungkin sajakan?
Aku terus menanyakan hal itu pada Ibu. Baik pagi, siang, sore, malam. Entah karena beruntung atau Ibu sudah bosan mendengar pertanyaanku yang sama, ibu mengatakan semuanya. Ya, semuanya. Hatiku terasa perih saat mendengar itu. Bahkan sebagian dari diriku menolaknya. Ayah bukan orang seperti itukan? Ibu hanya berbohong agar aku tidak bertanya lagi kan?
Tangisku kian deras. Ibu lalu memelukku sambil mengusap kepalaku. Ibu juga mengatakan itulah sebabnya, ia merahasiakan itu dariku. Tak biasanya aku menangis seperti ini. Mengetahui bahwa ayahku hanya seorang pemabuk, penjudi, perampok, dan hal bejat lainnya, membuat hatiku terkoyak. Seberapa kali aku memikirkan tentang ayah dulu dengan berbagai perspeksi yang berbeda, aku tak pernah terpikir untuk ini. Kadang kenyataan memang sangat menyakitkan. Bahkan untuk anak seusiaku yang seharusnya tak tahu menahu tentang semua ini. Seorang anak hanya diwajibkan untuk tersenyum. Karena ini memang sudah garis tangannya. Tapi mungkin untuk beberapa anak ada pengecualian.
Kali ini aku yang melihat ibu menangis terisak. Membuat perasaanku yang sudah berkeping-keping menjadi semakin hancur. Ini tak biasanya, Ia menangis di depanku, tidak juga pada John. Ibu lebih sering menangis di sisi kolong jembatan yang lain. Sengaja agar kedua putranya tidak mengetahui rasa sakitnya. Atau lebih tepatnya tidak membiarkan putranya tertular rasa sakit. Meskipun begitu aku sering diam-diam mengikuti Ibu lalu setelah itu kulihat dia menghempaskan diri ke tanah. Ibu menangis. Matahari terbitku itu menangis.
Pernah sekaliI Ibu memergokiku mengintipnya. Dan secara tak langsung aku dapat melihat mata sembab itu terlihat merah dan berair. Ibu sangat marah padaku. Aku bertanya padanya kenapa Ia harus marah hanya karena aku melihatnya menangis. Ibu tetap saja marah tak menjawab pertanyaanku. Sekarang aku mulai mengerti apa alasannya. Itu sama saja ketika kau melihat bagian tubuh orang lain. Sesuatu yang harusnya di tutupi.
Kadang ada bebrapa hal yang tidak dapat kumengerti. Tidak untuk sekarang. Tidak pada usia ini. Semua perasaan yang menyeruak di dalam hati, hanya aku pendam begitu saja. Kadang ada beberapa keberanian untuk menceritakannya pada John. Mungkin ini satu-satunya jalan keluar untuk saat ini. Tak peduli seberapa banyak yang kuceritakaan, John hanya diam. Itu juga yang menjadi alas anku berani untuk mengungkapkannya.
Jika tak begitu, aku hanya perlu merenung sendirian di tepi sungai Cimari, memperhatikan warna air yang kuning keruh. Yang bahkan tak suka dipandang oleh kebanyakan orang, apalagi sampai digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, setidaknya itu bagi kami, baik mandi, mencuci, buang air, bahkan dijadikan air untuk minum semuanya dari sungai itu. Bisa dikatakan sungai adalah anak Tuhan bagi kami. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan jutaan bakteri yang terkandung di dalamnya, atau tentang standart kelayakan untuk digunakan. Kalau ditanyakan layak tidaknya, sudah pasti tidak layak 100% bahkan 1000%. Setidaknya air disungai itu, bisa di dapatkan secara gratis. Tidak perlu merogoh kocek untuk mendapatkannya. Tidak seperti orang berada yang bisa membeli air bersih sepuasnya dengan harga yang terbilang murah bagi mereka. Rp. 5000- pergalon. Tidak untuk kami, jika kami memaksakan untuk membelinya, dengan penghasilan RP. 5000- perhari itu artinya kami harus merelakan untuk tidak makan sehari itu. Sungguh bayaran yang tidak sebanding.
Jika bisa berharap, permintaan ku tidak muluk-muluk. Hanya sebuah permintaan sederhana untuk dapat hidup sederhana. Yang penting setiap hari kami bisa makan, tak usalah makanan harga lestoran. Cukup nasi dan lauk seadanya. Lalu yang kedua, aku ingin bersekolah, aku harap John juga. Meski harus jalan kaki setiap harinya, tak meminta kendaraan mewah, gadget, playstation, dan barang-barang yang bahkan tak berani kuhayalkan.
Dan yang terakhir, aku ingin ibu selalu bahagia dan tetap sehat. John bisa sembuh dan bisa bermain seperti anak lainnya. Cukup itu saja Tuhan. Aku tak berani untuk meminta lebih. Dapat memimpikannya saja dalam tidur sudah merupakan anugrah teramat besar. Terlepas dari semua itu, aku percaya semua yang Engkau rencanakan adalah hal yang terbaik bagi kami. Seperti kata pepatah. Apa yang engkau cintai kadang tidak baik bagimu, dan apa yang engkau benci adalah yang terbaik untukmu.